Rabu, 25 Januari 2017

Ready or Not? It Will Come

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya saat libur semester kemarin, saya berada di Depok dan saya mendapat kabar dari saudara saya di Jogja bahwa seorang Bapak tetangga saya di sana meninggal. Awalnya, saya tidak mengenali siapa orang tersebut karena memang saya tidak hafal namanya, tapi kemudian setelah saya berbincang dengan Ayah dan Bulik saya, saya tahu siapa orang yang dimaksud. Menariknya, jika ditarik lebih jauh ke beberapa minggu atau bulan ke belakang, saya sering sekali melihat bapak tersebut di masjid, saat berangkat atau pulang dari Masjid, atau sedang di dekat rumah memberikan makan cucunya yang sedang bermain. Lalu, saya teringat ke suatu pagi ketika saya berjalan di belakang beliau sepulang dari Masjid untuk melakukan sholat subuh. Saat itu saya melihat beliau yang berjalan di depan saya dengan sangat termenung. Dari fisiknya saya melihat tidak ada yang sakit dari bapak ini, saya yakin beliau sehat-sehat saja. Tapi, pagi itu saya berkata di dalam benak saya, "kenapa bapak ini? Gelisah banget gesturnya, kayak orang mau meninggal."

Yang ingin saya tulis di sini adalah beberapa momen yang sangat memorable tentang kematian orang di sekitar saya. Semuanya adalah murni yang pernah terbesit di benak saya, kejadiannya pun real, dan ini semua saya tulis dengan maksud untuk membagi pengalaman agar kita semua bisa belajar bahwa kematian tidak perlu menunggu tua ataupun sakit. Kematian bisa hadir dari arah yang tidak disangka-sangka. Kapanpun. Maka, pertanyaannya adalah, sudahkah kita menyiapkan diri kita untuk kapan saja dipanggil oleh-Nya?

Bang Ariyadi.
Itu bukan pengalaman saya satu-satunya. Ketika saya SMA, saya pernah juga berkata dalam benak saya sendiri tentang seorang kakak kelas saya, Bang Ariyadi. Awalnya saya tidak terlalu kenal siapa beliau, hingga Rohis mempertemukan kami. Beliau sama seperti anak SMA biasanya, kadang suka petakilan, beliau juga bijak dan suka menasihati saya sebagai adik kelas, apalagi menjelang akhir wafatnya, banyak nasihat-nasihat yang beliau sampaikan mungkin tidak hanya kepada saya, tapi juga ke beberapa teman saya. Beliau wafat ketika saya duduk di kelas XI, tapi jujur saja, saat saya kelas X, saya sempat merasa bahwa beliau sakit hanya main-main karena malas belajar. Saya sempat berpikir seperti itu dalam benak saya. Karena ketika saya pertama kali menjenguk beliau, ketika masih dirawat di RS. Fatahilah, beliau masih sangat ceria. Bahkan ada satu momen ketika saya duduk di samping beliau, kemudian beliau menepuk pundak saya sambil ketawa, "dhit, minggir dong, Ane mau nonton, ente ngalangin."

Lalu, setahun kemudian, Bang Ariadi yang seharusnya naik ke kelas XII malah tetap berada di kelas XI, satu angkatan dengan saya. Kelasnya juga berada di sebelah kelas saya, membuat kami sering ketemu dan berbincang. Saat itulah saya merasa bahwa sakit yang dialami beliau bukanlah main-main. Beliau tidak dinaikkan ke kelas XII karena hampir setahun tidak masuk sekolah. Semakin saya mengenal beliau, semakin saya mengenal keluarga beliau, semakin saya tahu bahwa beliau benar-benar sakit. Terakhir, ketika beliau masuk RSCM dan saya ikut menjenguk bersama teman-teman kelas XI IPA 6, kelas beliau, di saat itulah saya melihat sosok Bang Ariyadi yang benar-benar sakit. Beliau tersenyum, tapi dari raut wajahnya, dari matanya yang merah banget, tubuhnya yang juga semakin gemuk, itu semua tidak bisa membohongi rasa sakit yang dideritanya. Saya memang tidak bisa merasakan sesakit apa yang beliau rasakan, tapi saat itu benak saya berkata, "sumpah, kali ini beliau beneran sakit. Ga bisa dibohongin. Mungkin meninggal adalah cara paling tepat untuk membuat beliau berhenti tersiksa."

Beliau sempat berkata untuk tidak memberi tahu ke orang-orang di mana beliau dirawat, termasuk orang tuanya berkata demikian. Beliau berkata, beliau ingin istirahat full. Saya pun melihat, dan baru kala itu saya pertama kali melihat orang dirawat tidak ingin dijenguk oleh siapapun. Kala itu pula saya melihat betapa orang sangat tersiksa dalam sakitnya, hingga ketika orang datang menjenguk pun membuatnya harus menguras tenaga dan menahan rasa sakit untuk tersenyum dan melayani lemparan pertanyaan dari para penjenguk.

Amelia Aisyah.
Saya tidak terlalu kenal Amel. Pertama kali saya melihatnya itu ketika ada acara futsal di Smansa, lalu dia berjalan berdua bersama Faiq sambil menawarkan makanan untuk Danus sebuah acara. Saat itu kelas X dan dia belum menggunakan hijab. Saya tidak pernah berbincang dengan dia. Tatap-tatapan pun nampaknya ga pernah, kalaupun pernah mungkin sesekali, yaitu ketika saya, dia, Fahd, Rakhmi, dan satu lagi perempuansaya lupa (kayaknya Rafika), berada di satu mobil yang sama untuk mencari sponsor Aksi (pentas seni SMA saya). Lalu, saya ingat sebuah momen (mungkin ini bodoh ya dan ga perlu diceritakan, tapi saya beneran masih inget momen ini) ketika saya duduk di kursi depan mobil dan tangan kanan saya memegang bantalan kepala kursi saya. Lalu, dia masuk ke dalam mobil dan tangannya secara tidak sengaja memegang bantal kepala tempat duduk saya, sehingga dia sekaligus megang tangan saya saat itu. Dan selama saya kurang lebih 3 tahun di Smansa, mungkin cuma itu pengalaman terdekat saya dengan dia. Ngobrol ga pernah, rapat bareng juga kayaknya ga pernah. So no more.

Singkat cerita, sampailah pada hari yang kemudian beliau meninggal di hari tersebut. Saat itu sekitar pukul 11:30 siang, saya sedang berada di kelas XII IPS 1 alias Nakula. Seingat saya, saat itu sedang sesi kelas Sosiologi alias kelasnya Bu Tari. Saya lupa persisnya, tapi kurang lebih saat itu sesinya sedang ga jelas di kelas. Mungkin habis kuis, atau habis ngerjain sesuatu, tapi sudah selesai sebelum bel berbunyi. Jadi, saya memutuskan untuk pergi ke Al Wustho lebih awal untuk sholat dhuha sekalian sholat dzuhur nanti (karena saya belum sholat dhuha, jadi buru-buru). Lalu, saya melepas sepatu dan kaus kaki saya, kemudian berlari dalam kondisi telanjang kaki ke luar kelas menuju Al Wustho. Kemudian ketika saya sampai di tikungan dekat tribun, saya nyaris menabrak 2 orang perempuan yang awalnya saya tidak tahu karena saya tidak melihat wajahnya. Kemudian karena jalannya hanya muat untuk satu orang, maka saya mundur ke depan kelas XII IPS 2. Di sanalah kemudian saya melihat wajah dua perempuan yang nyaris saya tabrak itu. Mereka adalah Ome dan Amel. Ome yang pertama kali lewat sambil ketawa-ketawa memandang saya, lalu saya bales dengan gestur "sorry yak". Setelah Ome lewat, lalu Amel lewat sambil memandang saya dan tersenyum. Saya tidak ingat saat itu saya balas dengan gestur seperti apa, tapi kayaknya saya senyumin balik. Menariknya adalah, saat itu mungkin adalah kali pertama saya tatap-tatapan langsung dengan Amel, dikasih senyum pula. Dan setelah mereka lewat, saya kemudian kembali lari hingga terhenti di tangga dekat Al Wustho. Satu hal yang harus kalian percaya adalah, sejak saya disenyumin Amel sampai saya berdiri di tangga Al Wustho, saya berpikir sambil membayangi senyumannya. Saya berpikir persis apa yang saya tuliskan di postingan ini. Saya berpikir bahwa itu adalah senyuman satu-satunya selama 3 tahun ini dan entah kenapa senyuman itu masih terngiang-ngiang sampai saya wudhu. Jujur saja. Detik itu saya tidak pernah tahu apa yang terjadi maghrib nanti, yaitu kematian Amel. Detik itu, benak saya hanya berpikir, "sumpah manis banget senyumnya. gua gapernah merasa ada anak Smansa ngasih senyum semanis itu. sumpah wajahnya fresh banget. Tapi kenapa? Kok tumben? Mungkin ini pertama kali dalam 3 tahun sekolah di sini."

Mungkin kalo anak rohis udah menyebut ini sebagai zina mata atau zina pikiran. Tapi, jujur aja. Kalo di antara kalian yang membaca ini merasa bahwa ini dilebih-lebih kan, saya jawab: Nggak. Sumpah. Kalau memang saya lebih-lebihkan, maka ingin sekali menuliskan bahwa di saat yang bersamaan saya punya firasat tentang meninggalnya Amel. Tapi, jawabannya tidak. Yang ada di benak saya saat itu hanyalah senyuman Amel dan firasat "kok tumben ya?". Sebatas itu saja.

Kemudian kabar meninggalnya Amel saya dapatkan ketika saya sedang di rumah, tepatnya baru saja sampai rumah dari tempat Bimbel Nurul Fikri. Saat itu saya baru aja masuk rumah, duduk, TV belum sempat saya nyalakan, lampu rumah belum semua saya nyalakan, lalu saya langsung membuka handphone. Di saat itulah saya mendengar kabar meninggalnya Amel pertama kali. Memori saya seakan langsung melempar saya ke senyuman Amel siang tadi dan zina pikiran saya selama lari ke Al Wustho itu. Saya saat itu termasuk orang yang telat mengetahui kabar ini. Akhirnya saya pun komunikasi dengan Iqbal dan kami memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit jenazah. Saya juga ingat sekali, saat itu saya naik motor iring-iringan sama Iqbal, dan di jalan Iqbal teriak: "Ta! Jangan ngebut-ngebut. Santai aja. Kita juga udah telat. Nanti malah ente yang meninggal juga kalo ngebut!"

Sesampainya di rumah sakit, saya dan Iqbal berjalan lewat lorong-lorong entah ke mana arah yang mau kami tuju. Saya bingung banget. Saat itu sudah banyak sekali anak Smansa yang duduk di pinggir lorong dan menangis. Saya berbisik ke Iqbal, "kita mau berhenti di mana?". Lalu Iqbal jawab, "di ujung aja itu ada Abay, kita tanya-tanya ke Abay.". Ya, karena kami telat dan kami tidak dekat dengan Amel, maka cara yang tepat adalah bertanya ke ketua angkatan kami, Abay. Abay pun menceritakan ini itu dan kemudian entah siapa yang mendorong saya melakukan ini, dari mulut saya terceplos pertanyaan yang kemudian sangat saya sesali, "kamar mayatnya di mana, bay?". Abay jawab, "Tuh di situ, kayaknya boleh deh masuk." sambil menunjuk salah satu kamar di ruangan tempat kami berbincang.

Saya pun berjalan menuju ruangan tersebut yang kemudian diikuti Iqbal di belakang. Saya buka pintu ruangan tersebut dan..... Itu adalah pemandangan ter.... entahlah, saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini sepanjang hidup saya. Yang saya lihat adalah kamar kecil dengan seorang jenazah di dalamnya. Jenazah yang tertutup kain dan di bawahnya darah menetes ke lantai dari tubuh jenazah tersebut. Parahnya, kemudian beberapa teman saya yang tadinya duduk di lorong, ikut masuk ke dalam ruangan sempit ini dan melihat kondisi jenazah. Saya yang tidak bisa keluar ruangan karena begitu banyak orang di belakang saya yang menutup jalan keluar, membuat saya dengan terpaksa harus terus memandangi apa yang ada di hadapan saya. Dan percayalah, sepulang ke rumah, malam itu saya tidak bisa tidur dan baru tidur sekitar jam 2 atau jam 3 pagi. Lalu, saya juga sulit makan (enek kalo makan) sampai sekitar 3 hari.


***

Yang mau saya sampaikan di sini adalah bahwa kematian tidak selalu menunggu tua atau menunggu kita sakit. Di kisah pertama ada tentang kematian seorang bapak-bapak yang memang sudah tua. Lalu, ada juga kisah kematian Bang Ariyadi yang sebelumnya merasakan sakit yang begitu lama, hingga kepala beliau pun botak tanpa rambut sedikitpun. Lalu di kisah terakhir ada tentang kematian Amel yang begitu tidak terduga. Semuanya berjalan normal-normal saja sampai tiba-tiba malam itu Amel sudah tidak ada. Pertanyaannya adalah, apakah diri kita sudah siap untuk kapan saja dipanggil oleh-Nya?

Kamis, 19 Januari 2017

Di Tapal Batas Peradaban

Kuliah ke Jogja bisa dikatakan adalah mimpi saya sejak dulu. Ada dua hal yang menjadi daya tarik utama: kotanya dan kampusnya. Seperti yang telah saya tulis di salah satu postingan sebelumnya bahwa Jogja bukanlah sekadar sebuah kota, tapi Jogja adalah sebuah daerah istimewa yang di dalamnya tidak hanya berisikan orang-orang cerdas sebagaimana julukan yang disandangkan ke kota ini, yaitu Kota Pelajar. Tetapi kota ini juga berisikan orang-orang yang berkearifan lokal, mereka sangat santun, dan mereka juga dengan bangga menjaga kebudayaan yang dimilikinya, bukan justru kabur karena malu dengan nilai-nilai budaya yang melekat, nilai-nilai budaya yang cenderung berbau tradisional, tidak moderen. Itulah kenapa selain dijuluki sebagai Kota Pelajar, kota ini juga dijuluki sebagai Kota Kebudayaan.

Dari segi geografis, Jogja juga merupakan pusat atau sentral dari berbagai daerah di sekelilingnya, seperti: Sleman, Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul, dan Magelang. Kota-kota tersebut tersebar mengelilingi Kota Jogja yang walaupun kecil, tapi istimewa. Jogja seperti induk bagi daerah-daerah satelit di sekelilingnya. Jogja seperti ibu dan daerah-daerah di sekelilingnya ibarat anak-anaknya yang berlindung di balik nama Jogja. Meskipun daerah-daerah tersebut sudah berpenghasilan mandiri melalui berbagai pariwisata, kuliner, dan kerajinan tangannya, tetapi itu semua tidaklah lengkap kehadirannya tanpa adanya Kota Jogja yang seakan menyatukan mereka semua.

Melalui kota ini, saya belajar betapa mahasiswa dapat bersanding, duduk bersama masyarakat dengan tetap mengedepankan adab sopan santun dan saling menghormati. Melalui kota ini saya belajar betapa pelajar, khususnya mahasiswa, dapat turut serta secara langsung terhadap pembangunan sebuah kota, baik itu dalam hal sumber daya manusianya ataupun dalam hal infrastruktur. Melalui kota ini, saya belajar betapa suatu kampus memiliki peran yang sangat vital bagi perputaran roda ekonomi di sebuah kota. Melalui kota ini, saya belajar betapa pemerintah sangat menghargai dan mendengarkan suara warganya. Tidak ada konflik yang terjadi melainkan sepenuhnya karena rasa cinta dan takut akan hilangnya keistimewaan dari kota ini. Melalui kota ini, saya belajar betapa orang-orang yang memiliki world class competence juga ternyata memiliki grassroot understanding di dalam hati mereka. Mereka berprestasi? Yes! Bahkan sampai tingkat internasional. Tapi, di sisi lain, mereka tidak pernah dan tidak akan pernah berhenti menyebarkan ilmunya. Mereka turun dan turut membantu masyarakat di pinggir Kali Code, membangun dan memperindah daerah tersebut tanpa keributan, tanpa ada yang tersakiti. Tidak hanya itu, mereka juga turut membantu sumber daya manusianya, mendidik anak-anak yang tinggal di daerah yang bisa dikatakan sebagai "tempat kumuh"-nya Jogja. Kalaupun seisi kota sudah tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, mereka terus menyebarkan ilmunya, membagi ilmunya kepada masyarakat di daerah sekitarnya, seperti masyarakat Kulonprogo, Sleman, Gunungkidul, dan Bantul. Ini adalah potret kehidupan dimana pembangunan bukan sepenuhnya tugas pemerintah ataupun swasta, tetapi pembangunan adalah tugas semua komponen masyarakat. Seperti yang pernah disampaikan Anies Baswedan, bahwa mendidik merupakan tugas semua orang yang terdidik.

Alasan saya memilih kuliah di Jogja sebetulnya sangat sederhana, saya ingin melihat Indonesia lebih dalam. Saya ingin melihat para petani yang membajak sawah dengan kerbaunya. Saya ingin melihat hijaunya alam Indonesia. Saya ingin melihat keanekaragaman budaya yang ada dan juga merasakan ketentraman hidup di tengah keramah-tamahan rakyatnya. Di sini, saya dapat merasakan itu semua tanpa harus meninggalkan nuansa modernisasi perkotaan. Kenapa? Karena Jogja itu sendiri adalah kota, bahkan jauh lebih modern dibandingkan Depok, tempat asal saya.

Saya mungkin termasuk golongan orang-orang yang aneh, karena saya adalah anak Ibu Kota yang justru memilih untuk merantau ke luar. 500 km menjauh dari Ibu Kota. Bahkan tadinya jika saya tidak diterima di UGM, saya berencana kuliah lebih jauh lagi, yaitu di Malang. Ini semua bukan berarti saya membenci Ibu Kota. Bukan. Bagi saya, penting bagi kita untuk tetap keep in touch dengan pusat peradaban negeri ini. Hanya saja, seperti yang sudah saya jelaskan di awal, saya ingin mencari suasana yang berbeda. Menjauh dari suasana hiruk pikuk Ibu Kota yang hanya seputar Mall, gedung-gedung perkantoran, polusi, dan kemacetan. Sesekali, saya ingin hidup di tapal batas peradaban. Menghirup udara bersih, dan berada lebih dekat dengan masyarakat, khususnya kelas bawah. Saya hanya ingin ikut membajak sawah bersama mereka, ikut memanen sayur-sayuran bersama mereka, membantu mendidik anak-anak mereka, tanpa menghilangkan kewajiban saya untuk terus berprestasi di bidang akademik, tanpa menghilangkan kewajiban saya untuk berpendidikan tinggi. Tidakkah itu hal yang baik? Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang tidak hanya memiliki world class competence, tapi juga memiliki grassroot understanding. Karena di luar sana, kita dapat menemukan begitu banyak orang yang memiliki world class competence, tapi knows nothing about grassroot. Sebaliknya, banyak sekali dari mereka yang memiliki grassroot understanding, tapi justru has no competence. Dan itu adalah tantangan bagi anak muda saat ini.

Rabu, 18 Januari 2017

Menaklukkan Merapi

Semuanya berawal dari kakak tingkat saya yang menjadi pemandu saya ketika ospek fakultas, atau mahasiswa FEB UGM menyebutnya dengan nama Simfoni. Kedua pemandu saya: Mba Anita dan Mas Aziz sangat berpengaruh dalam kehidupan saya di UGM dan keputusan berorganisasi yang saya ambil atau lebih tepatnya telah saya ambil di masa perkuliahan ini. Saya masuk organisasi Syariah Economics Forum karena diajak oleh Mas Aziz dan saya pun mendaki Merapi saat itu karena diajak Mba Anita. Saat itu, saya masih menjadi mahasiswa baru di FEB UGM, perasaan saya sangat senang. Senang karena berkuliah di salah satu kota terbaik di Indonesia dan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Ketika mendengar Palmae mengadakan acara Fun Hiking saya pun merasa tertarik. Kala itu saya masih semester 1, lebih tepatnya bulan ke-4 berkuliah. Beberapa teman saya menyarankan saya untuk tidak mengikuti pendakian tersebut karena dirasa masih terlalu dini. Tapi, karena rasa excited saya, saya pun tetap memutuskan untuk berangkat meskipun saya tidak punya teman sama sekali kecuali Mba Anita sebagai mantan pemandu saya.

Kemudian, qodarullah saya dipertemukan dengan Ainur Rafiq, salah satu teman saya di FEB yang dulu sangat dekat tetapi sekarang sudah tidak terlalu dekat. Saya meminjam segala peralatan hiking dari mulai carier, jaket, kupluk, matrass, dan lain-lain. Tetapi, ada satu yang tidak dipinjamkan karena sudah dipinjam oleh orang lain, yaitu sleeping bag. Saya yang tidak mempunyai pengalaman mendaki sekalipun, pada saat itu, merasa bahwa tidak adanya sleeping bag bukanlah perkara besar. Akhirnya saya pun berangkat dengan perlengkapan yang lengkap, kecuali sleeping bag.

Meeting Point : FEB UGM.
Saya berjalan kaki dari rumah menuju meeting point dengan beberapa pertimbangan, salah satunya adalah karena saya bingung harus menitipkan motor selama 2 hari 1 malam ke mana. Alhasil, saya memutuskan berjalan sekitar 3 km dari rumah menuju kampus. Sesampainya di meeting point, saya langsung disambut oleh beberapa kakak tingkat yang tentunya sama sekali tidak saya kenali, sebelum akhirnya beberapa di antara kami masih akrab sampai sekarang dan ada yang sudah menikah pula. Lalu, tak lama datang seorang mahasiswa baru yang sepantaran dengan saya, namanya Firman. Ia adalah rekan seperjuangan pertama saya dalam mendaki. Dia adalah orang (aduh lupa, Medan kayaknya) Medan, seorang finalis OSN yang tidak terlalu kutu buku dan sampai saat ini kita berdua masih berteman sangat dekat. Lalu tak lama Mba Anita datang dan singkat cerita beliau mengetahui bahwa saya tidak membawa sleeping bag. Akhirnya saya disuruh pergi menggunakan motornya ke suatu tempat untuk menyewa sleeping bag. Saya pun mau ga mau harus menuruti perintahnya walaupun pada akhirnya saya tidak menemukan di mana tempat yang dimaksud. Alhasil saya kembali dengan tetap tidak memiliki sleeping bag. Mengetahui hal tersebut, orang-orang santai menanggapi dan salah satu kakak tingkat saya (laki-laki) ada yang mengatakan "Nanti kita satu sleeping bag berdua aja, dhit." Saya pun merasa lega mendengar kalimat itu.

Keberangkatan.
Kami pun berangkat sekitar jam 4 sore, saya diplotting naik motor digonceng oleh seorang kakak tingkat angkatan tua. Dan untungnya motornya adalah motor semacam Vixion sehingga dalam perjalanan motornya tidak terlalu ngeden saat menanjak dan tidak menyiksa bokong saya. Perjalanan cukup jauh, sempat nyasar di tengah jalan karena ternyata tidak ada satupun dari belasan orang di antara kita yang pernah mendaki Merapi sebelumnya. Lalu singkat cerita kami pun sampai di daerah Selo. Saya masih sangat ingat daerah tersebut, sangat indah, jalannya halus, pemandangannya sangat indah, ada kabut ringan, dan pokoknya tidak terlupakan lah. Kami sempat beristirahat di masjid dan kemudian kembali berhenti sejenak di suatu tempat dengan pemandangan puncak Gunung Merapi secara langsung. Saya pun hanya bengong takjub dan seakan tidak percaya kalau saya akan mendaki hingga berdiri di atas sana.

New Selo.
Saya lupa apa itu New Selo, kalau tidak salah ini adalah pos pertama. Tempat kendaraan bermotor harus berhenti dan dititipkan di sana. Yang saya senangi adalah di tim keberangkatan kami, para wanitanya sangat perhatian dan benar-benar mengecek kondisi kami apakah lapar atau tidak. Di pos tersebut agenda kami adalah memastikan tubuh kita kuat, sudah makan, dan sudah shalat. Maka, pada saat itu adalah kenangan pertama saya merasakan kenikmatan Pentol. Pentol adalah bakso kecil-kecil yang dimakan dengan campuran saus dan kecap. Dan saat itu, pertama kali saya merasakan Pentol itu enak sekali, sehingga sampai sekarang Pentol memberikan impresi enak bagi saya walaupun pernah saya temui Pentol yang ga enak (di pantai Parangtritis, sumpah Pentolnya gaada yang enak). Kemudian kami sholat maghrib sekaligus Isya dengan kondisi yang mulai dingn. Setelah itu kami pun bersiap untuk berangkat. Ketika hendak ingin berangkat, saya ditegur oleh seorang mba-mba dari tim kami. Ia menyarankan agar saya tidak memakai jaket agar badan saya terbiasa dulu dengan udara dingin, akibat dari saya tidak membawa sleeping bag maka saya harus tahan dengan dingin.

Perjalanan Menuju Pasar Bubrah.
Kami pun berangkat. Jalur pendakian sesuai ekspektasi, menanjak tinggi. Beberapa orang yang pernah mendaki mengatakan bahwa jalur pendakian ini jauh lebih curam jika dibandingkan merbabu. Kami terus mendaki bersama-sama, sesekali ada pendaki lain yang lewat sambil menyetel lagu dangdut kencang. Saya masih sangat ingat, karena momen tersebut antara mengganggu dan menyelamatkan juga. Mengganggu karena saya benci dangdut dan berisik banget. Menyelamatkan karena suasana jadi ramai dan bersemangat, serta menandakan bahwa yang susah tidak hanya kita-kita saja tapi juga ada orang lain. Sesekali saya iseng mengarahkan senter ke arah pepohonan, seperti pohon pisang dan lainnya semata-mata berharap melihat penampakan, tetapi tidak ada satupun penampakan yang muncul. Kami terus mendaki ditemani gemuruh suara pepohonan yang tertiup angin kencang dan bulan purnama yang sangat indah, jalanan tanah pasir yang kering membuat debu yang sangat mengganggu sepanjang perjalanan. Perjalanan tersebut berlalu dengan rasa kantuk yang sangat tinggi, saya ingat sesekali saya mendahului rombongan hingga sekitar 50 meter di depan agar bisa duduk sambil tidur hingga menunggu mereka menyusul saya. Itu saya lakukan beberapa kali, karena perjalanan kami berlangsung malam hari hingga larut demi mengincar sunrise esok pagi.

Pasar Bubrah.
Sesampainya di Pasar Bubrah, yang saya rasakan pertama kali adalah suhu yang berubah drastis. Dingin yang sangat menusuk kulit bagaikan jarum, ditambah lagi rasa kantuk yang memuncak, jalanan berbatu, angin kencang tanpa ada satu pohon pun yang menghalau, membuat saya berjalan dengan sempoyongan. Kami sampai puncak tidak bersama-sama, dari sekitar 12 orang, kami kehilangan 2 orang yang entah dimana mereka, salah satunya pun membawa tenda sehingga membuat saya sangat stress saat itu. Saya semakin stress ketika melihat lapak tenda yang nampaknya sudah habis dihabiskan oleh orang-orang yang lebih dulu sampai puncak daripada kami. Tidak ada lapak kosong, kalaupun ada pasti itu bebatuan keras yang kita tidak mungkin mendirikan tenda di atasnya. Alhasil saya, Firman, dan beberapa kakak tingkat yang sudah sangat tidak kuat pun langsung duduk menghangatkan diri dan berharap agar 2 orang yang berpencar itu segera ditemukan. Kala itu saya sangat tidak kuat, dingin yang benar-benar sangat menusuk bagai jarum. Semua pakaian yang saya punya sudah saya kenakan, baju berlapis 3 ditambah jaket, kaus kaki pun saya double tetapi dingin itu terus menusuk hingga membuat ujung jari kaki saya seakan mati.

Inilah momen yang paling memorable dalam pendakian pertama saya ini. Saya ingat betul saya sedang berlindung dibalik batu yang agak besar, kemudian menindih batu tersebut dengan tas kerier saya agar angin yang berhembus dapat sedikit terhalang. Tetapi cara tersebut sama sekali tidak berpengaruh, angin datang dari segala arah berhembus dengan kencang. Saya pun terus melipat tubuh saya sambil tiduran di atas batu tanpa mengetahui dan tanpa peduli dimana rekan-rekan saya yang lainnya. Hingga akhirnya saya tertidur dan 2x terbangun. Pertama, saya terbangun ketika ada seorang mba-mba yang saya yakin dia berasal dari tim saya tetapi saya tidak terlalu familiar dengan wajahnya. Dia bagaikan seorang Ibu dan saya anaknya, dia menengok saya, menanyakan bagaimana yang saya rasakan, kemudian membuka matras yang saya bawa dan menyelimutkannya di atas tubuh saya. Lalu dia berkata, "tunggu ya, sebentar lagi kita bikin tenda."

Jangan berpikir saya sudah merasa hangat saat itu, sama sekali tidak. Setiap kali terbangun, setiap kali itu pula saya merasakan dingin yang sangat menusuk hingga membuat saya menangis, beristighfar, dan saking depressnya saya berkata "aduh mati gua nih sumpah.. mati konyol gua kalo kayak gini...". Dan setelah momen mba-mba menyelimuti saya itu, tak lama saya kembali tidur hingga saya kembali dibangunkan oleh seorang mba-mba entah apakah orang yang sama atau bukan (karena malam itu saya sangat lelah dan kondisi sangat gelap). Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam tenda, sebelumnya saya mencari kerier saya yang tidak ada tapi mba nya bilang bahwa kerier saya sudah dimasukkan ke dalam tenda, maka saya pun langsung bergegas menuju tenda.

Saya langsung masuk ke dalam tenda yang di dalamnya sudah diisi oleh beberapa orang yang menggunakan sleeping bag. Saya tanpa bisa melihat dengan jelas langsung merangkak ke arah seseorang yang tidur tidak memakai sleeping bag dan saat itu kondisi sudah lebih hangat tetapi dingin masih sangat terasa. Yang saya butuhkan saat itu adalah tidur secepat mungkin agar saya tidak merasakan dingin yang menusuk tubuh ini. Dan saya pun berhasil tidur dengan susah payah.

Pagi hari menuju Puncak Merapi.
Pukul 4 pagi, saya terbangun karena suara yang cukup ramai di luar dan kakak tingkat saya yang membangunkan seisi tenda untuk menawarkan naik ke puncak. Saya terbangun dengan kondisi di kiri saya adalah perempuan, dan di kanan saya juga perempuan. Dan ini adalah kali kedua saya dengan tidak sengaja tertidur di sebelah perempuan. Pengalaman pertama saya adalah ketika acara Ubersocial di Villa-nya TDS alias Tiara Darmashanti. Waktu itu saya tertidur di depan tv sambil memegang remote karena tadinya hendak menonton sepak bola, tetapi kemudian saya tidur dan pagi harinya saya bangun sebelum orang-orang bangun. Dan saya sangat kaget karena saya tidur bersebelahan dengan seorang perempuan. Jadi... jangan salahkan saya karena saya memang tidak bersalah.

Lanjut, benak saya beradu antara mau berangkat ataupun tidak. Hingga akhirnya saya pun merasa tubuh saya mampu untuk berangkat ke puncak. Yang saya butuhkan adalah banyak bergerak agar tubuh saya terasa hangat. Dan benar saja, saat itu saya bangun, buang air kecil, dan tubuh saya langsung mulai terbiasa dengan kondisi dingin ini. Kami pun berangkat, dan saya sempat shock karena ternyata yang ikut berangkat hanya 5 orang, senior-senior yang sudah tua malah tidak naik ke puncak karena mereka kelelahan semalaman naik dengan membawa beban yang sangat berat. Alhasil kami berlima naik, 4 anak non-Palmae dan 1 anak Palmae. Tapi, tak lama berjalan 1 senior dari Palmae ini tertinggal di belakang dan akhirnya kembali ke tenda. Tersisalah 4 orang yang bukan anak palmae, yaitu saya, Firman, seorang kakak tingkat berkacamata yang saya lupa namanya, dan satu lagi Mas Andi yang sekarang sudah menikah. Kami membawa 1 tas yang isinya makan dan minuman, saya yang membawanya. Pendakian dari Pasar Bubrah menuju puncak inilah yang benar-benar terasa feel naik gunung. Persis seperti film 5cm ketika ada batu yang menggelinding dan lain sebagainya.

Sebelum sampai puncak, matahari terbit. Tapi kami sudah berada dalam posisi yang sangat tinggi, nampak tidak ada lagi yang setara dengan kami kecuali gunung Merbabu di belakang kami. Itulah sunrise terindah dalam hidup saya, sunrise yang tidak mampu dibayar dengan harga berapapun, sunrise yang mampu membayar segala lelah, kedinginan yang selama ini dirasakan. Kami berhenti untuk berfoto-foto sejenak. Mengabadikan momen berharga ini.

Kemudian kami berjalan lagi. Matahari mulai naik dan kami belum juga sampai di puncak, jaket yang kami pakai sudah mulai kami lepas lagi karena kondisi sudah tidak sedingin tadi pagi. Sekitar 100 meter menuju puncak kami pun break sebentar, sekitar pukul 6:15 pagi. Saya duduk, membuka tas, mengeluarkan air dan memakan persediaan yang ada sambil menunggu 2 rekan yang tertinggal beberapa meter di bawah kita. Kemudian mereka berada di satu ketinggian yang sama, tetapi tidak dapat mendekat karena kontur lereng yang berbatu dan tidak rata membuat kami bagai berada di dua jalur terpisah. Saya dan Mas Andi, Firman dan mas yang satu lagi. Untuk memberikan minum pun saya harus melempar botol 1,5 liter tersebut ke mereka.

Setelah selesai sarapan, kami langsung berangkat lagi menuju puncak. Dan tak berselang lama, kami pun sampai di puncak merapi. Puncak merapi bisa dibilang cukup sempit, mundur sekitar 3-5 langkah maka Anda bisa langsung terperosok ke lereng gunung yang cukup curam. Terlihat pula kawah dengan diameter yang sangat lebar, kita tidak bisa mengeliling kawah tersebut karena selain lebar, di sisi lain gunung ini pun ada bekas longsoran, sehingga kita tidak bisa melaluinya. Memang puncak dan lereng gunung ini benar-benar berisikan pasir dan batu. Ketika kami mendaki tadi ada satu momen dimana ada batu yang jatuh dan kami harus menghindar, dan itu tidak hanya sekali.

Gunung ini sudah sejak lama terngiang di kepalaku, ketika kudengar kata Jogja maka gunung inilah yang ada di pikiranku. Maka, saat itu adalah momen yang sangat berharga. Sebuah kehormatan yang sangat mendalam bagi saya untuk bisa berdiri di puncak Gunung Merapi dan mengibarkan bendera merah putih di atasnya. Perjalanan yang sungguh tak terlupakan. Perjalanan yang kelak akan saya ceritakan kepada anak cucu saya.

**Perjalanan pulang tidak diceritakan. Tapi yang perlu diketahui adalah bahwa perjalanan pulang jauh lebih membuat kaki lelah. Sangat lelah, walaupun lebih cepat. Saya baru shalat subuh sekitar pukul 7:30 pagi di dalam tenda karena saya benar-benar baru ingat belum shalat subuh. Rekan-rekan saya yang lain? Saya tidak tahu apakah mereka sudah shalat atau belum dan saya tidak menanyakannya. Dan di perjalanan pulang kami benar-benar terpisah. Saya terpisah seorang diri, sehingga saya turun gunung benar-benar seorang diri. Kaki yang sangat lelah menopang tubuh, kerier yang sangat berat, serta jalan tanah berpasir yang licin dan berdebu membuat saya selalu terjatuh di setiap beberapa langkah. Tetapi kami semua berhasil mencapai bawah kembali dan pulang dengan selamat. Yang perlu diingat adalah bahwa naik gunung bukan soal naik saja, tapi juga soal turun dari gunung tersebut. Keduanya sangat melelahkan.

Berikut foto-fotonya:

Kiri ke Kanan : Saya, Mas Gatau namanya, Mas Andi (yang sekarang udah nikah dan lagi S2 di Norway kalo ga salah), dan Firman Army (temen seangkatan saya).

 Sunrise Sebelum sampai Puncak. Bahagia banget.

 Ini Puncak Merapi Loh! Gunung yang waktu itu meletus!

 Muka ini menunjukkan rasa lelah yang amat sangat tidak dapat disembunyikan lagi.

Backgroudnya Sumbing & Sindoro, Merbabu ada di kanan ga masuk frame. 

 Jempol buat sunrise sekeren ini.

Pose keren nahan panas dan lelah sebelum turun. 

Nih bayangin medannya kayak gini. Sarapan snack di atas batu-batu kayak gini. Dan lempar aqua 1,5 liter antar tebing kayak gini.

Jumat, 06 Januari 2017

Memoar









I've never asked God to have them in my life.
Somehow it just did.
Somehow I'm happy.
Somehow I'm thoroughly thankful.
But, I don't know about our future like I don't know why we started it.
Sometimes I feel anxious.
That one day we might can't see each other anymore.
Sometimes I feel strongly confidence.
That we'll stay together since everything's always fine.
And for all of these cases,
I just wanna say what Tere Liye's ever said,
"Aku tidak akan menangis karena sesuatu telah terjadi,
tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi."

~dan saya ga pernah post kalian ke feed instagram saya, bukan karena kalian tidak bermakna~

Thank You.