Senin, 08 Mei 2017

Realita Kehidupan dalam Sebuah Film

Belakangan ini ada beberapa film yang menarik perhatian saya. Film-film tersebut memiliki sebuah kesamaan, yaitu sama-sama berlatarkan realita kehidupan yang sesungguhnya (di balik apakah itu fiktif atau real). Yang membuat saya tertarik adalah di samping ceritanya yang berlatarkan kehidupan yang real, film-film ini tidak hanya mengangkat problematika-problematika kehidupan yang real, melainkan juga memberikan motivasi dan solusi dari problematika-problematika yang diangkat.

Yang pertama, saya ingin sekali berterima kasih kepada film Boyhood. Film ini sudah membuktikan kekerenannya dengan meraih berbagai penghargaan dari mulai Academy Awards hingga Golden Globe. Tapi, bukan itu alasan yang membuat saya ingin berterima kasih kepada film ini. Alasan saya berterima kasih adalah karena film ini menggambarkan dengan sangat detil tentang bagaimana orang-orang Amerika menjalani kehidupannya. Lebih tepatnya, tentang kehidupan dua orang anak kakak-beradik bernama Samantha & Mason dari mulai mereka masih kecil hingga mereka dewasa. Saya benar-benar mendapat banyak pengetahuan baru melalui film ini karena sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai proses pertumbuhan anak-anak Amerika dan sangat ingin mengetahuinya.

Yang kedua, saya juga ingin memberikan sanjungan kepada film Manchester By The Sea. Ini merupakan sebuah film yang sangat inspiratif dan saya sejujurnya bingung harus menggambarkannya seperti apa. Yang jelas, berbeda dengan film Boyhood yang berlatar di US, film Manchester By The Sea ini berlatar di Inggris, tepatnya di kota Manchester. Film ini bercerita tentang seorang handy man atau janitor yang memiliki kehidupan yang luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena dia ditinggal mati oleh anaknya, ditinggal cerai oleh istrinya, ditinggal mati oleh kakaknya yang paling sayang kepadanya, dan dia harus hidup dengan penuh keterbatasan sambil mengurus keponakannya yang menjadi tanggungannya. Film ini bukan tipe film yang "nyuapin", kita harus memperhatikan betul selama menonton dan banyak hal-hal yang baru diceritakan di tengah film ini, sehingga sesekali membuat penontonnya terkejut. Overall, ini adalah film yang luar biasa menurut saya.

Yang ketiga, ini adalah sebuah film jadul yang beberapa minggu lalu baru saya tonton. Film yang berjudul Good Will Hunting ini awalnya saya kira bermakna "good will hunting" sebagai sebuah kata kerja atau semacam "kebaikan akan mengejarmu". Tapi, kalau Anda menonton film ini, Anda akan mendapatkan makna yang berbeda dari judul filmnya dan saya tidak akan memberitahu di sini. Film ini bisa dibilang merupakan film paling "ga real" kalau dibandingkan dengan film-film lainnya, tapi merupakan film yang menjadi top list nomor 1 jika mau saya urutkan berdasarkan yang terbaik menurut saya. Film ini bercerita tentang kisah 4 orang anak muda yang bersahabat dimana salah satunya (si Matt Damon) merupakan orang yang jenius. Mereka berempat adalah orang-orang golongan kelas bawah (miskin) dan tidak ada yang sekolah. Gitu lah ya, panjang ceritanya. Intinya dari film ini Anda tidak hanya mendapat pelajaran tentang pentingnya belajar, tapi juga tentang bersyukur, tentang indahnya persahabatan, dan tentang memutuskan.

Yang keempat sekaligus yang terakhir, yaitu Spotlight. Saya ragu sebenarnya untuk memasukkan film ini ke tulisan saya karena walaupun sama-sama berlatarkan realita kehidupan yang normal, film ini bisa dibilang adalah film yang paling berbeda di antara yang lain. Jika film-film lainnya menggambarkan suatu problematika kehidupan, film ini lebih ke arah dokumentasi tentang keberhasilan sebuah tim dalam memecahkan suatu masalah which is problematika juga sih sebenarnya. Saya dalam memandang film ini selalu beranggapan bahwa: jika Marvel menggambarkan sosok pahlawan dengan berbagai kekuatan super yang bisa dibilang sangat mustahil, lalu Sherlock menjadi pahlawan dengan kecerdasannya yang gokil dan nyaris mustahil, maka Spotlight adalah sekumpulan pahlawan dengan kemampuan yang standard namun menjadi spesial dan berhasil dikarenakan kerja tim yang sangat baik. Jadi, maksud saya adalah bahwa di dunia ini ada banyak film super hero, tapi spotlight adalah film "super hero" yang real dalam kehidupan kita, bukan super hero khayalan yang hanya membuat kita larut dalam khayalan semu.

Lalu, sebenarnya apa tujuan saya menulis tulisan ini? Sejujurnya, saya ingin menggabungkan beberapa hikmah yang terdapat di film-film ini, sehingga bisa bermanfaat bagi kita semua.

1. I Just Thought There Would be More.
"This is the worst day of my life..
I knew this day was coming..
I didn't you're gonna be so happy to be leaving..
You know what I'm realizing? My life is just gonna go, like that.
This series of milestones..
Getting married. Having kids. Getting divorced.
The time that we thought you were dyslexic..
When I taught you how to ride a bike..
Getting divorced again. Getting my master's degree.
Finally getting the job I wanted.
Sending Samantha off to college. Sending you off to college.
You know what's next? Huh? It's my funeral!!
.....I just thought there would be more."


Ini adalah sebuah kutipan dari scene yang terletak di bagian akhir film Boyhood. Yang saya tulis di atas adalah ucapan ibunya ketika hendak berpisah dengan anak bungsunya yang juga akan merantau untuk melanjutkan kuliah. Jujur saja, ketika melihat scene tersebut saya langsung teringat akan ibu saya yang pastinya juga sama sedihnya ketika hendak melepas saya merantau. Tapi, fokus pada ucapan ibunya tersebut. Lihat betapa sedihnya ia, betapa ketakutannya ia, karena semuanya sudah ia lalui, karena apa yang orang katakan dengan kehidupan normal itu sudah ia lalui hingga sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga masuk kuliah. Tapi, menarik jika diperhatikan kalimat yang paling terakhir. Itu adalah kalimat yang, jujur saja, tidak saya duga akan terucap oleh ibu tersebut. I mean, at the end dia merasakan perasaan-perasaan seperti "oke.. jadi gini aja? Udah selesai?" dan dia menuangkannya dengan kalimat "I just thought there would be more". Itu lah kalimat yang membuat saya ingin berterima kasih pada film ini.

Look, di tulisan saya yang berjudul "Galau", saya pernah menyampaikan bahwa detik ini saya berada di titik dimana saya bebas untuk menjadi apapun yang saya mau. Tapi, bukan itu poin utamanya. Justru poinnya adalah, lantas jika saya bebas menjadi apa saja yang saya inginkan, apakah pekerjaan yang saya pilih nantinya hanya akan sebatas memenuhi gengsi agar tidak dipandang memalukan oleh orang lain? atau memenuhi hasrat saya saja? memenuhi nafkah keluarga saya saja? tidak adakah yang lebih? Jika hanya itu yang dituju, saya hanya khawatir kelak akan mengucapkan kalimat yang sama dengan kalimat ibunya Mason ini dan saya tidak ingin itu terjadi.

Maka, penting bagi kita untuk memilih sesuatu secara bijak dan penuh rasa tawakkal kepada Allah. Kenapa? Karena kalimat "I just thought there would be more" bukanlah ucapan orang-orang muslim. Karena kita suda diberitahu bahwa hidup ini tidak sebatas seperti apa yang diceritakan film Boyhood tersebut. Kita hidup untuk membekali diri kita di akhirat kelak. Kita tahu bahwa there would be something more in the end. Akan ada kematian dan akan ada kehidupan setelah kematian yang harus kita siapkan. Film ini menampar kita sekaligus mengingatkan bahwa kita punya tujuan yang lebih spesial dalam menjalani kehidupan ini. Jauh lebih luas. Jauh lebih indah ketimbang hanya lahir - sekolah - pacaran - nikah - punya anak - mati. Karena the truth is Islam lah yang justru membuat hidup kita lebih dari yang biasanya.

2. The Best Part of My Day

"Look, you're my best friend. so don't took this the wrong way..
But, in 20 years.. If you're still living here.. still working on construction..
I'll kill you. That's not a threat. That's a fact.. I'll kill you.
Look, you got something none of us have..
You don't owe it to yourself. You owe it to me..
Because tomorrow I'm gonna wake up and I'll be 50..
And I'll still be doing this shit.. And that's all right, that's fine..
You're sitting on a winning lottery ticket..
And you're too much of pussy to cash it in.. And that's bullshit..
'Cause I'd do anything to have what you got..
It'd be an insult to us if you're still here in 20 years..
Hanging around here is waste of your time..
Let me tell you what I do know..
Everyday I come by your house and pick you up..
And we go out and we have a few drinks and a few laughs..
And it's great..
You know what the best part of my day is?
For about ten seconds from when I pull up to the kerb and when I get to your door..
'Cause I think maybe I'll get up there and I'll knock on the door and you won't be there..
No good bye.. No see you later.. No nothing.. You just left..
I don't know much, but I know that."


Itu adalah kutipan dari ucapannya Ben Affleck kepada Matt Damon di film Good Will Hunting yang sangat menyentuh menurut saya. Tapi, kalau ditanya apakah saya punya teman yang rela berkorban hingga seperti itu, jawabannya tentu tidak. Justru scene ini sangatlah menyentuh saya ketika memposisikan percakapan ini menjadi antara orang tua dan anak. Yep, sangat menyentuh. I mean, saya tidak tahu apakah ini hanya problematika dalam hidup saya ataukah semua orang mengalaminya, tapi yang jelas diri kita sendiri memang terkadang tidak menuntut kita untuk mendapat cumlaude, atau mendapat pekerjaan yang layak, atau sekadar memutuskan untuk berkuliah. Ya, diri kita memang mungkin tidak menuntut kita melakukan itu semua. Orang tua kita lah yang sebenarnya menuntut kita untuk melakukan hal - hal tersebut, karena selain ini menjadi tanda terima kasih kita kepada mereka, ini juga menjadi bentuk perlindungan kita kepada mereka. Karena ketika besok kita sudah diterima kerja di perusahaan multinasional A atau memulai usaha sendiri, kedua orang tua kita juga sudah semakin tua dan tidak lagi dapat menghidupi atau membiayai kehidupan kita. Justru kita lah yang kelak harus mengurus mereka, menghidupi, dan membiayai kehidupan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar