Selasa, 09 Agustus 2016

Suka Duka Tax Amnesty (2)

Tax Amnesty didefinisikan sebagai penghapusan pajak bagi wajib pajak dengan syarat membayar tebusan. Tax Amnesty ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang menyimpan uang di luar negeri, melainkan seluruh wajib pajak.  Dan memang tidak salah ketika seorang wajib pajak, atau WNI menyimpan uang mereka di luar negeri. Hanya saja sebagian dari mereka terindikasi melakukan pengemplangan pajak, alias melarikan uang ke luar negeri agar tidak membayar pajak di Indonesia.

Untuk berhasil, Tax Amnesty memiliki beberapa syarat, salah satunya adalah dengan melakukan reformasi perpajakan. Karena salah satu fungsi Tax Amnesty ini adalah untuk mendata siapa saja yang selama ini bandel tidak membayar pajak, dan data ini dapat digunakan untuk penyelidikan pajak ke depannya. Seiring dengan hal tersebut, Indonesia butuh sistem pajak termasuk informasi wajib pajak yang bagus, sedangkan realitanya sistem pajak Indonesia masih banyak sekali celahnya.

Ada beberapa Negara yang pernah menerapkan kebijakan Tax Amnesty ini, salah satunya adalah Afrika Selatan yang konon sukses. Kenapa bisa sukses? Karena mereka saat itu juga menerapkan reformasi pajak seiring dengan proses rekonsiliasi politik yang sedang berlangsung. Sedangkan India sudah berkali-kali menerapkan Tax Amnesty, tetapi terus gagal. Dan terakhir ia berhasil dikarenakan adanya reformasi pajak yang serius. Nah, bagi Indonesia, kita tidak harus mencoba berulang kali kemudian gagal seperti di India. Walaupun yang terjadi saat ini adalah UU Tax Amnesty yang masih dadakan, sehingga tak terbantahkan bahwa pasti persiapannya masih kurang.

Tax Amnesty ini juga dipandang kurang efektif karena dananya lebih banyak masuk di sektor keuangan dan hanya berputar di sana. Dampaknya ke sektor riil sangat kecil. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi di Triwulan II dimana pertumbuhan sebesar 5,18% bukan didorong seluruhnya dari Investasi. Realisasi investasi di Indonesia masih rendah. Lalu ke mana larinya Tax Amnesty? Karena dana Tax Amnesty banyak yang masuk ke pasar saham, sehingga menyebabkan IHSG kita naik hingga menyentuh 5400. Semakin jelas bahwa dana Tax Amnesty ini tidak memiliki pengaruh besar juga ke UMKM, yaitu setelah rilis data terbaru dari BPS yang menunjukkan pertumbuhan Industri Jasa Keuangan paling tinggi, yaitu mencapai lebih dari 13%. Sedangkan Ekonomi hanya tumbuh sebesar 5,18%. Artinya memang Tax Amnesty tidak nyambung ke sektor UMKM.

Oleh karena itu, titik pembenahan terletak di Pemerintah dan Perbankan. Ada lebih dari 15 bank di Indonesia yang ditunjuk pemerintah untuk menampung dana Tax Amnesty. Tetapi Pemerintah tidak membuat satupun klausul kontrak yang mewajibkan bank-bank tersebut untuk menyalurkan kredit ke sektor UMKM

Terakhir, Indonesia termasuk salah satu Negara yang menyetujui Sistem Penukaran Informasi Otomatis atau Automatic Exchange System of Information (AEoI) antar Negara dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Turki, efektif mulai 2018. Melalui AEoI inilah kelak petugas pajak dapat melihat uang WNI di luar negeri. Jadi, semuanya akan serba transparan dan tidak ada lagi yang bisa menyembunyikan uang di Bank Swiss atau Bank manapun. Nah, sebelum 2018 diharapkan seluruh WNI yang memiliki masalah pajak dan meletakkan uangnya di luar negeri untuk mengikuti Tax Amnesty. Intinya, Pemerintah memberikan kesempatan untuk "bertaubat" sebelum dendanya nanti akan besar saat diterapkan AEoI.

bersambung...

Suka Duka Tax Amnesty (1)

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah perbincangan yang sangat menarik di sebuah organisasi sekaligus kelompok studi yang saya ikuti di FEB UGM. Organisasi sekaligus kelompok studi tersebut bernama SEF UGM, singkatan dari Sharia Economics Forum UGM. Singkat cerita, salah satu alumni yang merupakan mantan ketua SEF UGM ini, beliau bernama Mas Bhima, beberapa hari yang lalu diundang ke Metro TV untuk membahas sisi baik dan buruknya mengenai Tax Amnesty. Dan melalui postingan ini, saya akan sedikit menuangkan apa itu Tax Amnesty dan baik buruknya berdasarkan hasil diskusi tersebut.

Tax Amnesty alias Pengampunan Pajak adalah sebuah kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kemenkeu. Kebijakan ini dibuat didasarkan pada anggaran pemerintah saat ini yang sedang kritis. Penerimaan dari pajak turun drastic, salah satunya disebabkan karena ekonomi sedang melemah. Nah, kemudian pemerintah mencari cara bagaimana untuk bisa menutup lubang pajak ini, yaitu dengan mengampuni wajib pajak luar negeri dan dalam negeri yang masih belum melaporkan pajaknya. Ditambah lagi memang potensi dana Tax Amnesty ini cukup besar, ada dana lebih dari 4.000 triliun yang dimiliki WNI di luar negeri. Sedangkan target pemerintah terkait dengan pemasukan melalui dana Tax Amnesty tahun ini adalah sebesar 165 triliun.

Lalu, mau dimasukkan ke mana dana Tax Amnesty yang besar itu. Apakah dimasukkan ke Saham? Obligasi? Bank? Atau sektor riil seperti Industri dan UMKM? Nah, sejauh ini dana tersebut lebih banyak masuk ke sektor keuangan seperti saham dan surat utang. Kenapa? Karena sektor tersebut memberikan imbalan yang pasti dan besar pula, yaitu rata-rata 8%. Nah, tapi masalahnya adalah jika dana ini masuk ke dalam sektor keuangan justru akan menimbulkan bahaya. Bahaya yang muncul adalah gelembung asset atau Bubble, selain itu juga jika dana hanya mengalir di sektor keuangan, kapan sektor riil dapat menikmatinya? Kenapa Industri dan UMKM tidak boleh menikmati dana yang besar tersebut?

Kemudian terkait dengan realita hari ini, pemasukan dana Tax Amnesty masih sangat jauh dari target. Pemasukan masih belum mencapai 6% dari total target 165 triliun. Kenapa ini bisa terjadi? Entah, mungkin masih ada keraguan dari pihak pengusaha. Dan apabila pemasukan dari dana Tax Amnesty ini tidak mencapai target, maka akan menyebabkan terjadinya gagal fiscal alias penerimaan Negara jauh dari target. Yang kemudian hal ini berdampak pada melebarnya deficit anggaran yang bahkan bisa mencapai lebih dari 3%, yang artinya tembus melewati batas deficit APBN terhadap PDB Indonesia yang telah diatur di UU.

Terkait dengan Tax Amnesty ini, Bank Indonesia juga mengatakan bahwa target 165 Triliun cukup mustahil untuk dicapai, pemasukan melalui dana Tax Amnesty tahun ini hanya mampu maksimal mencapai 60 triliun. Menteri Keuangan yang baru dialantik, Sri Mulyani juga ragu. Ia mengatakan bahwa penerimaan dari Tax Amnesty ini sangat berat, maka dari itu untuk menyelamatkan APBN akan dilakukan pemotongan belanja Negara sebesar 133,8 triliun.

Kemudian dari sudut pandang pengusaha, APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menyatakan dukungannya pada Tax Amnesty ini. Sedangkan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) menilai kebijakan ini tidak adil bagi pengusaha yang selama ini taat pajak. Dan ini saya sangat setuju, somehow melalui kebijakan ini pengusaha-pengusaha yang taat pajak sangat dirugikan dan mereka yang bandel justru diringankan. Tapi, lagi-lagi setiap kebijakan pasti ada unsur tarik-ulur politik di dalamnya.

bersambung..

Rindu Mengaji

Campur aduk. Ya begitulah rasanya. Mungkin anda sekali-kali harus merasakan bagaimana menjadi sesosok diri saya. Banyak hal yang telah saya lalui yang menjadikan seperti inilah sosok Adhita yang kalian temui. Saya yakin, begitu pula yang terjadi pada diri Anda. Banyak kejadian atau pengetahuan yang Anda baca yang menjadikan seperti itulah sosok Anda. Inilah yang menjadikan kehidupan berjalan dengan sangat menarik.

Belakangan ini, saya sering sekali mendengar informasi unik di berita ataupun berbagai media social. Dari mulai penyanyi dangdut yang mati karena digigit ular ketika menyanyi di atas panggung (ini konyol banget), model majalah dewasa atau foto-foto merangsang yang menjadi buta kedua matanya simply karena dia sering memakai lensa kontak dan jarang sekali melepaskannya, rencana menteri pendidikan untuk menerapkan full-day school, baik buruknya Tax Amnesty yang diterapkan Menkeu,  hingga atlet renang di ajang Olimpics yang di lengannya terdapat buletan bekas pengobatan Bekam.

Entah kenapa, tapi saya merasa di dunia ini setiap orang berbondong-bondong hadir memecahkan masalah dengan berbagai kalkulasi ataupun teori yang ditemukannya yang dianggap benar, tapi tak berselang lama teori tersebut dipatahkan. Atau full-day school misalnya yang konon merupakan solusi dari masalah pendidikan saat ini, kelak ketika Jokowi turun dari jabatannya saya yakin pasti program tersebut akan diganti oleh Menteri Kemendikbud yang baru. Hingga saya selalu bertanya, tidak adakah pedoman dalam menjadi kehidupan ini? Sehingga kita tidak saling patah mematahkan teori padahal keduanya sama-sama tidak benar 100%, padahal keduanya bukanlah solusi yang menjawab permasalahan yang ada.

Bumi ini sudah tua, dewasa ini semakin jelas terlihat bagaimana ajal menjemput seseorang persis sesuai dengan apa yang seringkali orang tersebut lakukan dalam hidupnya. Penyanyi dangdut meninggal saat menyanyi dangdut. ABG gaul meninggal saat hendak meminum kopi di tempat-tempat gaul. Kejahatan-kejahatan pun semakin terkuak. Dan kebenaran semakin jelas muncul ke permukaan. Bukan berarti saya menyalahkan pola hidup kita dan melarang pola hidup tertentu. Tapi, bumi ini sudah tua, bukan saatnya lagi kita bergerak bebas tanpa tujuan. Bukan saatnya lagi kita berjalan bebas dan melupakan tanggung jawab "di masa yang akan datang", padahal kehidupan tersebut merupakan hal nyata yang kelak akan terjadi.

Dan saya selalu merindukan masa-masa ketika saya duduk, membuka Al Qur'an, mengkajinya bersama guru dan teman-teman saya. Karena saat itulah saya merasakan petunjuk dalam menjalani kehidupan ini. Dan saat itulah saya mampu hidup dengan damai, dengan tanpa satupun kekhawatiran dalam menjalani hidup ini. Karena Tuhan itu ada, Dialah yang menjamin segala kebutuhan hidup kita, Dialah yang menyaksikan segala perbuatan kita, Dialah yang kelak akan meminta pertanggungjawaban atas segala apa yang kita lakukan, dan Dialah yang sangat menyukai dan dekat terhadap orang-orang yang selalu mendekatkan diri dengan-Nya.

Living In The Dream

Ada yang bilang, bahwa kenikmatan yang kamu alami baru dapat kamu sadari setelah kenikmatan tersebut hilang. Kalo berdasarkan salah satu lirik di lagu Sheila On 7 yang berjudul Percaya Padaku, disana terdapat penggalan, "..Kau takkan pernah tau apa yang kau miliki, hingga nanti kau kehilangan...". Pun orang tua kita seringkali menasehati kita untuk menjaga kesehatan, karena mahalnya kesehatan baru terasa ketika kita jatuh sakit. Selalu seperti itu. Intinya, apa yang kamu nikmati baru akan terasa berharga ketika kamu kehilangannya.

Dan saya menyadari hal tersebut ketika saya sedang dalam perjalanan dari Dieng menuju Jogja. Saat itu saya berkendara sepeda motor seorang diri. Di perjalanan, saya ditemani hujan lebat nan awet dari Wonosobo hingga Borobudur. Di saat itulah saya menyadari, ada hal yang dulu sangat ingin saya rasakan dan nyatanya saat ini saya merasakannya. Ketika SMA dulu, saat kehidupan berada di pucuk ke-stress-an, saya punya keinginan untuk hidup di wilayah yang merupakan pusat kota tetapi tidak jauh dari alam yang asri nan hijau. Saatitu saya tidak punya pemikiran bahwa Jogja adalah Kota yang pas untuk menjawab keinginan saya tersebut, itulah kenapa setelah SBMPTN saya juga mendaftar Ujian Tulis Universitas Brawijaya Malang. Simply karena saya sudah muak hidup di Ibu Kota dengan segala polusi, kemacetan, dan jauh dari alam asri nan hijau.

Maka, tidak heran ketika saya diterima di Universitas Gadjah Mada, Saya sangat senang. Tidak hanya saya, seluruh keluarga saya pun senang mendengar saya diterima di UGM. Saya bahkan masih ingat selebrasi saya, kakak saya, ibu saya, dan ayah saya yang saat itu saya yakin pasti sangat mengganggu tetangga-tetangga di kiri kanan rumah saya.

Jogja adalah mimpi saya yang terwujud. Hidup di sebuah kota yang menurut saya adalah kota terbaik di Pulau Jawa, adalah sebuah keinginan yang diwujudkan oleh-Nya. Hidup di perkotaan yang indah, dengan tingkat polusi yang lebih rendah daripada tempat asal saya, Kota yang dikelilingi oleh daerah-daerah sejuk, biaya hidup yang relative murah dibandingkan Jakarta, kajian-kajian islam yang juga sangat mudah ditemui dan dijangkau, mall-mall yang cukup banyak, serta fasilitas umum yang jauh lebih maju dibandingkan kota asal saya.

Saya bisa saja teriak sekencang-kencangnya di tengah sawah ketika masa-masa stress melanda, atau terlentang di atas pasir putih, memandang birunya air laut dan langit nan jingga, atau meloncat dengan bebasnya dari atas batu besar ke tengah sungai yang mengalir indah.

Dan perjalanan saya menuju Dieng ataupun sebaliknya, merupakan salah satu impian saya dimana saya dapat menikmati perjalanan antar provinsi, antar kota, antar wilayah dengan bebas, tanpa dihiasi kemacetan (khususnya kemacetan mudik), berhenti di tepi jalan sambil menikmati es kelapa yang baru dipetik dari pohonnya dengan pemandangan sawah dan perbukitan sejauh mata memandang. It's so relaxing!

Maka tak heran jika ketika saya pulang ke tempat asal saya, banyak teman-teman saya yang berkata: "Dhit, lo gemukan!" atau "Dhit, lo kok iteman deh!". Well, saya cukup menjawabnya dengan pernyataan, "Saya bahagia hidup di Jogja dan saya sangat menikmati hidup dekat dengan desa. Saya bisa menikmati alam terbuka, pedesaan yang sejuk, sawah membentang luas, dan pegunungan-pegunungan yang menyejukkan sama kuantitasnya dengan saya menikmati film-film Box Office terbaru atau informasi-informasi tentang Reshuffle Kementrian. Saya menghidupi mimpi saya dan saya bersyukur dengan apa yang saya dapatkan."