Senin, 03 Juli 2017

Penyakit 'Ain dan Selebgram

Pagi ini saya melihat ada sesuatu yang aneh dari postingan Ibuk, si Ibunda dari Kirana yang lucu itu. Di postingan Instagramnya tersebut, ia mencoba menjelaskan perubahan sikap yang dialami Kirana yang disebabkan oleh terlalu seringnya orang memfoto ataupun merekam Kirana. Permohonan maaf pun disampaikan Ibuk kepada para fans Kirana, padahal justru menurut saya mereka lah yang seharusnya meminta maaf kepada Ibuk dan Kirana. Dan di tulisan ini, saya mencoba membahas fenomena yang sedang marak belakangan ini, terkait anak kecil lucu yang menjadi selebriti di Instagram.

Sejujurnya, di dalam Islam ada sebuah penyakit bernama 'Ain (silakan di googling kalau Anda penasaran). Penyakit 'Ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.



 Gampangnya seperti ini: ketika Anda sukses berkeluarga, memiliki anak, dan juga sukses dalam berkarir, sunnatullah-nya akan muncul pandangan orang-orang yang beraneka ragam kepada Anda, dari mulai benci, iri, hasad, maupun kagum. Pandangan ini bukannya tidak berarti apa-apa, justru dapat memberikan suatu dampak terhadap orang yang dipandang tersebut. Dan penyakit 'Ain ini dapat terjadi melalui pandangan orang secara langsung maupun tidak langsung (lewat foto di media sosial misalnya).


Lantas, apa dampak dari penyakit 'Ain ini terhadap orang yang terkena? Bisa bermacam-macam, seperti anak yang dalam kondisi sehat wal afiat tiba-tiba sakit tanpa sebab, anak yang tiba-tiba menangis tak kunjung berhenti, anak yang tiba-tiba tidak mau menyusui hingga akhirnya kurus kering, dan sebagainya. Saya pribadi pernah melihat salah satu korban penyakit 'Ain, yaitu seorang anak kecil lucu yang fotonya pernah tersebar ke mana-mana, kemudian beberapa tahun kemudian anak tersebut menjadi kurus dan kulitnya bruntusan jelek sekali. Apa yang saya lihat memang tidak terjamin benar, karena saya melihat hal tersebut juga di salah satu media sosial juga. Namun, hal ini bukan berarti tidak mungkin. Penyakit 'Ain itu bukan fiktif, dan selama 'pintu' penyakit 'Ain ini terus dibuka, potensi terjadinya penyakit 'Ain itu akan terus ada, cepat atau lambat dan atas kehendak Allah.

Saya adalah orang yang sadar betul akan hadirnya penyakit ini di tengah masyarakat kita hari ini. Ditambah lagi kehadiran media sosial yang semakin mempermudah akses untuk memperluas wabah penyakit ini. Sejak awal, ketika saya melihat maraknya fenomena anak kecil selebgram ini, khawatir adalah hal pertama yang saya rasakan dan menolak adalah langkah pertama yang saya lakukan. I mean, I don't know what to say to convince people about these stuffs, but trust me it's just not good, that's what i thought. Tetapi, adalah suatu hal yang sulit ketika Anda harus meyakinkan suatu masyarakat yang sedang 'mabuk'. Anda akan diabaikan, bahkan dibalas dengan cacian atau dikucilkan oleh masyarakat tersebut. Padahal apakah Anda salah? Tidak, Anda benar, hanya saja masyarakatnya sedang 'mabuk'. Maka, langkah yang harus Anda lakukan adalah menunggu hingga sampai pada saat yang tepat, kemudian mereka akan sadar dengan sendirinya dan berkata "Ohiya ya, ternyata selama ini kami salah."

Salah satu alasan saya meninggalkan Instagram adalah karena khawatir terhadap mewabahnya penyakit 'Ain ini, entah saya yang menjadi korban atau bahkan orang lain menjadi korban karena pandangan saya. Namun, ada hal menarik beberapa saat sebelum saya pada akhirnya meyakinkan diri untuk menghapus akun official instagram saya: Saya sempat melihat Instastory dari Sekar Vania yang merupakan adik dari Mentor saya, Bang Alham Fikri Aji. Di story-nya tersebut, diperlihatkan punggung Bang Aji yang sedang menggendong anaknya, tapi wajahnya disensor dengan sticker. Kemudian saya comment dengan pertanyaan, "kenapa dikasih sticker wajahnya? Kan mau liat muka anaknya bang Aji". Lalu, Vania menjawab (kurang lebihnya), "ga tau, Bapaknya minta supaya wajah anaknya ga tersebar. Instagram berbahaya katanya wkwk". Setelah itu langsung terkagum-kagum dalam hati dan langsung teringat akan bahaya penyakit 'Ain ini. Saya menyimpulkan bahwa Bang Aji aware betul dengan bahayanya penyakit 'Ain.

Yang perlu kita sadari adalah bahwa fenomena anak kecil selebgram belakangan, menurut saya, membuat orang menjadi lupa diri dan juga lupa akan arti dari memiliki anak dalam rumah tangga. Saya sejujurnya agak sedih terhadap anak-anak kecil yang sejak bangun tidur hingga tidur lagi, aktivitasnya selalu direkam oleh kamera. I mean, is that okay? it totally bothers him, doesn't it? Kenapa direkam terus-terusan? Diajak jalan-jalan bikin vlog terus-terusan? Mbok ya diajarin Al Quran, mbok ya dididik juga. Anak memang investasi dunia dan akhirat, tapi jika kelucuannya terus menerus digunakan sebagai sarana untuk meraup keuntungan, bukankah itu dinamakan eksploitasi? 

The point is, mungkin memang para Ibu tidak ingin melewatkan satu momen pun bersama anaknya, sehingga setiap gerak-geriknya selalu direkam sebagai kenangan untuk masa yang akan datang kelak. Mungkin para Ibu sadar bahwa anak-anak mereka lucu dan cerdas, dan ia ingin menunjukkannya sebagai motivasi bagi orang lain. Tapi, perlu dipelajari betul sampai sejauh apa batasan-batasannya, apa dampaknya bagi anak, dan yang paling penting adalah apa yang tidak boleh terlewatkan dalam proses pendidikan bagi anak tersebut. Karena jangan sampai terlalu sibuk mengeksploitasi anak kita sendiri membuat kita lupa akan hak-haknya. Bukan hanya hak atas asi dan hak atas nafkah yang harus diterimanya, tapi juga hak pendidikan dan hak untuk hidup secara normal, hak untuk bermain dengan normal, danhak untuk berinteraksi dengan manusia normal.

Melalui tulisan saya ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa Islam bukanlah agama yang ribet, yang aturannya banyak, tidak ada manfaatnya, atau bahkan tidak sesuai dengan zaman ini. Sama sekali tidak. Itu salah. Justru Islam adalah agama yang mengatur segala sesuatu, bukan tidak memberikan manfaat, tapi justru ada banyak sekali manfaat dari perintah ataupun larangan yang Islam perintahkan, hanya saja terkadang kita terlalu 'mabuk' dalam menjalani kehidupan duniawi ini.

Saya juga berharap kepada Ibuk supaya Allah berkahi urusannya, senantiasa diberikan petunjuk, dan tetap menjadi inspirasi bagi semua orang, khususnya bagi para Ibu dan calon-calon Ibu yang lain.
Wallahu A'lam.

GoodNews Coffee & Dine,
Depok, 4 Juli 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar