Selasa, 04 Juli 2017

Remembrance

Prolog
Smansa adalah tempat yang memberikan banyak kesan dan pelajaran bagi saya. Smansa adalah perwujudan mimpi-mimpi saya dulu. Smansa adalah tempat yang penuh dengan kenangan manis. Namun, bukan berarti tanpa cela, saya pun masih mengingat betul momen-momen buruk, memalukan, menyedihkan, dan mengecewakan ketika di Smansa.

Saya masih ingat betul masa-masa ketika saya duduk di kelas XI, saya berada di kelas XI IS 1 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ubersocial. Itu adalah neraka bagi saya. Pertama kali dalam kurun waktu 16 tahun hidup di dunia ini, saya berada di sebuah kelas dengan jumlah laki-laki sebanyak 7 orang dari 32 orang penghuni kelas tersebut. Di saat yang sama, saat itu, saya adalah orang yang masih sangat lekat dengan aturan-aturan Islam. Jangankan menyentuh wanita, menatap pun saya masih ragu-ragu. Dan tiba-tiba saja saya masuk ke dalam kelas yang setiap harinya menuntut saya untuk tidak hanya menatap wajah, tapi juga mungkin aurat-aurat yang tersingkap. Duduk pun seringkali bersebelahan dengan wanita dan tidak hanya di satu sisi, melainkan diapit oleh wanita di kiri dan kanan. Bahkan saya masih ingat betul ketika salah seorang wanita yang kala itu duduk di sebelah saya meminta saya untuk tidak menengok ke sebelah kanan karena ia sedang mengganti jilbabnya.

Segala hal yang saya ingat tentang Ubersocial adalah neraka bagi saya. Saya ingat sekali ketika harus pergi ke kelas sebelah, XI IPA 6, hanya untuk tidur siang. Kenapa tidak tidur di kelas? Karena bising sekali. Bagaimana Anda bisa tidur sedangkan di dalamnya penuh dengan teriakan-teriakan wanita yang terus menerus berlarian di dalam kelas. Di sana pula, saya mendapatkan pengalaman ketika salah satu ide cerita drama saya ditolak oleh rekan-rekan saya. Tahukah Anda? Cerita drama yang tertolak itu 3 tahun kemudian saya pentaskan di kompetisi drama saat Ospek jurusan di Kaliurang, dan apa yang terjadi? Kami menang sebagai drama terbaik di kompetisi tersebut. ARGH I KNEW IT!

Intinya, saya kembali menggarisbawahi bahwa masa-masa kelas XI adalah neraka bagi saya. Namun..

Namun, memang kondisi kelas yang menyebalkan ini mungkin telah Allah desain dengan penuh hikmah. Karena di saat yang sama, kelas XI adalah masa-masa ketika saya mengukir banyak prestasi dan kenangan-kenangan manis di luar kelas. Dan ada satu kenangan paling manis yang mungkin akan selalu saya ingat hingga akhir hayat saya. Kenangan itulah yang akan saya tulis di tulisan saya kali ini.

Harapan Berbuah Realita
Menjelang Maghrib, di depan Indomaret, di sebelah selatan Smansa. Saat itu saya sedang cabut bimbel NF karena malas dan memutuskan untuk makan siomay favorit terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Di sela-sela suapan saya, HP yang saya letakkan di atas meja bergetar. Terlihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di kontak saya. Pesan itu bertuliskan sebuah pertanyaan yang kurang lebih isinya seperti ini, "Dhit, gimana ya kalo gue mau masuk Islam? -Dayra".

It was very shocking. It feels like you just hit by a storm while you're sleeping in the middle of the night.

Itu adalah awal sekaligus akhir. Itu adalah awal dari sebuah perjalanan yang amat panjang, penuh liku, penuh air mata, dan mengenang masa-masa itu terasa seperti hatimu dicuci kembali menjadi bersih. Dan itu adalah akhir dari harapan saya dan teman-teman Rohis yang selalu berdoa agar Allah mengaruniai teman di antara kita yang hijrah ke agama Islam. Itu adalah akhir. Karena seiring sms itu masuk ke HP saya, harapan kami pun berubah menjadi realita.

Tentang Akad dan Perjalanan Keislaman Dayra
Namun, ternyata saya tidak seorang diri. Rupanya Dayra telah mendesain satu grup khusus untuk dijadikan 'lingkarannya'. Grup itu pada akhirnya ia beri nama Akad, tidak lain adalah gabungan dari nama-nama kami berempat: Adhita, Khairul, Alya, dan Dayra. Apa yang kami saat itu lakukan adalah mencari tempat-tempat bersembunyi, tempat yang sepi, tempat yang tidak mampu dilihat oleh orang lain. Biasanya kami menggunakan Lab Kimia di dekat ruang Multimedia, atau Lab Fisika di atas Perpus, atau ruang Multimedia yang memang tidak pernah dikunci. Kenapa harus di tempat yang sepi? Karena tidak mungkin kami berempat menangis di depan umum dan tidak mungkin pula orang-orang melihat kami menangis bersama-sama. Di tempat-tempat itulah kami mendengarkan cerita-cerita yang Dayra sampaikan, kemudian kami mendiskusikan langkah apa yang sebaiknya dilakukan, hanya sebatas itu.

Adapun tanggal keislaman Dayra saat itu sudah diputuskan jauh-jauh hari bersama orang lain, sehingga banyak orang yang mengetahui dari words of mouth anak-anak Smansa ataupun alumni. Kami berempat tidak berfokus pada kapan Dayra akan berislam, itu sudah ditentukan. Kami berfokus untuk myakinkan kepada Dayra tentang apa itu Islam, menyampaikan bahwa bersikap baik kepada kedua orang tua adalah hal paling penting sekalipun ia disiksa, sekalipun Al Quran yang ia pegang dibanting, dan sebaginya.

Tidak jarang pula, Dayra melakukan live sms kepada saya di setiap malam untuk menyampaikan apa yang sedang dialaminya pada saat yang bersamaan. Ia juga tidak jarang dihadapkan dengan situasi-situasi yang membingungkan, sehingga di saat yang sama ia mengirimkan sms untuk menanyakan tindakan apa yang sebaiknya ia lakukan. Saya masih ingat betul sms-smsnya yang tidak jarang diawali dengan: "tadi Al Quran dibanting...", "tadi dibentak...", "tadi ada 'ustadz' main ke rumah...", "tadi disuruh minum minuman yang dikasih 'ustadz'...", dan masih banyak lagi.

Satu hal lain yang masih saya ingat adalah ketika ia nekat untuk menggunakan hijab. Saya masih ingat malam itu ketika ia menyampaikan perasaannya yang belum seutuhnya islam, seolah masih ada yang kurang. Keesokan harinya, beyond my expectation, ia benar-benar memutuskan untuk menggunakan hijab. Ia pun kemudian masuk ke toplist wanita ternekat yang pernah saya temui. Bagaimana tidak? Keluarganya kristen, bahkan masih membenci keislamannya. Tiba-tiba ia memutuskan untuk memakai hijab? How insane she was!? Dan hasilnya benar saja. Ia kemudian tidak diperbolehkan berangkat sekolah selama beberapa lama.

Di saat itulah, kemudian saya, Khairul, Alya, dan Allida bertemu dengan Dayra yang secara sembunyi-sembunyi kabur dari rumah dan pergi ke DTC untuk menemui kami berempat dan menceritakan apa yang dialaminya. Sempat berbincang-berbincang sebentar, tiba-tiba Dayra pun lari masuk ke dalam Mall karena ia melihat supirnya membuntutinya dari rumah. Di sana pun akhirnya terjadi permainan 'petak umpat' paling memorable dalam hidup saya.

Saya masih ingat betul kenangan-kenangan bersama Akad di kelas XI dulu, karena memang hampir setiap hari selalu ada waktu yang saya sisihkan untuk berkumpul bersama mereka dan satu dari lima hal yang saya pikirkan di kepala saya saat itu adalah masalah-masalah yang Dayra hadapi. Mereka adalah orang-orang yang sukses membuat saya bodoh di hari ulang tahun saya. Mereka berhasil mengerjai saya dengan argumen-argumen logis yang membuat saya, bahkan Khairul pun tidak sadar sama sekali bahwa saat itu saya sedang dikasih surprise ulang tahun ke-17. Mereka juga pernah memberikan baju kepada saya dan berpesan untuk menggunakannya di tempat-tempat istimewa. Akhirnya baju yang jarang sekali saya pakai itu pun saya gunakan ketika berada di puncak Gunung Merapi sambil mengenakan jaket Aethernum dan mengibarkan bendera merah putih. *Hey Kalian, aku pake baju itu di puncak Merapi hey!!!*

Namun, Akad tidak berlangsung lama. Akad seakan bubar seiring dengan kami naik ke kelas XII. Penyebabnya? Ya kami sudah sibuk masing-masing, dan saya yang ngambek kepada mereka semua. Kenapa saya ngambek? Karena di kelas XII, saya melihat mereka semua pacaran. Khairul dan Dayra, Alya dan Madhan. Kenapa saya ngambek melihat mereka pacaran? Karena di setiap pertemuan Akad, tidak jarang saya berbicara tentang pacaran dan mengajak mereka semua untuk tidak pacaran. Dan saya merasa dikhianati ketika melihat apa yang mereka perbuat di kelas XII itu. It hurts me a lot.

Selepas ini semua, saya melihat Dayra telah tumbuh menjadi orang yang semakin mencintai Islam. Meskipun saya 'ngambek', tapi saya tetap terus menerus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dayra. Jika saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya, saya tidak akan menyuruhnya bertanya ke orang-orang tertentu kecuali orang tersebut sudah saya rekomendasikan pure karena saya melihat ilmu yang ada pada diri orang tersebut.

Akad sudah bubar, saya dipertemukan dengan 'lingkaran' lain yang kemudian dinamakan Wake. Intensitas komunikasi saya dan Dayra semakin jarang, bahkan di masa-masa kuliah ini, saya tidak jarang mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya, seperti telat menjawab ataupun memberikan penekanan-penekanan kekesalan karena ia terlalu banyak bertanya. Namun di balik itu semua, tidak ada jaminan bahwa Dayra sudah aman. Tidak ada jaminan bahwa Dayra sudah tidak lagi diancam keluarganya. Bisa jadi ia masih menerima itu, bahkan bisa jadi beberapa kali semakin parah. Tapi, ia tidak pernah menyampaikannya.

Bye, Dayra :)
Chat terakhirnya Januari lalu benar-benar seperti perpisahan untuk kami berdua. Dayra meminta maaf dan memohon untuk melupakan masa lalunya, lebih tepatnya adalah masa-masa ketika saya 'ngambek' karena melihatnya pacaran dan dia menyadari itu. Kamudian ia berterima kasih kepada saya atas segala bantuan yang telah saya berikan. Seperti ini ucapannya:

"Oya adhita, tlg lupakan masa lalu gua ya dan gua sanga sangat minta maaf #lega. Makasih banyak loh buat segala bantuannya, gua hanya bisa membalas dengan do'a :) . Jazakallah Khairan"

Chat itu dikirim ke saya pada tanggal 4 Januari 2017 pukul 6:06 pagi. Percaya atau tidak? Bahkan saya tidak membalas sms terakhirnya itu. Walaupun 30 menit sebelumnya, tepatnya pukul 5:39, saya secara random mengirim chat ke Dayra yang berbunyi "day, kalo mau nikah gua diundang ya.". Kemudian ia membalas pukul 5:47 dengan bunyi, "Iya lah diundang, insya Allah wkwk".

Saya memang tidak pernah serius menanggapi chat-chatnya kalo sedang tidak membahas agama. Bahkan di hari sakitnya, ketika Khairul pertama kali menelfon saya, saya dalam hati beranggapan bahwa mereka berdua mau menikah dan ingin menyebarkan undangan kepada saya atau meminta saya untuk hadir ke pernikahannya. Namun, ternyata salah. Justru itu adalah kabar sakitnya Dayra sebelum beberapa hari kemudian meninggal.

Sampai jumpa, Dayra Dimitra Adelina. Gimana rasanya di sana?? Cepat atau lambat saya bakal nyusul ke sana :) Terima kasih banyak atas inspirasinya kepada kita semua. Kamu meninggal dalam kondisi yang bikin iri. Kamu rajin ikut kajian, selalu optimis memandang segala hal. Aku ga bohong. Aku saksinya. Terima kasih atas memori yang sangat indah ini. Dan kapanpun, aku akan bersaksi kepada Allah, kepada teman-temanku, kepada istriku, kepada anak-anakku, kepada cucu-cucuku seperti apa yang pernah diucapkan Abdurrahman Bin Auf.

"Dayra Dimitra Adelina. Muslimah yang taat dan solehah, tapi ketika wafat, ia dikuburkan tanpa sehelai kain kafan pun menutupi tubuhnya dan dihias di dalam peti mati. Sedangkan ia adalah muslim yang lebih baik daripada saya."

GoodNews Coffee & Dine.
Depok, 4 Juli 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar