Minggu, 30 April 2017

Secangkir Kopi dan Sendok Teh

Secangkir kopi dan sendok teh
Yang menjagaku agar tetap hangat
Di kala hujan menerpa dahsyat
Dan aku hilang semangat

Secangkir kopi dan sendok teh
Berbeda tapi menentramkan
Berbeda tapi menghangatkan
Berbeda tapi saling melengkapi

Secangkir kopi dan sendok teh
Lantas mereka saling mendebat
Lantas mereka saling menghujat
Lantas mereka saling berbeda pendapat

Kenapa tak kau ubah saja sendoknya menjadi sendok kopi?
Kenapa tak kau tuangkan saja tehnya ke dalam cangkir?
Menjadi secangkir kopi dan sendok kopi
Atau secangkir teh dan sendok teh

Secangkir kopi dan sendok teh
Karena satu hal yang ku tahu,
Berbeda itu untuk saling melengkapi
Bukan untuk menang sendiri

oleh Adhita Prananda
Yogyakarta, April 2017

Senin, 17 April 2017

Menghapus Akun Sosial Media (Updated)

Sebelumnya, saya udah berpikir cukup panjang apakah benar-benar akan menuangkan alasan-alasan tersebut ke sebuah tulisan atau tidak. Karena pada dasarnya kita semua memiliki sikap dan tujuan yang berbeda-beda terhadap sosial media kita masing-masing. Ada yang mungkin benar-benar addicted seperti saya, ada pula yang mungkin "don't give a shit" terhadap apa yang dia lihat di feeds-nya. Ada pula yang memang tujuan akun instagramnya untuk sharing foto-foto keren, ada yang ingin keep in touch dengan teman-temannya, ada yang fokus mencari berbagai informasi, mencari jodoh, atau mungkin ada pula yang sengaja ingin memamerkan seluk beluk kehidupannya. Jadi, ya tergantung.

Saya memutuskan untuk menghapus akun saya sebenarnya sudah terpikirkan sejak lama. Ada beberapa faktor yang membuat saya pada akhirnya memutuskan pada sekitar 2 minggu yang lalu untuk benar-benar menghapus akun tersebut. Sebelumnya, percobaan untuk menghapus akun tersebut tidak hanya sekali saya lakukan. Pertama kali saya coba, saya menemukan kesulitan untuk menghapusnya karena satu dan lain hal hingga pada akhirnya saya menyerah dan terus mempertahankan akun instagram saya. Kedua kali saya mencoba, saya sudah sampai pada titik ketika saya bisa menghapus akun instagram tersebut dan hanya tinggal diklik saja. Namun, akhirnya saya masih ragu-ragu dan tetap mempertahankan akun instagram tersebut. Ketiga kali saya mencoba, saya kembali mengalami kesulitan dan tidak bisa menghapus akun tersebut. Hingga akhirnya saya hubungi salah seorang teman saya yang pernah menghapus akun instagramnya (terus bikin lagi kalo dia). Lantas, dia seketika mengulurkan pertolongan kepada saya agar sore itu biar dia saja yang menghapus akun saya tersebut. Yowes, saya berikan username dan password saya dan boom.... hilang seketika akun saya.

Satu hal yang perlu kalian ketahui adalah: bahwa menghapus sebuah akun sosial media dimana sebelumnya Anda sangat bergantung padanya, tempat Anda sharing kegiatan Anda, tempat Anda berkomunikasi dengan teman-teman Anda bahkan yang berada di luar negeri sekalipun, tempat Anda menghibur diri Anda sendiri sehari-harinya, tempat Anda curhat, dan lain-lain, itu tidaklah semudah yang Anda pikirkan. Di awal memang nampak seperti "okay, it's gone.", tapi kemudian akan mulai bermunculan perasaan-perasaan menyesal seperti "kenapa ga temporaily aja deletenya?", "kenapa begini....?", "kenapa begitu....?", dan lain-lain. Maka, butuh alasan yang sangat kuat jika memang Anda memutuskan untuk menghapus akun sosial media Anda dan butuh mental yang kuat pula karena setelah akun tersebut terhapus, yakinlah di pikiran Anda akan tergulir bisikan-bisikan yang membuat Anda merasa menyesali perbuatan tersebut.

Lantas, apa alasan saya menghapusnya? Btw, ini alasan saya murni lho ya. Saya ga akan memfilter alasan-alasan saya hanya demi kenyamanan pembaca, okay? And I don't give a shit about what people think of me~

1. Perasaan Takut
Sebenarnya perasaan yang saya maksud di sini sangatlah umum. Tapi, karena perasaan-perasaan yang umum tersebut cenderung membuat saya menjadi unhappy dan uncertainty, bikin labil lah pokoknya. Maka, perasaan-perasaan tersebut saya gabung jadi satu lewat satu kata, yaitu takut.

Saya adalah manusia yang hidup di abad ke-21 dan saat ini sedang berusia 21 tahun. I mean, ini adalah usia proses bagi kebanyakan orang. Kebanyakan teman-teman saya yang berada di usia ini, mereka masih berkuliah dan masih membangun cita-citanya. Ada yang sering sekali meng-update kegiatan sehari-harinya bersama teman-temannya, ada yang meng-update sedang belajar, sedang kuliah, sedang pergi ke suatu tempat, sedang berada di seminar ini dan itu, sedang foto bersama profesor ini dan itu atau artis ini dan itu, dan lain-lain. Satu kenyataan yang tidak terlihat dari fenomena ini adalah perasaan iri ataupun hasad yang muncul pada diri saya. Saya menyadari bahwa ini semua membuka ruang bagi setan untuk masuk ke dalam diri saya. Dan believe me, in the end, it could drives me crazy, even sometime i can simply against my own ambitions  and i can't recognize myself anymore. Seringkali karena ini semua, saya menjadi lupa siapa saya sebenarnya, saya sudah sampai di mana, apa yang ingin saya tuju, simply karena distraksi-distraksi yang ada di instagram tersebut. Distraksi-distraki tersebutlah yang membisikkan ke telinga saya pertanyaan-pertanyaan seperti: "Dhit, tuh lihat mereka...", "Dhit, masa lo hari gini cuma kayak gini....", "Dhit, payah banget sih....". And I can't help it.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Di awal sudah saya jelaskan bahwa ini tergantung pada diri kita masing-masing dalam menyikapi sosial media kita, termasuk konten-konten yang ada di dalamnya. Sedangkan saya, saya hanya ingin hidup terbebas dari perasaan takut ini semua. Perasaan takut yang muncul lewat bisikan-bisikan tersebut, yang membangkitkan rasa hasad dan rasa iri dalam diri saya. Ketika saya sedang belajar, saya ingin membuka instagram. Ketika saya hendak tidur, saya membuka instagram. Ketika saya bangun tidur, saya buka instagram. Ketika saya hendak bepergian ke suatu tempat, saya membuka instagram. Ketika saya mendapat kabar bahagia, saya membuka instagram. Ketika saya sedang merenungi sesuatu, saya membuka instagram. Lengkap sudah, Instagram ini benar-benar melilit diri saya. Perasaan-perasaan hasad dan iri tersebut seakan muncul sebagai stimulus atau perangsang bagi diri saya untuk bisa bertahan di Instagram dengan senantiasa mengupdate kegiatan-kegiatan saya. Tujuannya apa? Bukan lagi karena orang lain butuh informasinya, melainkan karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kehidupan kita sendiri tidak berbeda bahkan lebih berwarna daripada kehidupan mereka.

2. Biesta Adri Azizi
Ada yang kenal dengan nama di atas? Ya, dia adalah salah seorang adik kelas saya. Dulu, dia adalah adik kelas saya di SMAN 1 Depok, dan kini dia menjadi adik tingkat saya di Fakultas Kedokteran UGM.

Semuanya berawal dari suatu hari ketika saya sedang melihat video ceramahnya ustadz Budi Ashari di Youtube. Melihat video-video dakwah di Youtube adalah kebiasaan saya, apalagi video ustadz Budi Ashari dimana beliau sangat paham di bidang Sirah Nabawi (Sejarah Nabi), yang merupakan bidang favorit saya. Hingga saya sampai berpikir bahwa tidak ada lagi orang di antara teman-teman saya yang paham tentang Sirah Nabawi lebih dalam dibandingkan saya. Jujur. Karena saya suka sekali membaca buku Sirah Nabawi ataupun mendengarkan kajian-kajian ustadz Budi Ashari di Youtube yang selalu menyinggung-nyinggung tentang Sirah Nabawi atau kisah-kisah di saat Nabi Muhammad masih hidup bersama para sahabatnya.

Namun, ada hal lucu ketika saya melihat video tersebut. Ada satu pemandangan yang membuat saya merasa benar-benar tertampar. Bukan karen kajiannya, melainkan karena ketika kamera sedang mengarah ke audience, di situ saya melihat sosok teman saya, Biesta, sedang mengaji seorang diri dengan sangat serius. Saya sempat sangat shock di awal. Dan saya tertampar betul karena beberapa alasan: (i) Saya sering berdiskusi dengan Biesta, salah satunya tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Kami berdua bersama beberapa laki-laki SMAN 1 Depok saat ini punya program pertemuan untuk belajar bahasa arab tiap minggunya dan Biesta ditunjuk sebagai gurunya karena memang sangat capable. Saya, dalam berdiskusi dengan dia dan teman-teman saya lainnya, terang-terangan mengatakan bahwa saya sangat update dengan kajian-kajian Sirah Nabawi, dan cukup dekat dengan ustadz Budi Ashari baik dalam mengikuti kajian secara langsung dengannya ataupun hanya menonton di Youtube. Namun, saat itu apa yang terjadi? Dia yang selama ini diam dan ngangguk-ngangguk saja terhadap nasihat-nasihat saya yang berdasar pada Sirah Nabawi, ternyata selama ini berada jauh di depan saya. Saya yang hanya merupakan seseorang penuntut ilmu lewat Youtube, dihadapkan langsung dengan dia yang berada di tengah kajian tersebut. Saya juga ingat kajian itu adalah kajian yang berlangsung pada Ramadhan tahun lalu dan saya tidak hadir karena memilih untuk melakukan aktivitas lain, sedangkan dia hadir langsung ke kajiannya.

Poin yang saya maksud sebenarnya adalah tentang tamparan tersebut. Ibarat Anda misalnya sangat cinta pada drama-drama Korea dan selalu menceritakan progress drama tersebut kepada seorang teman Anda. Lalu, teman Anda hanya mengangguk-ngangguk menyimak progress yang Anda ceritakan. Hingga tiba-tiba Anda menonton sebuah episode dimana teman Anda tersebut berada di dalam drama korea yang sedang Anda tonton, menjadi lawan main dari artis yang Anda puja-puja dan selalu Anda ceritakan kepada teman Anda tersebut. Gimana rasanya? Tertampar, kah? 

(ii) Saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri: "Gimana bisa di dunia abad ke-21 ini masih hidup sosok orang-orang yang mengerjakan sesuatu tanpa perlu pamer kepada orang lain?". Bagaimana bisa ada seseorang yang hidup di zaman ini dan bisa fokus begitu saja menuntut ilmu tanpa perlu update atau mengupload kegiatannya tersebut ke sosial media? Bagaimana bisa ada orang-orang seperti itu? Setelah saya melihat langsung kejadian terebut, saya kembali membulatkan tekad bahwa saya bisa hidup dengan bebas tanpa instagram. Saya bisa fokus menuntut ilmu. Saya bisa lebih ikhlas dalam menjalani apapun tanpa harus khawatir bagaimana balasan dari teman-teman saya. Saya bisa lebih nyaman dalam menjalani aktivitas dan beribadah, tanpa perlu mengkhawatirkan persepsi orang lain terhadap diri saya.

3. Kisah-Kisah yang ada di Sirah Nabawi.
Saya dan Biesta adalah dua orang yang sepakat bahwa Sirah Nabawi adalah buku yang harus dibaca oleh setiap orang muslim, baik dia berilmu ataupun tidak. Kenapa? Karena di Sirah Nabawi lah kita tahu gambaran Rasulullah itu seperti apa, bagaimana Beliau menjalani kehidupan sehari-harinya, masalah apa saja yang ada, kondisi lingkungan internal dan eksternalnya seperti apa, seberapa jahiliyahnya zaman tersebut, sebijakasana apakah Rasulullah dalam berucap ataupun dalam menyelesaikan permasalahan. Semua ada di situ. Maka, orang muslim yang berilmu (dalam hal Muamalah atau Fiqh atau lainnya), jika ia tidak melengkapi dirinya dengan gambaran Sirah Nabawi (gambaran tentang bagaimana Rasulullah menjalani kehidupannya dulu), ia tidak akan bisa bijaksana dalam mengamalkan ilmunya, baik itu kepada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain. Sedangkan orang yang tidak berilmu, jika ia tidak mengetahui gambaran bagaimana exactly Rasulullah menjalani kehidupannya dulu, ia akan hanyut dalam kehidupan dunia ini dan tanpa sedikitpun merasa bersalah akan berucap: "Itu kan ajaran Islam jaman dulu, hari ini kondisi udah berubah".

(i) Lihat kisah bagaimana umat muslim di zaman Rasulullah hidup, ketika muslimin disiksa habis-habisan oleh masyarakat Quraisy dan di sisi lain mereka tidak boleh membalas siksaan-siksaan tersebut. Kenapa? Karena turun perintah dari Allah melalui Rasulullah, perintah yang mengatakan untuk "menahan tangan-tangan umat muslim". Maksudnya adalah agar umat muslim tidak membalas siksaan-siksaan dari mereka. Di kisah ini, orang yang tidak berilmu akan mengatakan "kenapa ga dibales itu coy! Bego banget sih itu kan lagi disiksa kok malah ga dibales!", tapi orang yang berilmu akan memilih untuk mengikuti ucapan Rasulullah. Orang berilmu akan berpikir "biarlah kami disiksa dan kami tidak akan membalasnya selama Rasulullah melarang kami membalasnya. Biarlah Allah ganti siksaan ini dengan Surga bagi kami, dan jikalau kami mati karena siksaan ini, kami akan syahid dengan ganjaran Surga.". Kalau kita baca Sirah Nabawi, kejadian ini memang aneh karena Rasul melarang umat muslim membalas siksaan yang dilakukan kaum Quraisy. Tapi, ada pesan yang hendak disampaikan melalui sikap ini: bahwa Rasulullah ingin menguji umat muslim apakah taat kepada pemimpinnya atau tidak. Apakah keislaman mereka benar-benar islam yang seutuhnya atau hanya di bibir saja, di sini mereka diuji. Lalu, lihat apa yang terjadi puluhan tahun kemudian. Mereka yang dulunya sangat menaati Rasulullah dan menaati aturan Islam, puluhan tahun kemudian tersebar menjadi pemimpin-pemimpin yang adil di berbagai penjuru dunia. Tidak hanya Mekkah, tapi di berbagai penjuru dunia. Mereka yang patuh kepada pemimpin sekalipun tersakiti, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin hebat yang adil bagi rakyat-rakyatnya. Itu pesannya.

(ii) Lihat juga kisah ketika muslimin yang hendak melakukan tawaf di Mekkah disindir-sindir oleh petinggi-petinggi Quraisy. Kenapa? Karena di Sirah Nabawi dijelaskan bahwa Madinah, tempat umat muslim berada, dulunya adalah tempat yang penuh dengan wabah penyakit. Wabah penyakit tersebut dinamakan dengan Demam Madinah. Orang-orang seperti Bilal bin Rabah dan Abu Bakr Ash Shiddiq pernah terkena wabah penyakit ini, hingga Rasulullah mendoakan kesembuhan bagi keduanya dan berdoa agar wabah penyakit tersebut dihilangkan dari Madinah. Lalu, ketika umat muslim tersebut hendak tawaf di Masjidil Haram dan disindir-sindir oleh petinggi Quraisy dengan sindiran-sindiran seperti: "Tuh lihat.. orang-orang penyakitan mau tawaf. Paling dua puteran juga ga kuat.". Lalu, lihat pula bagaimana Rasulullah menjawab sindiran-sindiran orang Quraisy tersebut. Rasulullah justru menyuruh umat muslim yang hendak melakukan tawaf tersebut untuk berlari di tiga putaran pertama. Ini yang kemudian menjadi salah satu sunnah dalam melakukan tawaf, yaitu sunnah Raml yang berarti berlari-lari kecil dari sudut Hajar Aswad hingga sudut Rukun Yamani. Belum selesa sampai di situ. Lantas, apa lagi yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah menyuruh umat muslim yang laki-laki agar menurunkan sedikit baju ihramnya yang sebelah kanan dan menunjukkan lengan kanannya. Apa tujuannya? Tujuannya agar orang-orang Quraisy melihat bahwa inilah umat muslim yang mereka sindir-sindir karena penyakitan, justru saat ini sedang berlari-lari mengelilingi ka'bah sambil memperlihatkan tangan kanannya yang berotot. (Kisah detilnya jauh lebih menarik namun sulit untuk saya tuliskan, akan lebih asik jika disampaikan langsung lewat ucapan)

(iii) Lihat pula kisah bagaimana orang kaya seperti Abdurrahman bin Auf menangis ketika hendak memakan sebuah roti yang enak. Ketika hendak memakan roti tersebut, Abdurrahman bin Auf sambil menangis berkata (kurang lebih): "dulu Rasulullah sampai wafatnya tidak pernah makan roti seenak ini, tapi hari ini aku dapat memakan ini dengan begitu nyamannya. Aku khawatir bahwa kebaikan-kebaikanku telah Allah balas dengan kenikmatan di dunia ini."

Tiga kisah tersebut saya masukkan ke tulisan ini sebagai tiga sudut pandang dari tiga hal yang saya temui di instagram. Apa saja ketiga hal itu: (i) suffering, (ii) cara mengatasi, dan (iii) pamer kenikmatan. Pertama, kita sebagai umat muslim jangan justru mengeluh di instagram. Mengeluh karena sedang kesusahan skripsi, mengeluh karena ban bocor, mengeluh karena sedang UTS, mengeluh karena banyak tugas sehingga baru bisa tidur jam 2 pagi, mengeluh karena sudah tiga bulan belum liburan ke pantai, dan sebagainya. Shut up! Inilah yang saya bilang ketika orang tidak berilmu akan terhanyut dalam dunia ini dan kebingungan tentang jati diri islam itu sendiri. Lihat di kisah pertama bagaimana suffering yang dialami umat muslim hari ini, disiksa dengan tindihan batu di terik siang hari hingga kulit melepuh. Ada yang sampai kulitnya mengelupas dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, siksaan apa yang kita terima hari ini? Kok bisa hanya karena belum ke pantai dalam kurun waktu dua bulan terakhir hingga membuat kita mengeluh dan menangis-nangis di Instagram? Dan orang-orang yang mengeluh pun bukan orang-orang bodoh, melainkan para mahasiswa dari jurusan terbaik dan universitas-universitas terbaik se-Indonesia. Cukuplah sudah. Kita sudah terlalu terhanyut ke segala hal yang dikemudikan oleh orang-orang barat hari ini. Dan izinkan saya untuk berpesan sedikit kepada Anda: bahwa tidak ada yang namanya terlambat. Kita bisa sama-sama mulai mempelajari Islam toh saya juga masih sama-sama belajar. Kita lihat lagi bagaimana dulu ketika dunia ini dikemudikan oleh pemimpin-pemimpin muslim. Kita lihat lagi bagaimana cara pandang yang benar terhadap kehidupan ini. Kenapa? Karena penyesalan itu sakit sekali. Bayangkan jika kita justru terbangun di alam kubur dan menyesal bahwa ternyata kehidupan yang benar adalah kehidupan yang berdasarkan aturan Islam. Jika demikian, itu adalah seburuk-buruknya penyesalan. Karena kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa menyesali apa yang sudah kita perbuat.

Lalu, terkait dengan mengatasinya. Lihat, melalui kisah kedua bagaimana Islam memberitahu kita cara menunjukkan jati diri kita di hadapan orang lain. Islam zaman dulu dan hari ini sama-sama selalu dikaitkan dengan "orang-orang lapar", penyakitan, tertindas, dan lain-lain. Lalu, Rasulullah justru menyuruh kita untuk menunjukkan kekuatan kita di hadapan mereka semua. Selama mereka melihat kita, tunjukkan bahwa kita adalah orang yang kuat dan hebat. Sampai-sampai orang lain berpikir "gile ini orang ga ada matinya". Tunjukkan kekuatan kalian dan jangan justru mengeluh dengan apa yang dihadapi. Semua orang menghadapi berbagai masalahnya masing-masing dan itu adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada kehidupan yang berjalan tanpa masalah. Maka, tunjukkan bahwa kita sebagai umat Islam itu kuat, tidak seperti apa yang mereka pikirkan terhadap kita. Sekalipun karena kekuatan itu, membuat kita ketika masuk ke dalam kamar kita masing-masing, langsung tepar karena kelelahan.

Terakhir, melalui kisah ketiga, kita belajar tentang pamer. Banyak kisah sebenarnya tentang harta dan kemewahan yang dihadapkan dengan umat Islam. Hanya saja, perlu diketahui melalui kisah tersebut bahwa orang sekaya Abdurrahman bin Auf pun menangis ketika ia terus menerus menjadi orang kaya dan tidak bisa miskin. Poin yang saya maksud adalah: it's okay kalau kita hari ini ataupun kelak adalah orang kaya sehingga membuat kita bisa dengan nyaman memakan makanan enak di tempat yang nyaman terus menerus. Tapi, perhatikan bagaimana pola pikir yang harus dimiliki oleh orang-orang kaya. Perhatikan pola pikirnya Abdurrahman bin Auf di kisah tersebut. Ia bukan justru berhusnudzon kepada dirinya sendiri bahwa kenikmatan-kenikmatan yang diterimanya hari itu adalah karena berbagai sedekah dan amal solehnya selama ini. Ia malah bersu'udzon kepada dirinya sendiri hingga berkata bahwa yang ia khawatirkan adalah kenikmatan ini adalah balasan yang telah Allah berikan di dunia sebagai ganti dari kebaikan-kebaikannya selama ini. Maksud ucapannya apa, sih? Ia hanya takut kalau segala kekayaannya, makanan-makanan enak, tempat-tempat nyaman yang dimilikinya adalah balasan dari Allah atas kebaikan-kebaikannya sebelumnya, sehingga nanti di akhirat yang tersisa adalah siksaan Allah semata.

Kesimpulan
Saya menghapus akun sosial media saya karena alasan yang saya miliki sendiri. Saya hanya ingin berpesan bahwa semakin kita dewasa, semakin penting bagi kita untuk mulai berpikir dan bersikap sesuai dengan apa yang benar. Saya tidak lantas memboikot instagram. Saya justru masih memiliki akun instagram rahasia yang isinya hanya untuk mengetahui informasi-informasi terkait dakwah ataupun terkait pemerintahan dan up to date apa yang sedang terjadi hari ini di berbagai penjuru dunia (boong deng, sekalian buat liat Kirana juga). Melalui instagram juga saya bisa melihat kualitas umat islam hari ini seperti apa, dan sampai detik ini saya melihat, sih, masih belum bisa bangkit. Masih terpecah belah karena politik, masih banyak yang pacaran (apalagi yang berjilbab), masih banyak yang selfie (apalagi selfie sambil kasih hadits-hadits motivasi sumpah itu alay banget), dan lain-lain. So, gunakan akun sosial mediamu untuk menjadi orang yang lebih baik saja. Jangan justru kita menyesal kelak karena melalui sosial media tersebut justru mengalir dosa-dosa kita yang tiada putusnya. Foto-foto perempuan misalnya yang suka selfie atau suka mengumbar aurat, toh selain kalian pamer demi menuai pujian, kalian juga menuai rentetan dosa-dosa yang terus menerus mengalir melalui pandangan orang-orang yang bukan muhrim. Be careful, be gentle, be smart, be responsible. Itu yang terpenting. Karena neraka panas coy. Kemarin saya kesiram air mendidih aja perihnya ampe sekarang nih.

Minggu, 16 April 2017

Memperbaiki Kebobrokan Saya 1: Gempa Bumi & Tsunami

Saya, bisa dikatakan, ketika kecil adalah seorang anak yang nakal. Saya rewel, sering bertengkar dengan kakak saya, sering berontak jika keinginan tertentu tidak terpenuhi, sering kabur dari rumah, sering berkelahi dengan teman sebaya, dan sebagainya. Saya masih menyadari itu sampai hari ini. Masih tersimpan di memori saya bahwa suatu ketika saya pernah menjadi seorang yang sangat nakal. Di kelas 2 SD, saya pernah bertengkar dengan salah seorang teman saya hingga memecahkan salah satu jendela kelas. Tentu saja, hal itu membuat ayah saya harus dipanggil ke kantor sekolah pagi itu dan membuat saya diharuskan pulang ke rumah, tidak boleh melanjutkan sekolah pada hari tersebut. Di kelas 3 SD, saya pernah menempeleng kepala salah satu teman saya yang perempuan. Ia pada saat itu adalah teman cukup dekat, tinggal di satu perumahan dengan saya, kemudian ketika sedang bercanda saya pun menempeleng kepalanya dengan cukup kencang hingga ia menangis. Teman saya tersebut pun pada akhirnya mengadukan kejadian tersebut ke guru dan ibunya, membuat saya benar-benar harus merasakan betapa tidak enaknya dampak dari perbuatan tersebut. Sejak peristiwa itu, saya benar-benar pertama kali melihat bagaimana seorang ibu-ibu marah hingga melotot kepada saya. Di samping itu, setelah peristiwa itu, saya harus duduk di kursi yang sudah ditentukan oleh guru saya alias tidak boleh memilih tempat duduknya sendiri. Hingga sesuatu terjadi di kelas 3 semester 2. Sesuatu yang mungkin kita sering menyebutnya dengan sebutan: Hidayah.

Pagi itu adalah hari ketiga saya di Jogja, tepatnya hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006. Libur 4 hari berturut-turut di tengah kesibukan dunia kantor dan sekolah, membuat saya yang berasal dari keluarga Pegawai Negeri Sipil tergoda untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Adalah momen yang sangat jarang memang, karena keluarga saya biasanya hanya pergi ke Jogja di setiap momen Lebaran saja. Tapi, kali ini, Jogja seakan berbisik di telinga keluarga kami, meminta kami untuk berkunjung ke sana. Sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di hari sabtu tersebut. Selama saya di Jogja, tidak pernah terbesit firasat akan hadirnya fenomena-fenomena yang pada akhirnya akan merubah jati diri saya tersebut. Saya juga bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga religius. Saat itu, saya masih berumur 9 atau 10 tahun dan saya sudah disunat setahun sebelumnya. Tapi, tetap saja saya tidak melaksanakan shalat fardhu secara full 5 waktu, puasa Ramadhan pun tentu saja masih bolong-bolong. Saya tidak pernah terpikirkan hal-hal lain, seperti apa makna hidup ini, kemana kehidupan ini akan berakhir, ada tidaknya hari akhir, dan sebagainya. Yang saya tahu pada saat itu hanyalah main, sekolah, beli tas baru, beli sepatu baru, berkumpul bersama saudara-saudara saya, dan lain-lain. Hingga hari itu akhirnya tiba, membuat pandangan saya terhadap dunia menjadi jauh berubah dan jauh berbeda.

Sekitar pukul 6 pagi, di pusat kota Jogja. Saat itu saya sedang dalam posisi tidur terlentang di depan tv, ngulet sambil berbincang-bincang dengan Ayah saya yang juga sedang tiduran di sebelah saya sambil menonton tv. Di sebelah tv ada sebuah pintu yang langsung terhubung dengan ruang tamu dan teras rumah. Di sana saya melihat kakak saya yang sedang tengkurap di atas sofa dan sesekali ikut berbincang dengan saya dan Ayah saya. Di belakang saya, terdengar suara ibu-ibu yang nampaknya sedang berbincang-bincang sambil memasak di dapur, saya asumsikan Ibu saya berada di sana bersama bulik-bulik saya. Semuanya berlangsung sangat normal seperti pagi hari biasanya, hingga getaran kecil mulai saya rasakan.

Saat itu, sekitar 20 detik awal, saya, Ayah saya, dan kakak saya nampaknya sama sekali belum khawatir tentang apa yang akan terjadi. Di awal ketika getaran kecil itu mulai terasa, Ayah saya bertanya kepada saya dan kakak saya: "Ini getaran apa ya?". Lalu, saya secara spontan langsung menjawab: "Ada truk lewat depan rumah kali", kakak saya yang nampaknya tidak melihat truk ataupun kendaraan bermuatan besar lewat di depan rumah pun lantas membalas: "Pesawat jatoh kali ya? Ngarah ke sekitar sini?". Saya sempat berpikir ketika kakak saya berkata seperti itu. Logis memang, karena rumah saya berada di jalur terbangnya pesawat yang hendak landing di Adisucipto. Namun, ada yang lucu. Kalau memang ada pesawat hendak jatuh ke sini? Kenapa di antara kami bertiga tidak ada yang berdiri untuk menyelamatkan diri? Atau setidaknya memastikan apakah benar ada pesawat yang jatuh atau tidak? Yang saya lihat, justru kami bertiga masih tetap tidur-tiduran di tempat kami masing-masing tanpa ada satupun yang tergerak untuk berdiri. Hingga getaran perlahan mulai mengencang, Ayah saya berdiri dengan cepat, berjalan ke luar rumah sambil bertanya dengan nada yang agak tinggi, "Ini merapi kenapa ya? Masa sih erupsi? Kayaknya statusnya masih siaga..". Saya masih mendengar ucapan Ayah saya tersebut, tapi belum sampai ucapannya selesai, sosok Ayah saya sudah tidak saya lihat karena terhalang tembok yang membatasi ruang tamu dan ruang nonton tv. Selepas ucapan Ayah tersebut, kondisi berubah menjadi hening untuk beberapa saat, tidak ada yang menjawab pertanyaan Ayah. Hingga... tiba-tiba Ayah saya berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak "Semuanya keluaar!!! Gempa!! Gempa!!". Saya lantas kaget, tapi masih tetap tiduran karena masih sangat ngantuk. Saya lihat kakak saya sudah bangun dan berdiri dengan wajah yang ketakutan sambil menghadap ke dalam rumah. Ayah saya tidak berhenti di ruang tv, ia langsung menuju dapur untuk menyuruh Ibu dan bulik-bulik saya segera keluar rumah. "Mama, kompor jangan lupa dimatiin!", ucapnya yang terdengar sangat keras. Semuanya lantas berlari ke luar rumah. Ibu saya dan bulik-bulik saya berlari terlebih dahulu. Ayah saya lalu ikut berjalan cepat sambil menyeret kaki saya hingga sampai di pintu ruang tamu. Saya lalu berdiri dan langsung berlari menuju jalan depan rumah.

"Andhika! Adhita! Sini nak!!!", sesampainya di luar rumah yang saya ingat adalah teriakan Ibu saya yang memanggil-manggil nama saya dan kakak saya. Saya ingat betul saat itu semua tetangga juga ikut memenuhi jalan dan saling berpegangan satu sama lain. Kondisi jalan sangat padat dan banyak sekali orang. Ada seorang bapak-bapak yang masih menggunakan sehelai handuk yang menutupi bagian lutut sampai pusarnya, ada ibu-ibu yang menggunakan mukena, ada anak-anak yang sudah berseragam dan siap untuk sekolah, dan lain-lain. Semua orang panik. Saya ingat ketika orang-orang sambil berpegangan tangan menunjuk ke arah genteng masjid yang satu per satu berjatuhan. Di detik itu juga, saya sama sekali tidak merasakan takut. Justru, yang saat itu ada di benak saya adalah perasaan-perasaan seperti 'keren bangeett! kapan lagi ngerasain kayak gini...' atau 'gile, anak depok mana lagi yang punya pengalaman keren ngerasain gempa kenceng banget kayak gini...'. Hingga akhirnya gempa pun berhenti dan, jujur saja, yang ada di benak saya pada saat itu adalah perasaan ingin merasakan gempa ini lagi. Satu hal yang masih saya ingat tepat setelah gempa itu berlangsung adalah ucapan Ibu saya yang membisiki saya dan kakak saya. Ia berbisik, "Mas, Enta, tadi udah pada sholat subuh belum?". Lalu saya menjawab dengan polos, "belum", tanpa tahu apa maksud pertanyaan Ibu saya. Saya lupa jawaban kakak saya apa. Lalu Ibu saya lanjut berbisik, "Tuh kan, Allah marah tuh gara-gara ngga sholat subuh. Besok-besok sholat subuh terus yaa.". Saya tidak menangguk pada saat itu. Saya juga tidak lantas masuk ke rumah untuk sholat subuh. Saya hanya berpikir dan mengazamkan diri dalam hati bahwa setelah ini saya tidak akan meninggalkan sholat subuh.

Sekitar pukul 8:30 pagi, di pusat kota Jogja. Gempa sudah berlalu, tapi kami masih berada di luar rumah karena khawatir akan terjadi gempa susulan. Dan benar saja, beberapa gempa susulan terjadi kurang lebih sampai 6 kali. Semua orang panik meskipun itu hanyalah gempa dengan kekuatan yang kecil. Ayah saya langsung menelfon salah seorang tetangga saya, Pak Imam, untuk memintanya mencaritahu info ter-update mengenai gempa saat itu. Kenapa meminta tolong ke Pak Imam untuk mencari tahu informasi? Karena setelah gempa tersebut, listrik di Jogja secara keseluruhan padam dan saat itu belum ada facebook, sehingga benar-benar tidak ada informasi yang masuk. Lalu, Ayah saya mengajak kakak saya pergi naik motor untuk melihat kondisi-kondisi kota dan merekamnya dengan menggunakan handycam, sedangkan saya dilarang untuk ikut. Kurang lebih sekitar 20 menit kemudian, Ayah dan Kakak saya pulang ke rumah dengan membawa segudang informasi, dari mulai memperlihatkan (lewat rekaman handycam) kondisi Jogja yang ternyata banyak sekali bangunan yang rubuh, cerita beberapa orang pengendara yang menyaksikan bahwa dataran di lapangan alun-alun terlihat bergelombang saat terjadi gempa, dan informasi gempa dari Pak Imam. Informasi dari Pak Imam tersebut mengatakan bahwa gempa yang terjadi barusan, berkekuatan 5,9 SR yang berasal dari Pantai Selatan Jogja.

Sekitar pukul 10 pagi, melihat kondisi yang nampaknya sudah mulai bersahabat, saya diajak oleh Ayah saya untuk ikut membeli gudeg langganan di pinggir jalan Solo, tidak jauh dari rumah. Saya digonceng di tengah, diapit oleh Ayah saya yang mengendarai motor dan kakak saya yang duduk di belakang saya. Saya berangkat dengan tidak membawa apa-apa, kecuali sebuah handycam yang saya genggam di tangan kanan saya. Sejak kecil memang ada dua ciri khas saya dan kakak saya. Saya dipercaya untuk memegang handycam jika bepergian ke mana-mana, sedangkan kakak saya dipercaya untuk memegang kamera canon jadul. Memang seakan sudah menjadi spesialis masing-masing, saya dalam hal rekam-merekam sedangkan kakak saya dalam hal foto-memfoto. Lalu, sesampainya di tempat gudeg pinggir jalan tersebut, saya lihat antrean cukup panjang. Nampaknya, memang banyak orang yang memilih memesan gudeg daripada memasak di rumah. Lalu, di tengah-tengah mengantre tersebutlah fenomena tak terlupakan selanjutnya terjadi. Apa itu? Yaitu isu Tsunami.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa jalan Solo yang saya maksud adalah Blok Jalan Solo yang dekat dengan rumah saya. Hari ini, jalan solo yang saya maksud tersebut adalah dari perempatan Empire XXI hingga (Demangan) hingga ke perempatan Galeria Mall. Jalan tersebut sangat lebar, ada 4 lajur dimana keempat lajur tersebut semuanya satu arah ke arah barat (arah Galeria Mall). Jika dilanjutkan ke arah barat, setelah perempatan Galeria Mall itu masih disebut dengan nama Jalan Solo hingga ke perempatan selanjutnya, yaitu perempatan Gramedia. Setelah itu baru nama jalannya berubah menjadi Jalan Jendral Sudirman dan juga sudah tidak satu arah lagi melainkan dua arah, walaupun total lajurnya tetap 4 (dua ke arah timur dan dua ke arah barat). Jadi, Jalan Solo yang saya maksud itu adalah jalan satu arah ke arah barat dari mulai perempatan demangan sampai ke perempatan Gramedia.

Apa yang terjadi di Jalan Solo tersebut? Kondisi saat itu, tidak sedikit kendaraan yang bergerak ke arah barat melalui jalan tersebut. Pandangan saya yang tadinya mengarah ke Mbah Penjual Gudeg tersebut, seketika beralih 180 derajat ke arah jalan raya. Saya beralih karena suara klakson kendaraan bermotor yang terus-terusan berbunyi dan tidak hanya berasal dari satu kendaraan saja, melainkan banyak kendaraan. Itulah pemandangan yang tidak pernah saya lupakan sampai saat ini, yaitu berbagai kendaraan berbondong-bondong bergerak dari arah barat ke arah timur (melawan arah) sambil mengklakson kendaraannya dan ada pula yang teriak-teriak mengatakan "TSUNAMIIIII!!!!! Airnya sudah sampai kali codee!!"

Panik memang. Saya juga panik. Lucunya, saya putar balik pandangan saya ke arah Mbah Penjual Gudeg tadi dan orang-orang yang mengantre, mereka semua sudah lari terbirit-birit hingga meninggalkan dagangan gudegnya tersebut. Lalu, di sebelah saya kakak saya berteriak-teriak kepada saya "Ayo Enta! Naik ke atas motor!", sambil memperlihatkan wajah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, wajah panik hingga menangis. Lalu, saya secara spontan menjawab "Ga mau! Enta maunya di sini aja!", sambil berpegang ke tiang listrik di sebelah saya. Saya menjawab demikian karena dua hal: (i) saya kaget dan bingung sekali apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan, (ii) saya ingin sekali merekam kejadian ini lewat handycam yang saya pegang sebagai kenang-kenangan dan untuk bisa dijual ke Metro tv sebagai liputan video amatir yang direkam oleh anak berusia 10 tahun. Jujur, itu yang pada saat itu saya pikirkan. Lalu, kakak saya mayakinkan saya untuk segera pergi dari sana, "Enta ini Tsunamii!!! Ini kayak di Aceh kemaren.....!!". Lalu kakak saya menangis sambil berkata ".....gabisa berenang lagi...".. Mendengar ucapan kakak saya bahwa ini adalah Tsunami seperti di Aceh, saya langsung membayangkan benar-benar fenomena Tsunami seperti di Aceh, membuat saya langsung panik dan ikut menangis. Ayah saya lalu menenangkan kami berdua dan langsung menggonceng kami menuju ke rumah. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah inilah, saya benar-benar merasa sangat bangga memiliki seorang ayah seperti Ayah saya. Ayah saya selain menggonceng dua anak kecil, yaitu saya dan kakak saya, ia juga berteriak-teriak menenangkan orang-orang yang menangis ketakutan, shock, dan benar-benar sudah hilang akal sehatnya karena benar-benar merasa dihadapkan langsung dengan musibah ini. Ia terus mengucapkan "Ga mungkin Tsunami!!! Tsunami itu dari selatan! Ga mungkin dari barat! Lagipula ini jaraknya jauh banget! Ga mungkin airnya sampai ke sini!!". Saya saat itu tidak mengerti dengan apa yang Ayah saya ucapkan, yang saya mengerti adalah selatan dan utara saja. Saya berada di jalan solo which is di sebelah utaranya rumah saya, dan bergerak menuju rumah saya yang berada di selatannya jalan solo. Tapi, selama perjalanan tidak ada air laut sama sekali. Saya juga benar-benar melihat betapa wajah ibu-ibu yang tadinya menangis karena panik bukan main sambil memeluk anaknya, berubah menjadi lebih tenang setelah Ayah saya menenangkannya dengan logika berpikir sederhana tersebut. Hingga, sesampainya di jalan depan rumah saya, saya lihat dari kejauhan Ibu saya, om saya, dan bulik-bulik saya sedang panik di depan rumah, tetapi untungnya tidak ikut berlari. Sedangkan di ujung jalan (langsung terlihat jalan raya), terlihat orang-orang berlarian di jalan raya menuju ke arah utara. Ayah saya dari kejauhan sudah berteriak untuk meminta mereka semua agar tetap tenang, termasuk untuk tetangga-tetangga saya. Menjelaskan bahwa tidak terjadi Tsunami dan kalaupun memang terjadi, tidak akan sampai ke tengah kota.

Itulah sebenarnya rangkaian musibah yang terjadi pada hari itu. Gempa 5,9 SR yang kemudian disusul dengan beberapa gempa susulan, hingga terakhir diakhiri dengan isu Tsunami yang menggegerkan seisi Jogjakarta. Secara musibah atau penderitaan fisik, sebenarnya isu Tsunami menjadi penutup hari itu. Tapi, secara mental, musibah ini belum berakhir. Semua warga Jogja hari itu diminta untuk tidak tidur di dalam rumah, alhasil semua orang kepala keluarga mengeluarkan karpet dan beberapa kasur ke luar rumah. Listrik juga padam hingga malam hari, sehingga warga hanya berpegang pada lampu baterai dan radio. Satu lagi yang sangat mengguncang mental adalah prediksi yang disampaikan salah seorang entah professor atau ahli gempa atau ilmuan, saya sendiri lupa, mengatakan bahwa malam ini sekitar jam 11 malam akan terjadi gempa dengan kekuatan sekitar 11 SR mengguncang Jogjakarta. Kabar tersebut disebar melalui radio dan didengar semua orang, termasuk saya yang mendengar langsung ucapan tersebut keluar pertama kali di radio. Siapa yang tidak shock mendengarnya? Pernyataan tersebutlah yang benar-benar sangat ditakuti seluruh warga di sisa hari tersebut. Bayangkan jika benar-benar terjadi gempa 11 SR? Bangunan-bangunan akan runtuh, bahkan Tsunami bisa benar-benar terjadi. Aceh saja yang Tsunaminya sebesar itu hanya gempa dengan kekuatan 9,2 SR, bagaimana jadinya bila 11 SR? Itulah yang benar-benar ditakuti oleh seluruh warga. Saya pada saat itu hanya dapat berhadap jika hal tersebut benar-benar tidak terjadi.

Hari semakin gelap, kedua orang tua saya sempat bilang bahwa kita akan pulang di malam hari ini, tapi masih ragu-ragu dengan ucapannya, saya tidak tahu kenapa. Hingga saya, sampai pada kesimpulan bahwa kami akan tetap pulang hari Ahad dan berusaha melewati apa yang akan terjadi malam ini bersama-sama. Pada sekitar pukul 10 malam, saya memutuskan untuk tidur, karena disamping saya memang sudah ngantuk, saya tidak ingin terus menerus dihantui rasa takut akan terjadinya gempa 11 SR itu. Lagipula jika memang benar-benar gempa, saya akan dibangunkan oleh orang-orang di sekitar saya. Kemudian saya terbangun dengan kondisi sedang tidur seorang diri di depan rumah saya. Di sebelah kiri saya terdapat sebuah lampu baterai yang sekaligus radio masih terus menyala. Di sebelah kanan saya gelap, di depan dna belakang saya terdapat orang-orang yang berjarak kurang lebih 20 meter dari tempat saya tidur. Jadi, ya saya benar-benar bisa dibilang tidur seorang diri. Setelah bangun, saya lantas masuk ke dalam rumah untuk menemui keluarga saya dan langsung disambut dengan kakak saya yang sedang memindahkan tas ke teras rumah. Lalu, saya bertanya, "Jam berapa sekarang?". Kakak saya menjawab, "jam 12" sambil berjalan mengambil tas lainnya di dalam kamar. Hati saya nampak seperti 'plong' mendengar ucapan tersebut. Saya lanjut mengekor kakak saya sambil terus bertanya, "Tadi ga ada gempa??". "Ga ada", jawab kakak saya. "Kita pulang malam ini.". Perasaan saya, lantas, benar-benar lega setelah mendengar bahwa info gempa tersebut ternyata hanyalah hoax dan tidak terjadi. Ditambah lagi malam ini kami akan menerobos kegelapan kota Jogja dan DIY untuk pulang ke Depok. Saya jadi semakin excited.

Segala perjalanan hidup yang saya alami hari itu pun diakhiri dengan perjalanan pulang ke Depok yang paling memorable dalam hidup saya. Karena saat itu kami mbenar-benar merasa seperti kejar-kejaran dengan gempa. Kami menjauh dari pusat gempa dan bergerak  di tengah kegelapan. Kali itu juga pertama kali saya merasa naik mobil di tengah sebuah kota yang mati, karena benar-benar kota tersebut gelap sekali dari Jogja hingga keluar DIY. Di samping itu, itu juga menjadi rekor perjalanan tercepat kami sekeluarga, karena berhasil sampai Bandung pada pukul 6:30 pagi. Keren, kan? Berangkat jam 12:30 dan sampai di Bandung jam 6:30 pagi. Hanya 6 jam Jogja - Bandung. Sesampainya di Bandung, kami lantas stay di rumah saudara saya dan sore harinya barulah melanjutkan perjalanan kami ke Depok.

Itu adalah kisah yang pertama kali saya alami dan benar-benar merubah diri saya. Saya merasakannya betul. Sejak saat itu, saya seperti melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh anak-anak seumuran dengan saya. Saya seperti memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh anak-anak seumuran saya. Saya ingat ketika teman-teman saya bercerita tentang pulang kampung, bermain dengan teman-temannya, atau berlibur bersama keluarga, saya justru bercerita tentang musibah yang tidak terlupakan ini, tentang orang tua yang wafat, tentang bangunan yang rubuh, dan sebagainya. Saya benar-benar menjadi lebih dewasa sejak saat itu. Saya menjadi lebih dekat dengan keluarga saya sendiri, lebih bangga dengan keluarga saya sendiri, lebih patuh kepada kedua orang tua, lebih menghormati kakak saya, berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain, dan berusaha untuk terus sholat dan mendekatkan diri kepada Allah. Sejak saat itu saya benar-benar mengerti bahwa hidup ini tidak hanya berisikan manusia-manusia saja, melainkan ada Dzat yang mengatur. Ada Dzat yang dapat menciptakan sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh manusia.

Maka, hari ini saya terus berpikir dan bersyukur. Ketika saya melihat salah seorang sepupu saya yang duduk di kelas 6 SD dan bandelnya bukan main, saya ingat tentang diri saya ketika masih kelas 2 SD dan sebelumnya. Lalu, ketika saya berpikir bagaimana cara untuk merubah mereka dan sudah saya coba terus menerus, hasilnya selalu gagal. Kalaupun mereka berubah dan benar-benar menjadi lebih baik, seperti melakukan sholat, sopan pada kedua orang tua, membantu pekerjaan orang tua, dan lain-lain, itu hanya berlaku mungkin satu dua hari saja. Setelah itu mereka kembali ke sifat normalnya. Kembali meresahkan orang tuanya. Saya lantas berkata dalam hati, "memang hidayah itu hanya kehendak Allah semata". Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan cenderung bergerak di "jalur orang-orang religius" dan lebih cenderung mem-branding diri saya sebagai seorang yang religius, padahal saya bukan berasal dari keluarga yang religius, padahal saya boleh saja melakukan kemaksiatan-kemaksiatan standard, seperti pacaran, tos-tosan sama perempuan, atau mungkin merokok. Saya hari ini baru menyadari bahwa saya sendiri bahkan tidak mengerti kenapa saya cenderung menyukai hal-hal seperti ini. Hingga pada akhirnya saya menyadari, mungkin inilah yang memang Allah kehendaki bagi saya. Mungkin di balik ini semua ada kedua orang tua saya yang senantiasa mendoakan saya, sehingga saya senantiasa berada di jalan ini dan senantiasa dekat dengan orang-orang yang baik. Mungkin di balik ini semua ada orang-orang yang dulu pernah diperlakukan baik oleh kedua orang tua saya, lalu mendoakan kebaikan bagi kedua orang tua saya. Karena saya yakin, faktor-faktor semacam itulah yang mungkin membuat saya hari ini dapat mengenal agama dengan cukup baik, dapat berpikir jernih dalam menghadapi hidup, dewasa, dan yang lebih penting adalah jangka panjang. Tidak hanya memikirkan dunia, melainkan juga memikirkan kehidupan akhirat.

Satu hal yang saya ingin sekali wujudkan adalah, saya ingin sekali membahagiakan kedua orang tua saya di akhirat kelak. Membuat kedua orang tua saya tidak mengalami sedikitpun siksa kubur nantinya di alam barzah. Membuat kami sekeluarga dapat berkumpul bersama di surga. Tapi, nyatanya tidak mudah. Keluarga saya masih terlilit dengan dunia riba, saya masih harus terlibat dengan dunia pengetahuan barat dan masih harus lulus dari ini semua, dan lain-lain. Sulit untuk menyadarkan orang lain bahwa kehidupan akhirat nanti hanya ada dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Sulit menyadarkan orang lain bahwa masuk surga itu tidak semudah yang kita pikirkan dan tidak cukup dengan amalan-amalan kita yang hanya sekadar puasa, shalat fardhu di masjid, dan semacamnya. Kita masih suka bergosip, masih suka su'udzon, masih suka berkata kasar, melihat hal-hal yang buruk, mendengarkan musik, dan lain-lain. Saya, di balik ini semua, hanya ingin membayar segala pengetahuan yang saya punya ini dengan surga. Saya hanya ingin membayar doa-doa ibu saya yang berujung pada kebaikan yang ada pada diri saya ini dengan surga untuknya, Saya hanya ingin membayar ini semua dengan kebaikan yang sesungguhnya, dengan kenikmatan yang sesungguhnya. Bukan kenikmatan yang sementara di sini, bukan dengan kebaikan-kebaikan yang sementara di sini. Karena saya sangat takut, ketika kebaikan dan kenikmatan yang terus menerus diberikan di dunia ini, ternyata adalah kebaikan dan kenikmatan yang memang sengaja Allah berikan di dunia, hingga di akhirat kelak tidak ada yang tersisa bagi kita, kecuali sisaan dariNya.

Semoga Allah menjaga saya dan keluarga saya. Memberikan hidayah kepada yang membaca tulisan saya ini. Memudahkan segala urusannya di dunia ini. Dan menjadikannya orang-orang yang sadar untuk mulai belajar ilmu agama islam.

Ditulis oleh Adhita Prananda
di Smart Lounge,
Lippo Plaza, Yohyakarta.

Rabu, 12 April 2017

Unik Cara Allah Memperlihatkan Kebenaran

Kalau kalian baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Positioning Umat Islam", kalian akan menemukan saya sebagai seseorang yang berada di #TeamPro atau berada di pihak yang beranggapan bahwa ke depan Islam akan terus bangkit dan membaik. Kalau kalian pernah menonton film 2012 dan tau sosok orang "gila" yang tinggal di dalam sebuah mobil van dimana kerjaannya adalah menggenggam erat ramalan dan menyampaikannya lewat saluran radio bahwa kiamat itu benar-benar sudah dekat sesuai dengan apa yang ia yakini. You know what, saya merasa bahwa diri saya kurang lebih mirip dengan sosok tersebut. Maksud saya, tidak keseluruhannya sama melainkan hanya di beberapa bagian saja, seperti bagaimana sosok laki-laki tersebut sangat percaya akan penelitian / ramalan yang digenggamnya, hingga hal tersebut membuat dirinya seakan gila jika dibandingkan dengan pemikiran orang normal lainnya meskipun pada akhirnya ia benar. Saya memang tidak seharusnya menjadi orang "gila" semacam itu. Tapi, ya memang seperti inilah kondisi saya. Seseorang yang masih belajar tentang Islam itu sendiri, tapi di sisi lain saya sangat percaya bahwa ini adalah sebenar-benarnya petunjuk tentang apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Di tulisan saya kali ini, saya ingin menuangkan apa yang selama ini saya pikirkan berkaitan dengan fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini, diantaranya:

1. Kebangkitan Islam
Well, kalimatnya memang terkesan terlalu optimis dan terlalu mirip dengan gerakan-gerakan Islam yang rasanya ingin membangun negeri Islam sendiri saja. Tenang. Maksud saya bukan itu. Kalau kita perhatikan bagaimana Indonesia di 10 tahun terakhir misalnya, sejak saya SD hingga akhir-akhir ini, tidakkah Anda melihat ada yang aneh? Kalau saya, saya merasa ada yang aneh. Dulu, saya tidak melihat Islam yang sebegitu munculnya di masyarakat. Maksud saya, apa yang Anda tau tentang islam di 10 tahun yang lalu? Kiamat Sudah Dekat? Para Pencari Tuhan? Islam KTP? Snada? Gradasi? Pengajian ibu-ibu di TPI atau Indosiar? dan lain-lain. Itu adalah islam yang saya kenal sekitar 5-10 tahun yang lalu. Ya, Islam masih dalam level packaging komedi di televisi, nyanyi-nyanyian, dan nilai-nilai yang disampaikan pun masih sebatas melarang mencuri, mengajak untuk sholat, tidak boleh mencaci orang lain, dan semacamnya.

Hari ini, Islam sangat berbeda. Islam di televisi sudah tidak lagi sebatas tentang nyanyian ataupun komedi melainkan mulai diisi dengan nilai-nilai yang menyeru untuk shalat berjama'ah di masjid, mendalami kisah para sahabat yang mulia (bagaimana mereka memperjuangkan islam, berperang demi islam, disiksa bahkan mati demi islam), larangan dan hukuman bagi orang yang mengumbar aurat, larangan dan hukuman bergosip, RIBA, dan lain-lain. Islam sudah jauh lebih berkembang dan jauh lebih mendalam kajiannya. Banyak sekali artis dan orang-orang yang kini mulai berhijab dan kita sama-sama doakan semoga semakin hari orang-orang tersebut semakin syar'i dalam mengenakan hijab mereka. Kajian-kajian sunnah yang 5-10 tahun yang lalu tidak pernah saya dengar sedikitpun, kini dapat saya temui dengan mudah di berbagai tempat dan tidak hanya di masjid-masjid kampung atau masjid-masjid perumahan saja, bahkan di dalam Mall pun ada.

Kita lihat bagaimana cara Allah mengangkat dan menyatukan umat Islam hari ini. Bagaimana dengan satu ucapan dari lisan seorang non muslim yang qodarullah terpeleset, mengakibatkan seluruh umat muslim di Indonesia ini muncul ke permukaan. Mereka yang merupakan muslim sejati marah dan menuntutnya, mereka yang masih tidak terlalu paham mulai bertanya-tanya, dan mereka yang sebelumnya sama sekali tidak tahu akhirnya mulai mendengar dan mencari tahu. Lantas, apakah ini pertanda Islam sudah membaik? Ya, jelas jawabannya ya. Tapi, apakah ini sudah cukup? Jawabannya belum, masih sangat belum. Ini hanyalah awal dan kualitas umat islam hari ini pun masih jauh dari apa yang seharusnya diterapkan berdasarkan Al Quran dan hadits. (termasuk saya sendiri masih belajar)

2. Terlihat mana yang kokoh dan mana yang rapuh
Saya memilih kata "terlihat" dibandingkan kata "terungkap", karena menurut saya ini masih di awal dan kita semua baru sampai tahap melihat mana yang sebenarnya kokoh dan mana yang sebenarnya rapuh. Jika kita mulai terus "menggali" dan belajar, saya yakin sekali kelak akan terugkap kebenaran dan kebusukan sebenarnya.

Apa yang saya maksud kokoh dan rapuh? Kehadiran Zakir Naik ke Indonesia adalah pembuktian bahwa selama ini bukan Islam lah agama yang rapuh, melainkan agama selain Islam. Kita lihat bagaimana 5-10 tahun yang lalu Islam seringkali dipecah-belah oleh kasus-kasus klasik seperti doa qunut dalam i'tidal, aliran-aliran sesat, dan semacamnya. Hari ini, saya merasa kasus-kasus klasik seperti ini mulai ditinggalkan oleh umat Islam dan mulai beralih ke hal yang lebih mendasar dan lebih worth it, seperti tauhid, menutup aurat, shalat berjamaah di masjid, larangan ishbal, menjaga pandangan, serta hal yang sangat struktural seperti mengangkat pemimpin non muslim, dan hukum riba. Hari ini apakah masih terpecah belah? Saya mungkin akan mengangguk dan menjawab Ya. Tapi, hari ini kita sudah semakin sadar dan cukup pintar untuk mengambil hikmah serta mengetahui siapa yang benar-benar mengerti Islam dan siapa yang "dibayar" untuk seakan membela, padahal berniat menghancurkan Islam dari dalam.

Kasus Zakir Naik menunjukkan kepada kita bahwa Islam ini kokoh, di tulisan saya yang berjudul "Being a Good Muslim" sudah saya jelaskan bahwa Allah sendiri lah yang akan menjaga Islam itu sendiri. Buktinya, hari ini betapa banyak orang yang sudah hafal Al Quran. Sedangkan di umat Kristen itu sendiri, bahkan mereka tidak tahu bahwa ada ayat yang melarang mereka untuk memakan babi dan minum bir. Lantas, kalian masih menganggap bahwa Islam itu rapuh? Think again, dude.

3. Justru mereka lah yang memasarkan Islam
Islam tidak pernah kemana-mana melainkan tetap eksis di muka bumi ini, justru kualitas umatnya lah yang mempengaruhi Islam apakah dipandang baik atau buruk. Sama seperti sebuah keluarga. Pada dasarnya, kedua orang tua kita selalu mengajarkan kita pada hal-hal yang baik, tapi pengaruh yang kita dapat di luar rumah seringkali merubah perilaku kita menjadi buruk. Hal tersebutlah yang berakibat tidak hanya bagi diri kita sendiri yang akan dinilai buruk, melainkan orang tua kita juga akan dinilai buruk karena dianggap telah mendidik kita secara salah. Bukankah kasus Islam juga seperti ini? Apakah islam mengajarkan keburukan? Apa? Pukul anak jika tidak sholat di umur 10 tahun? Believe me guys, that's one of very bright ways to build a wonderful generation. Lah, kan anak zaman sekarang lebih milih main tablet daripada bantuin orang tua, kan? Apalagi disuruh sholat, makin gamau doi. Solusinya? Cobain caranya Rasulullah. Percaya kan sama Rasulullah?

Islam belakangan ini namanya mulai terangkat naik, bukan? Pertanyaannya adalah: kenapa? Kok bisa? Kalau kita tarik ke belakang, saya melihat ada hal yang sangat unik tentang bagaimana Allah mengangkat Islam itu sendiri, khususnya di Indonesia. Islam mulai marak diperbincangkan dimana-mana, semakin terasa keberadaannya, salah satunya karena ucapan terpelintir dari seorang non islam yang membuat semua orang membuka surat Al Maidah ayat 51. Tapi, tidak hanya karena ucapan terpelintir dari satu tokoh non islam tersebut saja. Tokoh lain yang merupakan seorang komedian juga sempat menuduh Zakir Naik yang hendak ke Indonesia dengan tuduhan sebagai orang yang mendanai ISIS walaupun akhirnya resmi meminta maaf. Termasuk salah satu orang (saya ga tau dia artis atau siapa sebenernya) yang saya temui di Instagram, ia juga ditemui telah meminta maaf karena telah mencela ulama, dan banyak tokoh-tokoh lainnya yang secara terang-terangan mencela Islam ataupun ulama di media sosial, kemudian berakhir dengan permohonan maaf. Simak baik-baik peristiwa ini. Bukankah justru orang-orang semakin aware dengan Islam setelah mendengar cacian dari tokoh-tokoh tersebut? Bukankah justru orang-orang semakin aware dengan kehadiran Zakir Naik karena tuduhan-tuduhan tersebut? Bahkan ini membuat sektor "pasar" yang tadinya sama sekali tidak pay attention pada hal-hal semacam ini berubah menjadi lebih memperhatikan dan mencari tahu. Unik sekali, bukan?

Peran dari tokoh-tokoh non muslim tersebut lah yang, qodarullah, berkat tuduhan dan ejekan mereka, tetes keimanan yang masih ada di dalam dada para muslimin hari ini tersentuh dan tergerak untuk bangkit. Ini persis ibarat sebuah kompor yang sebenarnya sudah keluar gasnya, hanya saja kurang sedikit pantikan agar dapat menyala dan mengeluarkan apinya. Ejekan-ejekan dari mereka lah yang justru ibarat korek api yang memantik kompor tersebut sehingga hari ini apinya sudah menyala besar.

Di samping itu, kita lihat hari ini mulai bermunculan pemimpin-pemimpin yang inspiratif dan senantiasa mengajak kita untuk memperbaiki diri. Melalui mereka, kita diajak kembali untuk shalat subuh berjama'ah di masjid, untuk berani berbuat jujur, dan berani melaporkan kejahatan yang ada di sekeliling kita. Di saat kita semua resah dengan kepemimpinan hari ini, pemimpin-pemimpin muslim yang inspiratif tersebut justru hadir melawan arus dan membuat terobosan-terobosan yang membuat orang berbisik "kok bisa? selama ini kemana aja?", seperti Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini.

Islam mulai bangkit dan ke depannya akan terus berkembang, teman-teman. Percaya atau tidak, jika kalian membaca sejarah Nabi Muhammad di Sirah Nabawi-nya, kalian akan menemukan bahwa zaman ini tidak jauh berbeda dengan zaman Jahiliyyah 1400 tahun yang lalu yang bahkan disebutkan di Al Quran. Kebenaran yang hadir itu ibarat sesuatu yang tidak pernah disangka akan hadir di tengah-tengah mereka. Ibarat intervensi yang sangat mengganggu mereka yang sedang nyaman di comfort zone-nya dan mereka yang secara tidak sadar sedang terjebak di routinity trap. Di tulisan saya yang berjudul "Being a Good Muslim", sudah saya tuliskan beberapa hal yang tidak berubah, seperti menyembah patung, berzina, pemikiran, dan lain-lain.

Jika kalian temui Islam hari ini masih ada jeleknya, saya sarankan agar kalian tidak mengejek-ejeknya atau menertawakannya. Karena yang kalian ejek dan tertawakan itu adalah kebenaran yang langsung berasal dari Dzat yang menciptakan kehidupan ini semua, Dzat yang menciptakan Anda, Dzat yang menakdirkan Anda membaca tulisan ini saat ini, dan Dzat yang kelak akan meminta pertanggungjawaban atas diri Anda sendiri di hari akhir. Dan jika setelah semua ini kalian malah kebingungan dalam menjalani hidup ini, ibarat orang yang berjalan di tengah kegelapan yang sangat gelap hingga tidak terlihat sesuatu apapun. Pelajarilah Islam, karena itu adalah kebenaran yang nyata dan itu adalah cahaya bagi kalian untuk menerangi kegelapan yang sedang kalian tempuh.

You know how to walk in the dark?
Just take the light, light it up and hold it. Because, it would shows you which one is the right way and which one is wrong.

Ditulis oleh Adhita Prananda
di Smart Lounge
Lippo Plaza, Yogyakarta.

Jumat, 07 April 2017

Being a Good Muslim

Saya adalah tipe manusia yang percaya bahwa Islam adalah agama yang lebih ilmiah daripada science, lebih solutif daripada hasil riset manusia tercerdas di muka bumi ini, dan lebih akurat daripada prediksi berbagai ilmu pengetahuan moderen. Saya juga merupakan tipe manusia yang percaya bahwa sifat manusia, apa yang mereka perbuat, dan permasalahan-permasalahan yang terjadi dari zaman ke zaman tidak pernah berubah melainkan selalu sama dan terus berulang. Secara fisik memang bumi ini semakin moderen, bangunan semakin tinggi, tapi di balik itu semua sama sekali tidak ada yang berubah. Contohnya, 1400 tahun yang lalu, manusia menyembah patung sebagai Tuhan mereka dan hari ini pun masih ada yang melakukannya persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Lalu, terkait dengan perzinahan, pada 1400 tahun yang lalu cara-cara yang dilakukannya pun sama seperti yang terjadi hari ini di Indonesia ataupun umumnya di Barat. Para pelacur berzina dengan beberapa orang laki-laki dengan berbagai cara, ada yang mungkin selingkuh dari pasangannya, ada yang memberikan tanda (kode) jika ingin berzina dengan laki-laki, berzina dengan temannya sendiri, atau oleh suaminya diizinkan berzina dengan lelaki lain demi memiliki keturunan lalu ketika sudah hamil dipulangkan lagi kepada suaminya, dll. Bahkan yang lebih parah adalah mengetahui bahwa 1400 tahun yang lalu tidak ada yang namanya homoseksual di wilayah Arab, padahal zaman sebelum kelahiran Rasulullah tersebut di Al Quran disebut sebagai zaman Jahiliyah dimana keburukan dan kemaksiatan banyak terjadi dan sudah seperti budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Homoseksual justru pernah ada sudah jauh terjadi di zamannya Nabi Luth a.s, lalu kembali terjadi hari ini persis seperti apa yang terjadi di zaman Nabi Luth a.s. Semua yang saya tuliskan di atas adalah pola pikir saya yang tidak terbentuk begitu saja sejak lahir atau terbentuk dua-tiga hari saja, itu adalah pola pikir yang terbentuk setelah proses pembelajaran hidup yang saya alami selama bertahun-tahun.

Islam adalah agama yang sudah lengkap, sampai-sampai yang Dzat menciptakan kehidupan ini melarang siapapun untuk berinovasi terhadap Islam itu sendiri. Dari sudut pandang ini seharusnya kita sudah dapat mengerti bahwa sebenarnya Islam adalah aturan-aturan yang sudah sangat pas takarannya untuk diterapkan dan untuk dijalani di kehidupan dunia ini. Lagipula, tahu apa kita dengan kehidupan ini? Bukankah kita hanyalah manusia yang tiba-tiba terlahir dari rahim seorang Ibu yang bahkan kita sendiri tidak pernah meminta untuk dilahirkan di tengah-tengah keluarga kita? Bersyukur karena kita dilahirkan di tengah keluarga yang baik, kaya raya, dan disegani oleh masyarakat sekitar. Tapi, bagaimana bila kita dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang cacat misalnya? Hidup miskin? Memiliki ayah yang terlilit hutang? Akankah kita bersyukur?

Pola pikir saya mengajak saya untuk berpegang teguh pada satu asumsi bahwa Allah itu Maha Adil. Asumsi yang menegaskan bahwa Dzat yang menciptakan kita di posisi yang aman saat ini dan menciptakan mereka di posisi yang harus siap mati kapan saja karena ditembaki bom adalah Allah yang tidak pernah pilih kasih ataupun berat sebelah. Sama sekali tidak. Di salah satu postingan saya yang berjudul "Adilkah Allah?" sudah pernah saya sampaikan bahwa Allah itu Maha Adil kepada seluruh ciptaanNya, bahkan Allah itu adil ketika melahirkan kita sebagai seorang muslim sejak lahir dan melahirkan mereka yang bahkan tidak pernah mengenal muslim sebelumnya. Kok bisa? Ya, percaya saja bahwa akan ada satu titik di kehidupan kita dimana Allah menguji keimanan Islam kita pada hal-hal yang membuat kita berpikir ulang tentang kebenaran Islam itu sendiri. Yang membuat kita ragu, pesimis, bahkan memutuskan untuk keluar dari Islam. Dan percaya saja bahwa orang suku Badui yang tidak pernah mengenal kehidupan luar sekalipun, kelak akan ada saat dimana hidayah Islam menyentuh hati mereka dan membuat mereka berpikir apakah ini jalan yang benar atau bukan. Tidak ada yang lebih baik, semuanya sama rata. Bukankah kita sebagai orang muslim terancam untuk menjadi orang fasik atau munafik ketika kita tahu bahwa menutup aurat adalah perintah yang harus ditepati, tapi kita memilih untuk tidak peduli? Bukankah orang munafik derajatnya lebih rendah daripada orang kafir itu sendiri? Bukankah orang munafik kelak dijanjikan akan berada di neraka yang paling rendah?

Maka, jangan heran jika kita hari ini melihat saudara-saudara kita sedang diserbu di Suriah. Jangan heran jika kelak setelah kita wafat dan dibangkitkan, kita melihat Rasulullah menghalangi kita untuk meneguk air dari telaga Kautsar hanya demi untuk mendahulukan orang-orang Syam (Suriah, Palestine, dan sekitarnya). Kenapa kita tidak boleh heran? Karena percaya atau tidak, Rasulullah pernah berbicara tentang ini semua dan begitu pula Dzat yang menciptakan kehidupan ini, Dia pernah berkata tentang keutamaan negeri Syam tersebut. Kurang ilmiah apalagi? Orang mana yang berani menjamin bahwa kelak 1400 tahun yang akan datang, Syam akan dibumihanguskan, Syam akan hancur dan mengatakan bahwa ketika Syam hancur maka itu pertanda bahwa tidak ada keberkahan di tengah umat muslim? Atau dengan kata lain, umat muslim pada saat itu adalah umat muslim yang jelek secara kualitasnya, tidak dekat dengan Al Quran, tidak mengamalkan Al Quran, dan sibuk mempelajari ilmu orang-orang Barat. Siapa manusia yang berani mengatakan itu semua dan terbukti? Tidak akan ada yang berani kecuali orang yang memang diberi petunjuk oleh Dzat yang menciptakan kehidupan ini. Ketika Dia menciptakan bumi dan kehidupan ini semua, maka Dia lah yang paling mengerti apa makna kehidupan ini sebenarnya, bagaimana cara menjalani kehidupan ini dengan baik dan selamat, dan apa yang akan terjadi setelah ini semua.

Ribuan tahun yang lalu, ketika manusia masih belum mengenal satelit, belum mengenal foto, bahkan mungkin ada banyak negara atau pulau yang belum ditemukan. Tapi, ada seorang Ilmuwan muslim yang berhasil menggambar peta persis dengan bentuk pulaunya, lautnya, jalur pelayaran kapalnya, dan bahkan berhasil mengukur bahwa bumi ini melakukan revolusi selama kurang lebih 365 hari. Namun, saya lupa siapa ilmuwan tersebut, kalau tidak salah bernama Al Idrisi dan petanya masih disimpan di salah satu museum di Italy. Lalu, ada pula ilmuwan Islam yang dengan lancang berkata bahwa "Saya bisa belajar kedokteran secara otodidiak." disaat kita hari ini mebayar mahal-mahal untuk bisa berkuliah kedokteran, untuk mempelajari ilmu kedokteran di universitas-universitas terkemuka. Ilmuwan tersebutlah yang sekarang kita kenal sebagai orang yang memang sangat ahli dan namanya pun masih sangat harum menghiasi dunia kedokteran. Beliau adalah Ibnu Sina. Lantas pertanyaannya adalah, dari mana Al Idrisi dapat menggambar peta sedemikian detilnya tanpa pernah melihat bumi secara keseluruhan dan dari mana Ibnu Sina mampu menyembuhkan penyakit tanpa pernah kuliah kedokteran? Dari Al Quran, bung. Hanya dari Al Quran. Saya pun kaget, bagaimana bisa. Maksud saya, ya tentu saja bisa, tapi bagaimana bisa manusia dengan kualitas seperti kita yang hidup di zaman ini mampu menyaingi mereka semua? Masya'Allah.

Dengan demikian, melalui berbagai hal yang telah saya sampaikan di atas, saya hanya ingin meyakinkan seluruh umat islam hari ini bahwa kita berada di jalan yang benar. Apa yang kita genggam adalah Al Quran yang sudah dijanjikan oleh Dzat yang menciptakan kehidupan ini bahwa Dia sendirilah yang akan menjaga Al Quran, bukan kita, bukan siapapun. Maka, kasarnya, percayalah ketika kita tertidur pulas sekalipun dan tidak ada lagi manusia yang meyakini Al Quran, sedangkan Al Quran itu sendiri pada saat yang bersamaan akan dihancurkan oleh orang-orang dzalim, percayalah bahwa Allah tetap akan menjaga Al Quran tersebut tanpa harus membangunkan kita dari tidur pulas kita. Jangan pernah ragu untuk berpegang teguh pada Al Quran, jangan pernah ragu untuk belajar Al Quran, jangan pernah malu untuk mengamalkan Al Quran, jangan pernah takut untuk menyampaikan kebenaran Al Quran, karena kebenaran ada di pihak kita. Dan selama kita berada di pihak yang benar, separah apapun penderitaan kita, tidak akan ada yang tersisa kecuali balasan dari Dzat yang tidak pernah tidur, balasan dari Dzat yang selalu memperhatikan setiap detik penderitaan yang kita rasakan, balasan yang merupakan sebaik-baik balasan, balasan yang jauh lebih baik dibandingkan harta kekayaan di dunia ini, balasan yang jauh lebih indah daripada wanita tercantik di dunia ini, balasan yang jauh lebih enak daripada makanan dan fasilitas terenak di muka bumi ini. Balasan tersebut adalah Surga, dimana segala kenikmatan terbaik yang ditawarkan dunia ini kepada kita tidak akan lebih daripada 1/10 kenikmatan di Surga kelak.

Kalau kata Muhammad Ali, "Suffers now, and live the rest of your life as a Champion.". Maka, belajarlah, sama-sama kita pahami Islam kita, sama-sama kita pelajari Al Quran kita, agar kita tidak dipecah belah lagi oleh syeitan-syeitan yang memanfaatkan kedangkalan pengetahuan kita. Agar setelah semua yang kita lalui, pada akhirnya kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, dan kita pada akhirnya meninggalkan segala kesalahan kita di masa lalu, move on untuk menjadi manusia yang lebih baik, tanpa peduli pandangan orang lain. Karena cukuplah semua alasan ini membuat kita membuka mata bahwa hari ini kita memijak bumi yang sama dengan mereka yang dibom di Suriah, kita memijak bumi yang sama dengan mereka yang memiliki sejuta alasan untuk deserve surga lebih jauh daripada kita. Tapi, tidak maukah kita bersama-sama mereka masuk ke SurgaNya? Percayalah, itu adalah kemenangan yang sesungguhnya.

Ditulis oleh Adhita Prananda
di McDonalds
Malioboro Mall, Yogyakarta.