Jumat, 02 Februari 2018

Lebam

ada lebam di wajahku
dan semua orang memandangiku
ada yang menertawakanku
ada yang menghinaku
ada yang mengasihaniku
ada pula yang kemudian berpaling,
tak menghiraukanku

kusadari, senja tak kunjung menghampiri
diri ini tak sanggup lagi berdiri
ingin segera pergi, namun rasanya
masih terlalu dini tuk akhiri hari

di persimpangan jalan,
kutemui seorang nenek berkerudung surban
duduk, beratapkan langit beralaskan kertas koran
menarik lengan kananku seraya membisikkan:

"tenanglah nak, tidak ada yg perlu dikhawatirkan.."
"karena lebam ini tidaklah bertahan,
kecuali kan hilang dengan perlahan."

Sabtu, 27 Januari 2018

Mengeluh


Sederhana saja. Di tulisan ini, saya akan menuliskan sebuah alasan yang akan membuat kita tidak akan lagi menuliskan berbagai keluhan ataupun kelemahan-kelamahan kita di publik (khususnya media sosial). Alasan yang akan saya tuliskan ini didorong dari sebuah kisah yang terjadi pada masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Klasik memang. Tapi, sangat kaya akan pelajaran. Kisah tersebut adalah asal-usul munculnya sunnah Roml (berlari-lari kecil di tiga putaran pertama tawwaf).



Sunnah Roml adalah sebuah kegiatan (ibadah) yang kita lakukan ketika sedang melakukan tawaf, yaitu berlari-lari kecil di tiga putaran pertama dari mulai Hajar Aswad hingga Rukun Yamani. Sungguh, sebuah kegiatan yang sangat sederhana. Tapi, apakah kalian tahu sejarah di balik kegiatan ini? Sebelumnya, silakan perhatikan gambar di bawah ini:

Sejarah dari kegiatan ini mengisahkan tentang umat muslim yang hendak melakukan tawaf di Masjidil Haram dan orang-orang Mekkah yang seringkali menyinyir umat muslim. Umat Muslim sama-sama kita ketahui memiliki “basecamp” di sebuah kota yang bernama Madinah, atau dulu (sebelum diubah namanya oleh Rasulullah) dikenal dengan nama Yastrib. Kota ini, kita tahu, sangat dikenal sebagai Kota yang berpenyakit. Penyakit tersebut dikenal dengan nama “Demam Yastrib”. Tidak sedikit orang yang menderita penyakit ini, bahkan dalam sejarah, sosok Bilal Bin Rabah hingga sosok Abu Bakar Ash Shiddiq pernah menderita demam yang amat tinggi ini, hingga kemudian Rasulullah mendoakan kesembuhan atas mereka dan mereka akhirnya sembuh (qadarullah).

Dulu, ketika umat muslim hendak melakukan tawaf, para penduduk Mekkah seringkali menyinyir umat muslim dengan sebutan “orang-orang penyakitan”, tentu saja kalimat tersebut keluar dikarenakan umat muslim tinggal di Kota Yastrib. Mungkin kasarnya, jika dikonversi ke kalimat hari ini, kurang lebih mereka berucap:

“tuh! lihat orang-orang penyakitan mau tawaf.”

“paling cuma beberapa putaran mereka sudah loyo.”

Melihat, fenomena tersebut, Rasulullah berinisiatif untuk menunjukkan kepada mereka bahwa umat Muslim ini kuat. Maka, Rasulullah menyuruh umat Muslim untuk berlari di 3/7 putaran tawaf alias di tiga putaran pertama. Uniknya, berlari di tiga putaran ini tidak dilakukan terus menerus, melainkan hanya dari titik start, yaitu lurusan Hajar Aswad, hingga ke titik Rukun Yamani. (bisa dilihat pada gambar di atas)

Pertanyaannya: kenapa demikian? Kenapa tidak sekaligus berlarian dari titik Hajar Aswad hingga kembali ke titik Hajar Aswad?

Karena Daarun Nadwah (kotak yang diarsir) itulah tempat berkumpulnya para penduduk Mekkah (khususnya para petinggi Quraisy). Daarun Nadwah merupakan sebuah tempat yang, mungkin di hari ini, bisa disebut dengan nama “Majelis Permusyawaratan Quraisy” pada saat itu. Maka, dari titik Hajar Aswad, ke Hijr Ismail, hingga ke Rukun Yamani adalah sisi-sisi yang bisa terlihat dari Daarun Nadwah, yaitu tempat berkumpulnya musuh-musuh umat Muslim. Sedangkan dari titik Rukun Yamani ke Hajar Aswad merupakan sisi yang tidak dapat terlihat dari Daarun Nadwah karena sisi tersebut tertutup oleh Ka’bah. Gimana? Sudah paham?

Ya, sesederhana itu.

Apa hikmahnya? Mari sama-sama kita lihat big picture-nya. Rasulullah ingin kita menunjukkan sisi kekuatan kita di hadapan orang lain (khususnya musuh-musuh kita), bukan justru menunjukkan kelemahan-kelemahan kita. Kita buat musuh-musuh kita ataupun orang-orang yang melihat kita beranggapan bahwa, “Goks abis ini orang gaada matinya!”, meskipun kita sama-sama tahu bahwa kita juga manusia yang tak luput dari rasa lelah. Maka, mari kita simpan dan kita tutup segala bentuk kelemahan kita. Kita tunjukkan segala bentuk kekuatan kita, meskipun seketika kita masuk ke dalam kamar, kita langsung terkapar tak berdaya (karena lelah).

Lalu, apa sejatinya yang kita dapat dari cuwitan-cuwitan keluh kesah kita di media sosial? Cukup sudah, jangan gunakan media sosial jika itu hanya akan menunjukkan kelemahan-kelemahan kita. Karena remaja atau pemuda sejatinya adalah satu-satunya kekuatan yang kita miliki di antara dua kelemahan kita. Kita lemah ketika masih menjadi anak kecil dan kita akan menjadi lemah kembali kelak ketika kita sudah tua. Di masa muda ini lah kita dianugerahi kekuatan, baik secara fisik maupun ilmu. Namun, itu semua terbatas oleh waktu. Kita sadar bahwa suatu saat kekuatan fisik dan ilmu kita akan melemah. Maka, keputusan ada di tangan kita, bagaimana kita akan memanfaatkan waktu muda ini. Sebagaimana firman Allah:

[30:54] Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat nasihat yang pernah Nabi sampaikan kepada Abdullah Bin Abbas:

“Ketahuilah, jikalau seluruh umat (manusia di muka bumi) ini sepakat untuk memberimu kebaikan (manfaat), mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali kebaikan (manfaat) itu sudah ditakdirkan menjadi milikmu. Dan sebaliknya, ketahuilah, jikalau seluruh umat (manusia di muka bumi) ini sepakat untuk membahayakan (mencelakai) dirimu, hal itu tidak akan pernah terjadi kecuali bahaya (kecelakaan) itu memang sudah ditakdirkan menimpa dirimu.”

Bayangkan, kalimat di atas merupakan sebuah kalimat yang disampaikan Rasulullah kepada seorang anak kecil pada saat itu, yaitu Abdullah Bin Abbas. Bagaimana tidak kokoh anak-anak muda di zaman Nabi? Maka, tidak salah jika mereka ketika mudanya banyak yang capable untuk menjadi pemimpin.

Maka, sudahlah. Tidak perlu lagi bersikap terlalu khawatir ataupun terlalu takut akan suatu hal. Tidak perlu lagi khawatir tidak dapat pekerjaan. Tidak perlu lagi takut jodoh kita diambil orang lain. Tidak perlu lagi takut kepada dosen pembimbing. Atau apapun lainnya. Karena kebaikan apapun tidak akan menjumpaimu, kecuali itu sudah ditakdirkan untuk menjumpaimu. Dan kecelakaan apapun tidak akan pernah menimpamu, kecuali itu sudah ditakdirkan untuk menimpamu. Dan apapun yang menjumpaimu ataupun menimpamu tidaklah terjadi karena suatu alasan, kecuali membuatmu menjadi lebih baik.

Tulisan pertama di tahun 2018.
Ditulis di Jogjakarta tercinta, 27 Januari 2018.

Credit to:
Ustadz Budi Ashari — Mumpung Masih Muda >>https://www.youtube.com/watch?v=XNYi4a2x1wQ
Rahiqul Makhtum by Syeikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri

Senin, 13 November 2017

Benci

kau, dan segala yang tidak kumengerti
aku mencintaimu dengan cara yang tak biasa
memaksaku tak pernah menyebut namamu, atau
sekadar mengenang wajahmu
membuatku gila

lalu, kutanya pada semesta:
jika membencimu adalah caraku 'tuk mencinta, kenapa hati ini terus meminta 'tuk bersua?

pintu tertutup, jendela telah terkunci
angin malam merasuki melalui celah ventilasi
temani sepi malam ini, bersama
dinding dan langit-langit kamar

aku gusar
pikiranku buyar
aku ingin pergi ke luar

dan kau,
yang selamanya kan kubenci kau,
yang selamanya kan kucinta.

Kamis, 20 Juli 2017

21


Tak ada yang mengingatkanku tentang 21
Hingga aku menjumpainya dan terpana
Sedangkan aku tak kunjung membuka mata
Menyelam di dalam samudra mimpi
Terseret angan-angan hampa
Dan semangatku hanya sampai di ambang pintu
Terhempas oleh putus asa
Ambruk, tak berdaya
Dan tak satupun peluh yang meluruh
Melainkan berakhir dengan sebuah tanya


oleh: Adhita Prananda
Juli, 2017.