Senin, 13 November 2017

Benci

kau, dan segala yang tidak kumengerti
aku mencintaimu dengan cara yang tak biasa
memaksaku tak pernah menyebut namamu, atau
sekadar mengenang wajahmu
membuatku gila

lalu, kutanya pada semesta:
jika membencimu adalah caraku 'tuk mencinta, kenapa hati ini terus meminta 'tuk bersua?

pintu tertutup, jendela telah terkunci
angin malam merasuki melalui celah ventilasi
temani sepi malam ini, bersama
dinding dan langit-langit kamar

aku gusar
pikiranku buyar
aku ingin pergi ke luar

dan kau,
yang selamanya kan kubenci
kau,
yang selamanya kan kucinta.

Kamis, 20 Juli 2017

21


Tak ada yang mengingatkanku tentang 21
Hingga aku menjumpainya dan terpana
Sedangkan aku tak kunjung membuka mata
Menyelam di dalam samudra mimpi
Terseret angan-angan hampa
Dan semangatku hanya sampai di ambang pintu
Terhempas oleh putus asa
Ambruk, tak berdaya
Dan tak satupun peluh yang meluruh
Melainkan berakhir dengan sebuah tanya


oleh: Adhita Prananda
Juli, 2017.

Jumat, 05 Mei 2017

Gak Mau Belajar Islam?

saya berupaya untuk mencari tahu sebenarnya apa yang menjadi penyebab di balik ketidakmauan seseorang untuk mempelajari islam. saya belajar dari pengalaman saya, dari segala apa yang saya lihat, hingga saya merasa ada sesuatu yang mengganjal seseorang untuk mempelajari islam. Kadang, saya sebagai seorang part time penuntut ilmu (maksudnya masih belajar juga) melihat bahwa sebenarnya teguran atau permisalan yang diarahkan oleh para penuntut ilmu kepada mereka yang belum mau mempelajari islam itu tidak tepat. Misalnya: ketika seorang tidak mau mempelajari islam, lalu disemangati melalui kisah bagaimana para ulama terdahulu menuntut ilmu hingga berjalan beratus-ratus kilometer seperti imam syafi'i, apakah itu mampu menyemangati orang-orang yang belum mau mempelajari islam itu? Ya, tentu saja bisa menyemangati. Tapi, kisah tersebut tidak menyentuh ke akar permasalahan mereka.

Lantas, apa sebenarnya permasalahan utama dari orang-orang yang simply ga mau menutup auratnya, simply ga mau mempelajari islam, dan simply memandang islam sebagai sesuatu yang kampungan atau ga sesuai dengan apa yang terjadi di zaman sekarang? Apa ya? saya yakin sebenarnya di dalam benak mereka (atau salah satunya ada yang membaca tulisan ini) memendam alasan mereka masing-masing. sedangkan apa yang ingin saya tuliskan di sini hanya sebatas pemikiran dan renungan saya yang semoga sesuai dengan apa yang mereka rasakan.

1. Jangan Apatis dan Berpikir Terbuka
Ini poin pertama dan menurut saya inilah sebenarnya yang ada di benak orang-orang yang menolak untuk mempelajari islam. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal sesuatu jika kita selalu bersikap tertutup dan tidak mau membuka diri terhadapnya? Coba bayangkan jika Anda kuliah di Erasmus misalnya. Anda tinggal di Rotterdam seorang diri tanpa memiliki seorang teman pun. Lantas, apa yang akan Anda lakukan? Apakah akan hidup terus-menerus seorang diri? Menutup diri kepada semua orang tanpa memberikan ruang bagi siapapun, termasuk tetangga di sebelah apartemen Anda? Apa yang akan terjadi jika demikian? Bete ga sih? Hidup ga punya teman, ga bisa dapet info diskon dari teman, ga bisa dapet info liburan murah dari temen, hidup ga berwarna. Tapi, apakah jika di kehidupan nyata Anda akan berbuat demikian? Tentu saja tidak. Anda akan berupaya untuk membuka relasi sebanyak-banyaknya. Kenapa? Karena kuliah di luar negeri adalah pencapaian tertinggi bagi kebanyakan orang, itu adalah sebuah perwujudan mimpi, dan itu adalah kesempatan untuk memiliki banyak teman dari berbagai penjuru dunia. Tentu saja kita tidak akan menutup diri.

Nah, itu yang harus kita lakukan. Jangan apatis berarti bahwa kita harus membuka pikiran kita terhadap islam sebagaimana kita membuka pikiran kita terhadap ilmu-ilmu barat yang kita pelajari. Jika tidak mau berpihak pada ilmu islam, setidaknya berilah porsi yang seimbang, atau setidaknya berilah sedikit porsi dari kapasitas keilmuan kita untuk setidaknya mengenal islam. Jika masih susah untuk tidak apatis, maka cobalah beberapa cara seperti : (i) Menyadari bahwa Allah itu ada, sadari bahwa Allah melihat kita. sadari bahwa Allah yang ada pada zaman bumi ini direndam air (zaman Nabi Nuh) dulu hingga zaman sekarang adalah Allah yang sama. Tidak berbeda. Tidak berubah wujudnya. Tidak tidur. Tidak pergi ke mana-mana. Allah yang menciptakan kita sehingga kita terlahir dari rahim ibu kita dan hidup di tengah keluarga kita. Allah yang mempertemukan kita dengan teman-teman kita. Allah yang menggerakkan Anda untuk membaca tulisan ini sehingga Anda berpikir. Jika sudah sadar bahwa Allah itu ada, tahap selanjutnya adalah minta petunjuk kepada Allah. (ii) Minta petunjuk kepada Allah jika Anda bingung apakah islam itu benar ataukah salah. Minta petunjuk kepada Allah jika Anda kecewa kenapa menutup aurat itu diwajibkan. Minta petunjuk kepada Allah jika Anda benci kenapa hidup ini penuh dengan aturan. Minta petunjuk kepada Allah jika Anda bingung kenapa perbuatan nikmat yang Anda inginkan itu termasuk perbuatan dosa. Minta dengan sungguh-sungguh. Karena Allah pasti mengerti kondisi Anda dan pasti akan memberikan jawaban yang tepat. Jika sudah meminta petunjuk, (iii) berpikir positif lah kepada Allah. Berpikir positif dalam arti berhusnudzon dan yakin bahwa Allah itu akan menjawab doa Anda. Dan jangan manja. Jangan manja dalam arti jangan berharap bahwa Allah akan memberikan jawaban seperti menyuapkan McFlurry ke mulut Anda. Jawaban yang Allah berikan seringkali membuat Anda harus berpikir dan tidak jarang hadir di saat-saat yang tidak Anda duga.

2. Jangan Bergantung Pada Diri sendiri
Kebanyakan dari kita begitu sombong dan terlalu melebih-lebihkan diri kita sendiri, seperti : "Ah, ini baca Quran belajar sendiri aja. Bisa kok.", atau "Ah, ngapain sih dateng ke majelis ilmu, toh di Youtube juga ada. Atau baca-baca buku sendiri aja.". Ini adalah kesalahan fatal.

Banyak hal-hal yang mungkin kita pandang benar, padahal sebenarnya itu salah. Contohnya adalah perbuatan semacam ini, ketika kita memilih untuk mempelajari sesuatu seorang diri padahal Islam menyuruh dalam mempelajari agama itu dibantu oleh guru. Membaca buku atau mendengarkan kajian di Youtube adalah hal yang bagus, lebih bagus daripada mengisi waktu dengan kegiatan tidak berguna lainnya. Tapi, kita tidak boleh terus-menerus belajar dari buku atau belajar dari Youtube seorang diri. Kenapa? Karena itu membuka ruang bagi kesalahpahaman. Bayangkan ketika kita belajar ilmu kedokteran hanya seorang diri, tanpa interaksi berguru kepada dosen kita. Bisa jadi ketika kelak kita sudah menjadi dokter, ada kesalahpahaman yang berujung pada kesalahan ketika mengoperasi tubuh orang lain. Akibatnya fatal. Maka, dengan kita belajar bersama orang lain dan (akan lebih baik) bersama guru, kesalahpahaman tersebut akan diminimalisasi. setidaknya ada orang lain yang mengingatkan dan memberitahu kalau kita salah. Apa akibatnya jika orang-orang salah paham terhadap ilmu islam? Yap, fatal seperti hari ini. Bisa jadi yang haram dilabeli halal dan yang halal justru dilabeli tidak berguna.

Jangan bergantung pada diri kita sendiri karena justru orang-orang expert di dunia Islam seperti Abu Hurairah saja dulunya adalah manusia serba kekurangan seperti kita. Beliau selalu lupa terkait apa yang telah Rasulullah sampaikan kepadanya, lalu setelah Rasulullah doakan beliau, barulah beliau menjadi orang yang tidak pernah melupakan satu perkataan dari Rasulullah pun, hingga menjadi seorang yang paling banyak meriwayatkan hadits.

3. Putuskan! Jangan Ragu-Ragu
Ini adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh syeitan. syeitan lah yang mewariskan sikap ragu-ragu dalam diri kita. sedangkan sikap ini harus dihilangkan. Berpikir, merenung, menimbang-nimbang, itu diperbolehkan karena itu adalah bagian dari proses memilih. Tapi, ragu-ragu itu adalah perbuatan syeitan. saya tahu, memang ketika kita memilih untuk mempelajari islam, biaya peluang yang dikeluarkan akan besar dan efek multiplier-nya juga tinggi. Dan di sini lah tantangan selanjutnya dimana syeitan akan mempermainkan kita. Ketika kita hendak mempelajari islam, kita merenungi bahwa kelak kita akan mengetahui bahwa menutup aurat itu adalah sebuah kewajiban, menjaga pandangan adalah sebuah tuntutan, dan kita lantas akan memandang aneh kehidupan ini dengan segala hal yang ternyata dalam islam dilarang.

Itu lah ujiannya. Itu lah ujian dari Allah. Jika memang kita ingin masuk ke dalam surga-Nya yang indah dan penuh dengan kenikmatan itu, tidakkah kita akan diuji? Ini lah salah satu bentuk ujianNya. Memang, begitu sulit rasanya karena diri kita sudah sangat nyaman dengan kehidupan sehari-hari kita, musik, bangun siang, begadang untuk ngerjain tugas, sholat ngaret, dsb. Namun, ini lah tantangannya. Jangan pernah kita berharap, ketika Allah telah menjawab doa kita untuk menunjukkan kita jalan yang lurus, lantas Allah tidak menguji kita. Bayangkan ketika Anda hendak mendapatkan beasiswa dengan insentif mencapai 20 juta per bulan. Apakah Anda tidak akan diuji dan diberikan begitu saja? Mana mungkin! Jika ada beasiswa semacam itu, maka ribuan orang akan mengantri untuk mendaftarkan diri. Lalu, bagaimana caranya agar bisa mendapat kenikmatan 20 juta per bulan tersebut? Anda harus lolos ujian. simple!

Maka, jangan ragu-ragu di fase ini. Kuatkan diri. Jangan berpikir gimana kalo nanti males lagi sama yang beginian? Fine. Gapapa. Manusia itu ada sifat yang namanya futur, alias males. Kadang sifat itu hadir menguasai diri kita. Itu wajar, semua orang merasakannya termasuk ustadz yang Anda tonton di TV, termasuk ulama sekalipun. Putuskan saja! Jalani terus! Dan jika Anda terjatuh, bangunlah! Jika Anda terjatuh lagi, bangunlah! Jika Anda terjatuh lagi, bangunlah! Karena tugasnya syeitan lah yang membuat kita terus menerus dalam posisi jatuh dan menunda-nunda untuk bangun.

Senin, 17 April 2017

Menghapus Akun Sosial Media (Updated)

Sebelumnya, saya udah berpikir cukup panjang apakah benar-benar akan menuangkan alasan-alasan tersebut ke sebuah tulisan atau tidak. Karena pada dasarnya kita semua memiliki sikap dan tujuan yang berbeda-beda terhadap sosial media kita masing-masing. Ada yang mungkin benar-benar addicted seperti saya, ada pula yang mungkin "don't give a shit" terhadap apa yang dia lihat di feeds-nya. Ada pula yang memang tujuan akun instagramnya untuk sharing foto-foto keren, ada yang ingin keep in touch dengan teman-temannya, ada yang fokus mencari berbagai informasi, mencari jodoh, atau mungkin ada pula yang sengaja ingin memamerkan seluk beluk kehidupannya. Jadi, ya tergantung.

Saya memutuskan untuk menghapus akun saya sebenarnya sudah terpikirkan sejak lama. Ada beberapa faktor yang membuat saya pada akhirnya memutuskan pada sekitar 2 minggu yang lalu untuk benar-benar menghapus akun tersebut. Sebelumnya, percobaan untuk menghapus akun tersebut tidak hanya sekali saya lakukan. Pertama kali saya coba, saya menemukan kesulitan untuk menghapusnya karena satu dan lain hal hingga pada akhirnya saya menyerah dan terus mempertahankan akun instagram saya. Kedua kali saya mencoba, saya sudah sampai pada titik ketika saya bisa menghapus akun instagram tersebut dan hanya tinggal diklik saja. Namun, akhirnya saya masih ragu-ragu dan tetap mempertahankan akun instagram tersebut. Ketiga kali saya mencoba, saya kembali mengalami kesulitan dan tidak bisa menghapus akun tersebut. Hingga akhirnya saya hubungi salah seorang teman saya yang pernah menghapus akun instagramnya (terus bikin lagi kalo dia). Lantas, dia seketika mengulurkan pertolongan kepada saya agar sore itu biar dia saja yang menghapus akun saya tersebut. Yowes, saya berikan username dan password saya dan boom.... hilang seketika akun saya.

Satu hal yang perlu kalian ketahui adalah: bahwa menghapus sebuah akun sosial media dimana sebelumnya Anda sangat bergantung padanya, tempat Anda sharing kegiatan Anda, tempat Anda berkomunikasi dengan teman-teman Anda bahkan yang berada di luar negeri sekalipun, tempat Anda menghibur diri Anda sendiri sehari-harinya, tempat Anda curhat, dan lain-lain, itu tidaklah semudah yang Anda pikirkan. Di awal memang nampak seperti "okay, it's gone.", tapi kemudian akan mulai bermunculan perasaan-perasaan menyesal seperti "kenapa ga temporaily aja deletenya?", "kenapa begini....?", "kenapa begitu....?", dan lain-lain. Maka, butuh alasan yang sangat kuat jika memang Anda memutuskan untuk menghapus akun sosial media Anda dan butuh mental yang kuat pula karena setelah akun tersebut terhapus, yakinlah di pikiran Anda akan tergulir bisikan-bisikan yang membuat Anda merasa menyesali perbuatan tersebut.

Lantas, apa alasan saya menghapusnya? Btw, ini alasan saya murni lho ya. Saya ga akan memfilter alasan-alasan saya hanya demi kenyamanan pembaca, okay? And I don't give a shit about what people think of me~

1. Perasaan Takut
Sebenarnya perasaan yang saya maksud di sini sangatlah umum. Tapi, karena perasaan-perasaan yang umum tersebut cenderung membuat saya menjadi unhappy dan uncertainty, bikin labil lah pokoknya. Maka, perasaan-perasaan tersebut saya gabung jadi satu lewat satu kata, yaitu takut.

Saya adalah manusia yang hidup di abad ke-21 dan saat ini sedang berusia 21 tahun. I mean, ini adalah usia proses bagi kebanyakan orang. Kebanyakan teman-teman saya yang berada di usia ini, mereka masih berkuliah dan masih membangun cita-citanya. Ada yang sering sekali meng-update kegiatan sehari-harinya bersama teman-temannya, ada yang meng-update sedang belajar, sedang kuliah, sedang pergi ke suatu tempat, sedang berada di seminar ini dan itu, sedang foto bersama profesor ini dan itu atau artis ini dan itu, dan lain-lain. Satu kenyataan yang tidak terlihat dari fenomena ini adalah perasaan iri ataupun hasad yang muncul pada diri saya. Saya menyadari bahwa ini semua membuka ruang bagi setan untuk masuk ke dalam diri saya. Dan believe me, in the end, it could drives me crazy, even sometime i can simply against my own ambitions  and i can't recognize myself anymore. Seringkali karena ini semua, saya menjadi lupa siapa saya sebenarnya, saya sudah sampai di mana, apa yang ingin saya tuju, simply karena distraksi-distraksi yang ada di instagram tersebut. Distraksi-distraki tersebutlah yang membisikkan ke telinga saya pertanyaan-pertanyaan seperti: "Dhit, tuh lihat mereka...", "Dhit, masa lo hari gini cuma kayak gini....", "Dhit, payah banget sih....". And I can't help it.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Di awal sudah saya jelaskan bahwa ini tergantung pada diri kita masing-masing dalam menyikapi sosial media kita, termasuk konten-konten yang ada di dalamnya. Sedangkan saya, saya hanya ingin hidup terbebas dari perasaan takut ini semua. Perasaan takut yang muncul lewat bisikan-bisikan tersebut, yang membangkitkan rasa hasad dan rasa iri dalam diri saya. Ketika saya sedang belajar, saya ingin membuka instagram. Ketika saya hendak tidur, saya membuka instagram. Ketika saya bangun tidur, saya buka instagram. Ketika saya hendak bepergian ke suatu tempat, saya membuka instagram. Ketika saya mendapat kabar bahagia, saya membuka instagram. Ketika saya sedang merenungi sesuatu, saya membuka instagram. Lengkap sudah, Instagram ini benar-benar melilit diri saya. Perasaan-perasaan hasad dan iri tersebut seakan muncul sebagai stimulus atau perangsang bagi diri saya untuk bisa bertahan di Instagram dengan senantiasa mengupdate kegiatan-kegiatan saya. Tujuannya apa? Bukan lagi karena orang lain butuh informasinya, melainkan karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kehidupan kita sendiri tidak berbeda bahkan lebih berwarna daripada kehidupan mereka.

2. Biesta Adri Azizi
Ada yang kenal dengan nama di atas? Ya, dia adalah salah seorang adik kelas saya. Dulu, dia adalah adik kelas saya di SMAN 1 Depok, dan kini dia menjadi adik tingkat saya di Fakultas Kedokteran UGM.

Semuanya berawal dari suatu hari ketika saya sedang melihat video ceramahnya ustadz Budi Ashari di Youtube. Melihat video-video dakwah di Youtube adalah kebiasaan saya, apalagi video ustadz Budi Ashari dimana beliau sangat paham di bidang Sirah Nabawi (Sejarah Nabi), yang merupakan bidang favorit saya. Hingga saya sampai berpikir bahwa tidak ada lagi orang di antara teman-teman saya yang paham tentang Sirah Nabawi lebih dalam dibandingkan saya. Jujur. Karena saya suka sekali membaca buku Sirah Nabawi ataupun mendengarkan kajian-kajian ustadz Budi Ashari di Youtube yang selalu menyinggung-nyinggung tentang Sirah Nabawi atau kisah-kisah di saat Nabi Muhammad masih hidup bersama para sahabatnya.

Namun, ada hal lucu ketika saya melihat video tersebut. Ada satu pemandangan yang membuat saya merasa benar-benar tertampar. Bukan karen kajiannya, melainkan karena ketika kamera sedang mengarah ke audience, di situ saya melihat sosok teman saya, Biesta, sedang mengaji seorang diri dengan sangat serius. Saya sempat sangat shock di awal. Dan saya tertampar betul karena beberapa alasan: (i) Saya sering berdiskusi dengan Biesta, salah satunya tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Kami berdua bersama beberapa laki-laki SMAN 1 Depok saat ini punya program pertemuan untuk belajar bahasa arab tiap minggunya dan Biesta ditunjuk sebagai gurunya karena memang sangat capable. Saya, dalam berdiskusi dengan dia dan teman-teman saya lainnya, terang-terangan mengatakan bahwa saya sangat update dengan kajian-kajian Sirah Nabawi, dan cukup dekat dengan ustadz Budi Ashari baik dalam mengikuti kajian secara langsung dengannya ataupun hanya menonton di Youtube. Namun, saat itu apa yang terjadi? Dia yang selama ini diam dan ngangguk-ngangguk saja terhadap nasihat-nasihat saya yang berdasar pada Sirah Nabawi, ternyata selama ini berada jauh di depan saya. Saya yang hanya merupakan seseorang penuntut ilmu lewat Youtube, dihadapkan langsung dengan dia yang berada di tengah kajian tersebut. Saya juga ingat kajian itu adalah kajian yang berlangsung pada Ramadhan tahun lalu dan saya tidak hadir karena memilih untuk melakukan aktivitas lain, sedangkan dia hadir langsung ke kajiannya.

Poin yang saya maksud sebenarnya adalah tentang tamparan tersebut. Ibarat Anda misalnya sangat cinta pada drama-drama Korea dan selalu menceritakan progress drama tersebut kepada seorang teman Anda. Lalu, teman Anda hanya mengangguk-ngangguk menyimak progress yang Anda ceritakan. Hingga tiba-tiba Anda menonton sebuah episode dimana teman Anda tersebut berada di dalam drama korea yang sedang Anda tonton, menjadi lawan main dari artis yang Anda puja-puja dan selalu Anda ceritakan kepada teman Anda tersebut. Gimana rasanya? Tertampar, kah? 

(ii) Saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri: "Gimana bisa di dunia abad ke-21 ini masih hidup sosok orang-orang yang mengerjakan sesuatu tanpa perlu pamer kepada orang lain?". Bagaimana bisa ada seseorang yang hidup di zaman ini dan bisa fokus begitu saja menuntut ilmu tanpa perlu update atau mengupload kegiatannya tersebut ke sosial media? Bagaimana bisa ada orang-orang seperti itu? Setelah saya melihat langsung kejadian terebut, saya kembali membulatkan tekad bahwa saya bisa hidup dengan bebas tanpa instagram. Saya bisa fokus menuntut ilmu. Saya bisa lebih ikhlas dalam menjalani apapun tanpa harus khawatir bagaimana balasan dari teman-teman saya. Saya bisa lebih nyaman dalam menjalani aktivitas dan beribadah, tanpa perlu mengkhawatirkan persepsi orang lain terhadap diri saya.

3. Kisah-Kisah yang ada di Sirah Nabawi.
Saya dan Biesta adalah dua orang yang sepakat bahwa Sirah Nabawi adalah buku yang harus dibaca oleh setiap orang muslim, baik dia berilmu ataupun tidak. Kenapa? Karena di Sirah Nabawi lah kita tahu gambaran Rasulullah itu seperti apa, bagaimana Beliau menjalani kehidupan sehari-harinya, masalah apa saja yang ada, kondisi lingkungan internal dan eksternalnya seperti apa, seberapa jahiliyahnya zaman tersebut, sebijakasana apakah Rasulullah dalam berucap ataupun dalam menyelesaikan permasalahan. Semua ada di situ. Maka, orang muslim yang berilmu (dalam hal Muamalah atau Fiqh atau lainnya), jika ia tidak melengkapi dirinya dengan gambaran Sirah Nabawi (gambaran tentang bagaimana Rasulullah menjalani kehidupannya dulu), ia tidak akan bisa bijaksana dalam mengamalkan ilmunya, baik itu kepada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain. Sedangkan orang yang tidak berilmu, jika ia tidak mengetahui gambaran bagaimana exactly Rasulullah menjalani kehidupannya dulu, ia akan hanyut dalam kehidupan dunia ini dan tanpa sedikitpun merasa bersalah akan berucap: "Itu kan ajaran Islam jaman dulu, hari ini kondisi udah berubah".

(i) Lihat kisah bagaimana umat muslim di zaman Rasulullah hidup, ketika muslimin disiksa habis-habisan oleh masyarakat Quraisy dan di sisi lain mereka tidak boleh membalas siksaan-siksaan tersebut. Kenapa? Karena turun perintah dari Allah melalui Rasulullah, perintah yang mengatakan untuk "menahan tangan-tangan umat muslim". Maksudnya adalah agar umat muslim tidak membalas siksaan-siksaan dari mereka. Di kisah ini, orang yang tidak berilmu akan mengatakan "kenapa ga dibales itu coy! Bego banget sih itu kan lagi disiksa kok malah ga dibales!", tapi orang yang berilmu akan memilih untuk mengikuti ucapan Rasulullah. Orang berilmu akan berpikir "biarlah kami disiksa dan kami tidak akan membalasnya selama Rasulullah melarang kami membalasnya. Biarlah Allah ganti siksaan ini dengan Surga bagi kami, dan jikalau kami mati karena siksaan ini, kami akan syahid dengan ganjaran Surga.". Kalau kita baca Sirah Nabawi, kejadian ini memang aneh karena Rasul melarang umat muslim membalas siksaan yang dilakukan kaum Quraisy. Tapi, ada pesan yang hendak disampaikan melalui sikap ini: bahwa Rasulullah ingin menguji umat muslim apakah taat kepada pemimpinnya atau tidak. Apakah keislaman mereka benar-benar islam yang seutuhnya atau hanya di bibir saja, di sini mereka diuji. Lalu, lihat apa yang terjadi puluhan tahun kemudian. Mereka yang dulunya sangat menaati Rasulullah dan menaati aturan Islam, puluhan tahun kemudian tersebar menjadi pemimpin-pemimpin yang adil di berbagai penjuru dunia. Tidak hanya Mekkah, tapi di berbagai penjuru dunia. Mereka yang patuh kepada pemimpin sekalipun tersakiti, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin hebat yang adil bagi rakyat-rakyatnya. Itu pesannya.

(ii) Lihat juga kisah ketika muslimin yang hendak melakukan tawaf di Mekkah disindir-sindir oleh petinggi-petinggi Quraisy. Kenapa? Karena di Sirah Nabawi dijelaskan bahwa Madinah, tempat umat muslim berada, dulunya adalah tempat yang penuh dengan wabah penyakit. Wabah penyakit tersebut dinamakan dengan Demam Madinah. Orang-orang seperti Bilal bin Rabah dan Abu Bakr Ash Shiddiq pernah terkena wabah penyakit ini, hingga Rasulullah mendoakan kesembuhan bagi keduanya dan berdoa agar wabah penyakit tersebut dihilangkan dari Madinah. Lalu, ketika umat muslim tersebut hendak tawaf di Masjidil Haram dan disindir-sindir oleh petinggi Quraisy dengan sindiran-sindiran seperti: "Tuh lihat.. orang-orang penyakitan mau tawaf. Paling dua puteran juga ga kuat.". Lalu, lihat pula bagaimana Rasulullah menjawab sindiran-sindiran orang Quraisy tersebut. Rasulullah justru menyuruh umat muslim yang hendak melakukan tawaf tersebut untuk berlari di tiga putaran pertama. Ini yang kemudian menjadi salah satu sunnah dalam melakukan tawaf, yaitu sunnah Raml yang berarti berlari-lari kecil dari sudut Hajar Aswad hingga sudut Rukun Yamani. Belum selesa sampai di situ. Lantas, apa lagi yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah menyuruh umat muslim yang laki-laki agar menurunkan sedikit baju ihramnya yang sebelah kanan dan menunjukkan lengan kanannya. Apa tujuannya? Tujuannya agar orang-orang Quraisy melihat bahwa inilah umat muslim yang mereka sindir-sindir karena penyakitan, justru saat ini sedang berlari-lari mengelilingi ka'bah sambil memperlihatkan tangan kanannya yang berotot. (Kisah detilnya jauh lebih menarik namun sulit untuk saya tuliskan, akan lebih asik jika disampaikan langsung lewat ucapan)

(iii) Lihat pula kisah bagaimana orang kaya seperti Abdurrahman bin Auf menangis ketika hendak memakan sebuah roti yang enak. Ketika hendak memakan roti tersebut, Abdurrahman bin Auf sambil menangis berkata (kurang lebih): "dulu Rasulullah sampai wafatnya tidak pernah makan roti seenak ini, tapi hari ini aku dapat memakan ini dengan begitu nyamannya. Aku khawatir bahwa kebaikan-kebaikanku telah Allah balas dengan kenikmatan di dunia ini."

Tiga kisah tersebut saya masukkan ke tulisan ini sebagai tiga sudut pandang dari tiga hal yang saya temui di instagram. Apa saja ketiga hal itu: (i) suffering, (ii) cara mengatasi, dan (iii) pamer kenikmatan. Pertama, kita sebagai umat muslim jangan justru mengeluh di instagram. Mengeluh karena sedang kesusahan skripsi, mengeluh karena ban bocor, mengeluh karena sedang UTS, mengeluh karena banyak tugas sehingga baru bisa tidur jam 2 pagi, mengeluh karena sudah tiga bulan belum liburan ke pantai, dan sebagainya. Shut up! Inilah yang saya bilang ketika orang tidak berilmu akan terhanyut dalam dunia ini dan kebingungan tentang jati diri islam itu sendiri. Lihat di kisah pertama bagaimana suffering yang dialami umat muslim hari ini, disiksa dengan tindihan batu di terik siang hari hingga kulit melepuh. Ada yang sampai kulitnya mengelupas dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, siksaan apa yang kita terima hari ini? Kok bisa hanya karena belum ke pantai dalam kurun waktu dua bulan terakhir hingga membuat kita mengeluh dan menangis-nangis di Instagram? Dan orang-orang yang mengeluh pun bukan orang-orang bodoh, melainkan para mahasiswa dari jurusan terbaik dan universitas-universitas terbaik se-Indonesia. Cukuplah sudah. Kita sudah terlalu terhanyut ke segala hal yang dikemudikan oleh orang-orang barat hari ini. Dan izinkan saya untuk berpesan sedikit kepada Anda: bahwa tidak ada yang namanya terlambat. Kita bisa sama-sama mulai mempelajari Islam toh saya juga masih sama-sama belajar. Kita lihat lagi bagaimana dulu ketika dunia ini dikemudikan oleh pemimpin-pemimpin muslim. Kita lihat lagi bagaimana cara pandang yang benar terhadap kehidupan ini. Kenapa? Karena penyesalan itu sakit sekali. Bayangkan jika kita justru terbangun di alam kubur dan menyesal bahwa ternyata kehidupan yang benar adalah kehidupan yang berdasarkan aturan Islam. Jika demikian, itu adalah seburuk-buruknya penyesalan. Karena kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa menyesali apa yang sudah kita perbuat.

Lalu, terkait dengan mengatasinya. Lihat, melalui kisah kedua bagaimana Islam memberitahu kita cara menunjukkan jati diri kita di hadapan orang lain. Islam zaman dulu dan hari ini sama-sama selalu dikaitkan dengan "orang-orang lapar", penyakitan, tertindas, dan lain-lain. Lalu, Rasulullah justru menyuruh kita untuk menunjukkan kekuatan kita di hadapan mereka semua. Selama mereka melihat kita, tunjukkan bahwa kita adalah orang yang kuat dan hebat. Sampai-sampai orang lain berpikir "gile ini orang ga ada matinya". Tunjukkan kekuatan kalian dan jangan justru mengeluh dengan apa yang dihadapi. Semua orang menghadapi berbagai masalahnya masing-masing dan itu adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada kehidupan yang berjalan tanpa masalah. Maka, tunjukkan bahwa kita sebagai umat Islam itu kuat, tidak seperti apa yang mereka pikirkan terhadap kita. Sekalipun karena kekuatan itu, membuat kita ketika masuk ke dalam kamar kita masing-masing, langsung tepar karena kelelahan.

Terakhir, melalui kisah ketiga, kita belajar tentang pamer. Banyak kisah sebenarnya tentang harta dan kemewahan yang dihadapkan dengan umat Islam. Hanya saja, perlu diketahui melalui kisah tersebut bahwa orang sekaya Abdurrahman bin Auf pun menangis ketika ia terus menerus menjadi orang kaya dan tidak bisa miskin. Poin yang saya maksud adalah: it's okay kalau kita hari ini ataupun kelak adalah orang kaya sehingga membuat kita bisa dengan nyaman memakan makanan enak di tempat yang nyaman terus menerus. Tapi, perhatikan bagaimana pola pikir yang harus dimiliki oleh orang-orang kaya. Perhatikan pola pikirnya Abdurrahman bin Auf di kisah tersebut. Ia bukan justru berhusnudzon kepada dirinya sendiri bahwa kenikmatan-kenikmatan yang diterimanya hari itu adalah karena berbagai sedekah dan amal solehnya selama ini. Ia malah bersu'udzon kepada dirinya sendiri hingga berkata bahwa yang ia khawatirkan adalah kenikmatan ini adalah balasan yang telah Allah berikan di dunia sebagai ganti dari kebaikan-kebaikannya selama ini. Maksud ucapannya apa, sih? Ia hanya takut kalau segala kekayaannya, makanan-makanan enak, tempat-tempat nyaman yang dimilikinya adalah balasan dari Allah atas kebaikan-kebaikannya sebelumnya, sehingga nanti di akhirat yang tersisa adalah siksaan Allah semata.

Kesimpulan
Saya menghapus akun sosial media saya karena alasan yang saya miliki sendiri. Saya hanya ingin berpesan bahwa semakin kita dewasa, semakin penting bagi kita untuk mulai berpikir dan bersikap sesuai dengan apa yang benar. Saya tidak lantas memboikot instagram. Saya justru masih memiliki akun instagram rahasia yang isinya hanya untuk mengetahui informasi-informasi terkait dakwah ataupun terkait pemerintahan dan up to date apa yang sedang terjadi hari ini di berbagai penjuru dunia (boong deng, sekalian buat liat Kirana juga). Melalui instagram juga saya bisa melihat kualitas umat islam hari ini seperti apa, dan sampai detik ini saya melihat, sih, masih belum bisa bangkit. Masih terpecah belah karena politik, masih banyak yang pacaran (apalagi yang berjilbab), masih banyak yang selfie (apalagi selfie sambil kasih hadits-hadits motivasi sumpah itu alay banget), dan lain-lain. So, gunakan akun sosial mediamu untuk menjadi orang yang lebih baik saja. Jangan justru kita menyesal kelak karena melalui sosial media tersebut justru mengalir dosa-dosa kita yang tiada putusnya. Foto-foto perempuan misalnya yang suka selfie atau suka mengumbar aurat, toh selain kalian pamer demi menuai pujian, kalian juga menuai rentetan dosa-dosa yang terus menerus mengalir melalui pandangan orang-orang yang bukan muhrim. Be careful, be gentle, be smart, be responsible. Itu yang terpenting. Karena neraka panas coy. Kemarin saya kesiram air mendidih aja perihnya ampe sekarang nih.