Kamis, 20 Juli 2017

21


Tak ada yang mengingatkanku tentang 21
Hingga aku menjumpainya dan terpana
Sedangkan aku tak kunjung membuka mata
Menyelam di dalam samudra mimpi
Terseret angan-angan hampa
Dan semangatku hanya sampai di ambang pintu
Terhempas oleh putus asa
Ambruk, tak berdaya
Dan tak satupun peluh yang meluruh
Melainkan berakhir dengan sebuah tanya


oleh: Adhita Prananda
Juli, 2017.

Selasa, 04 Juli 2017

Remembrance

Prolog
Smansa adalah tempat yang memberikan banyak kesan dan pelajaran bagi saya. Smansa adalah perwujudan mimpi-mimpi saya dulu. Smansa adalah tempat yang penuh dengan kenangan manis. Namun, bukan berarti tanpa cela, saya pun masih mengingat betul momen-momen buruk, memalukan, menyedihkan, dan mengecewakan ketika di Smansa.

Saya masih ingat betul masa-masa ketika saya duduk di kelas XI, saya berada di kelas XI IS 1 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ubersocial. Itu adalah neraka bagi saya. Pertama kali dalam kurun waktu 16 tahun hidup di dunia ini, saya berada di sebuah kelas dengan jumlah laki-laki sebanyak 7 orang dari 32 orang penghuni kelas tersebut. Di saat yang sama, saat itu, saya adalah orang yang masih sangat lekat dengan aturan-aturan Islam. Jangankan menyentuh wanita, menatap pun saya masih ragu-ragu. Dan tiba-tiba saja saya masuk ke dalam kelas yang setiap harinya menuntut saya untuk tidak hanya menatap wajah, tapi juga mungkin aurat-aurat yang tersingkap. Duduk pun seringkali bersebelahan dengan wanita dan tidak hanya di satu sisi, melainkan diapit oleh wanita di kiri dan kanan. Bahkan saya masih ingat betul ketika salah seorang wanita yang kala itu duduk di sebelah saya meminta saya untuk tidak menengok ke sebelah kanan karena ia sedang mengganti jilbabnya.

Segala hal yang saya ingat tentang Ubersocial adalah neraka bagi saya. Saya ingat sekali ketika harus pergi ke kelas sebelah, XI IPA 6, hanya untuk tidur siang. Kenapa tidak tidur di kelas? Karena bising sekali. Bagaimana Anda bisa tidur sedangkan di dalamnya penuh dengan teriakan-teriakan wanita yang terus menerus berlarian di dalam kelas. Di sana pula, saya mendapatkan pengalaman ketika salah satu ide cerita drama saya ditolak oleh rekan-rekan saya. Tahukah Anda? Cerita drama yang tertolak itu 3 tahun kemudian saya pentaskan di kompetisi drama saat Ospek jurusan di Kaliurang, dan apa yang terjadi? Kami menang sebagai drama terbaik di kompetisi tersebut. ARGH I KNEW IT!

Intinya, saya kembali menggarisbawahi bahwa masa-masa kelas XI adalah neraka bagi saya. Namun..

Namun, memang kondisi kelas yang menyebalkan ini mungkin telah Allah desain dengan penuh hikmah. Karena di saat yang sama, kelas XI adalah masa-masa ketika saya mengukir banyak prestasi dan kenangan-kenangan manis di luar kelas. Dan ada satu kenangan paling manis yang mungkin akan selalu saya ingat hingga akhir hayat saya. Kenangan itulah yang akan saya tulis di tulisan saya kali ini.

Harapan Berbuah Realita
Menjelang Maghrib, di depan Indomaret, di sebelah selatan Smansa. Saat itu saya sedang cabut bimbel NF karena malas dan memutuskan untuk makan siomay favorit terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Di sela-sela suapan saya, HP yang saya letakkan di atas meja bergetar. Terlihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di kontak saya. Pesan itu bertuliskan sebuah pertanyaan yang kurang lebih isinya seperti ini, "Dhit, gimana ya kalo gue mau masuk Islam? -Dayra".

It was very shocking. It feels like you just hit by a storm while you're sleeping in the middle of the night.

Itu adalah awal sekaligus akhir. Itu adalah awal dari sebuah perjalanan yang amat panjang, penuh liku, penuh air mata, dan mengenang masa-masa itu terasa seperti hatimu dicuci kembali menjadi bersih. Dan itu adalah akhir dari harapan saya dan teman-teman Rohis yang selalu berdoa agar Allah mengaruniai teman di antara kita yang hijrah ke agama Islam. Itu adalah akhir. Karena seiring sms itu masuk ke HP saya, harapan kami pun berubah menjadi realita.

Tentang Akad dan Perjalanan Keislaman Dayra
Namun, ternyata saya tidak seorang diri. Rupanya Dayra telah mendesain satu grup khusus untuk dijadikan 'lingkarannya'. Grup itu pada akhirnya ia beri nama Akad, tidak lain adalah gabungan dari nama-nama kami berempat: Adhita, Khairul, Alya, dan Dayra. Apa yang kami saat itu lakukan adalah mencari tempat-tempat bersembunyi, tempat yang sepi, tempat yang tidak mampu dilihat oleh orang lain. Biasanya kami menggunakan Lab Kimia di dekat ruang Multimedia, atau Lab Fisika di atas Perpus, atau ruang Multimedia yang memang tidak pernah dikunci. Kenapa harus di tempat yang sepi? Karena tidak mungkin kami berempat menangis di depan umum dan tidak mungkin pula orang-orang melihat kami menangis bersama-sama. Di tempat-tempat itulah kami mendengarkan cerita-cerita yang Dayra sampaikan, kemudian kami mendiskusikan langkah apa yang sebaiknya dilakukan, hanya sebatas itu.

Adapun tanggal keislaman Dayra saat itu sudah diputuskan jauh-jauh hari bersama orang lain, sehingga banyak orang yang mengetahui dari words of mouth anak-anak Smansa ataupun alumni. Kami berempat tidak berfokus pada kapan Dayra akan berislam, itu sudah ditentukan. Kami berfokus untuk myakinkan kepada Dayra tentang apa itu Islam, menyampaikan bahwa bersikap baik kepada kedua orang tua adalah hal paling penting sekalipun ia disiksa, sekalipun Al Quran yang ia pegang dibanting, dan sebaginya.

Tidak jarang pula, Dayra melakukan live sms kepada saya di setiap malam untuk menyampaikan apa yang sedang dialaminya pada saat yang bersamaan. Ia juga tidak jarang dihadapkan dengan situasi-situasi yang membingungkan, sehingga di saat yang sama ia mengirimkan sms untuk menanyakan tindakan apa yang sebaiknya ia lakukan. Saya masih ingat betul sms-smsnya yang tidak jarang diawali dengan: "tadi Al Quran dibanting...", "tadi dibentak...", "tadi ada 'ustadz' main ke rumah...", "tadi disuruh minum minuman yang dikasih 'ustadz'...", dan masih banyak lagi.

Satu hal lain yang masih saya ingat adalah ketika ia nekat untuk menggunakan hijab. Saya masih ingat malam itu ketika ia menyampaikan perasaannya yang belum seutuhnya islam, seolah masih ada yang kurang. Keesokan harinya, beyond my expectation, ia benar-benar memutuskan untuk menggunakan hijab. Ia pun kemudian masuk ke toplist wanita ternekat yang pernah saya temui. Bagaimana tidak? Keluarganya kristen, bahkan masih membenci keislamannya. Tiba-tiba ia memutuskan untuk memakai hijab? How insane she was!? Dan hasilnya benar saja. Ia kemudian tidak diperbolehkan berangkat sekolah selama beberapa lama.

Di saat itulah, kemudian saya, Khairul, Alya, dan Allida bertemu dengan Dayra yang secara sembunyi-sembunyi kabur dari rumah dan pergi ke DTC untuk menemui kami berempat dan menceritakan apa yang dialaminya. Sempat berbincang-berbincang sebentar, tiba-tiba Dayra pun lari masuk ke dalam Mall karena ia melihat supirnya membuntutinya dari rumah. Di sana pun akhirnya terjadi permainan 'petak umpat' paling memorable dalam hidup saya.

Saya masih ingat betul kenangan-kenangan bersama Akad di kelas XI dulu, karena memang hampir setiap hari selalu ada waktu yang saya sisihkan untuk berkumpul bersama mereka dan satu dari lima hal yang saya pikirkan di kepala saya saat itu adalah masalah-masalah yang Dayra hadapi. Mereka adalah orang-orang yang sukses membuat saya bodoh di hari ulang tahun saya. Mereka berhasil mengerjai saya dengan argumen-argumen logis yang membuat saya, bahkan Khairul pun tidak sadar sama sekali bahwa saat itu saya sedang dikasih surprise ulang tahun ke-17. Mereka juga pernah memberikan baju kepada saya dan berpesan untuk menggunakannya di tempat-tempat istimewa. Akhirnya baju yang jarang sekali saya pakai itu pun saya gunakan ketika berada di puncak Gunung Merapi sambil mengenakan jaket Aethernum dan mengibarkan bendera merah putih. *Hey Kalian, aku pake baju itu di puncak Merapi hey!!!*

Namun, Akad tidak berlangsung lama. Akad seakan bubar seiring dengan kami naik ke kelas XII. Penyebabnya? Ya kami sudah sibuk masing-masing, dan saya yang ngambek kepada mereka semua. Kenapa saya ngambek? Karena di kelas XII, saya melihat mereka semua pacaran. Khairul dan Dayra, Alya dan Madhan. Kenapa saya ngambek melihat mereka pacaran? Karena di setiap pertemuan Akad, tidak jarang saya berbicara tentang pacaran dan mengajak mereka semua untuk tidak pacaran. Dan saya merasa dikhianati ketika melihat apa yang mereka perbuat di kelas XII itu. It hurts me a lot.

Selepas ini semua, saya melihat Dayra telah tumbuh menjadi orang yang semakin mencintai Islam. Meskipun saya 'ngambek', tapi saya tetap terus menerus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dayra. Jika saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya, saya tidak akan menyuruhnya bertanya ke orang-orang tertentu kecuali orang tersebut sudah saya rekomendasikan pure karena saya melihat ilmu yang ada pada diri orang tersebut.

Akad sudah bubar, saya dipertemukan dengan 'lingkaran' lain yang kemudian dinamakan Wake. Intensitas komunikasi saya dan Dayra semakin jarang, bahkan di masa-masa kuliah ini, saya tidak jarang mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya, seperti telat menjawab ataupun memberikan penekanan-penekanan kekesalan karena ia terlalu banyak bertanya. Namun di balik itu semua, tidak ada jaminan bahwa Dayra sudah aman. Tidak ada jaminan bahwa Dayra sudah tidak lagi diancam keluarganya. Bisa jadi ia masih menerima itu, bahkan bisa jadi beberapa kali semakin parah. Tapi, ia tidak pernah menyampaikannya.

Bye, Dayra :)
Chat terakhirnya Januari lalu benar-benar seperti perpisahan untuk kami berdua. Dayra meminta maaf dan memohon untuk melupakan masa lalunya, lebih tepatnya adalah masa-masa ketika saya 'ngambek' karena melihatnya pacaran dan dia menyadari itu. Kamudian ia berterima kasih kepada saya atas segala bantuan yang telah saya berikan. Seperti ini ucapannya:

"Oya adhita, tlg lupakan masa lalu gua ya dan gua sanga sangat minta maaf #lega. Makasih banyak loh buat segala bantuannya, gua hanya bisa membalas dengan do'a :) . Jazakallah Khairan"

Chat itu dikirim ke saya pada tanggal 4 Januari 2017 pukul 6:06 pagi. Percaya atau tidak? Bahkan saya tidak membalas sms terakhirnya itu. Walaupun 30 menit sebelumnya, tepatnya pukul 5:39, saya secara random mengirim chat ke Dayra yang berbunyi "day, kalo mau nikah gua diundang ya.". Kemudian ia membalas pukul 5:47 dengan bunyi, "Iya lah diundang, insya Allah wkwk".

Saya memang tidak pernah serius menanggapi chat-chatnya kalo sedang tidak membahas agama. Bahkan di hari sakitnya, ketika Khairul pertama kali menelfon saya, saya dalam hati beranggapan bahwa mereka berdua mau menikah dan ingin menyebarkan undangan kepada saya atau meminta saya untuk hadir ke pernikahannya. Namun, ternyata salah. Justru itu adalah kabar sakitnya Dayra sebelum beberapa hari kemudian meninggal.

Sampai jumpa, Dayra Dimitra Adelina. Gimana rasanya di sana?? Cepat atau lambat saya bakal nyusul ke sana :) Terima kasih banyak atas inspirasinya kepada kita semua. Kamu meninggal dalam kondisi yang bikin iri. Kamu rajin ikut kajian, selalu optimis memandang segala hal. Aku ga bohong. Aku saksinya. Terima kasih atas memori yang sangat indah ini. Dan kapanpun, aku akan bersaksi kepada Allah, kepada teman-temanku, kepada istriku, kepada anak-anakku, kepada cucu-cucuku seperti apa yang pernah diucapkan Abdurrahman Bin Auf.

"Dayra Dimitra Adelina. Muslimah yang taat dan solehah, tapi ketika wafat, ia dikuburkan tanpa sehelai kain kafan pun menutupi tubuhnya dan dihias di dalam peti mati. Sedangkan ia adalah muslim yang lebih baik daripada saya."

GoodNews Coffee & Dine.
Depok, 4 Juli 2017.

Senin, 03 Juli 2017

Penyakit 'Ain dan Selebgram

Pagi ini saya melihat ada sesuatu yang aneh dari postingan Ibuk, si Ibunda dari Kirana yang lucu itu. Di postingan Instagramnya tersebut, ia mencoba menjelaskan perubahan sikap yang dialami Kirana yang disebabkan oleh terlalu seringnya orang memfoto ataupun merekam Kirana. Permohonan maaf pun disampaikan Ibuk kepada para fans Kirana, padahal justru menurut saya mereka lah yang seharusnya meminta maaf kepada Ibuk dan Kirana. Dan di tulisan ini, saya mencoba membahas fenomena yang sedang marak belakangan ini, terkait anak kecil lucu yang menjadi selebriti di Instagram.

Sejujurnya, di dalam Islam ada sebuah penyakit bernama 'Ain (silakan di googling kalau Anda penasaran). Penyakit 'Ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.



 Gampangnya seperti ini: ketika Anda sukses berkeluarga, memiliki anak, dan juga sukses dalam berkarir, sunnatullah-nya akan muncul pandangan orang-orang yang beraneka ragam kepada Anda, dari mulai benci, iri, hasad, maupun kagum. Pandangan ini bukannya tidak berarti apa-apa, justru dapat memberikan suatu dampak terhadap orang yang dipandang tersebut. Dan penyakit 'Ain ini dapat terjadi melalui pandangan orang secara langsung maupun tidak langsung (lewat foto di media sosial misalnya).


Lantas, apa dampak dari penyakit 'Ain ini terhadap orang yang terkena? Bisa bermacam-macam, seperti anak yang dalam kondisi sehat wal afiat tiba-tiba sakit tanpa sebab, anak yang tiba-tiba menangis tak kunjung berhenti, anak yang tiba-tiba tidak mau menyusui hingga akhirnya kurus kering, dan sebagainya. Saya pribadi pernah melihat salah satu korban penyakit 'Ain, yaitu seorang anak kecil lucu yang fotonya pernah tersebar ke mana-mana, kemudian beberapa tahun kemudian anak tersebut menjadi kurus dan kulitnya bruntusan jelek sekali. Apa yang saya lihat memang tidak terjamin benar, karena saya melihat hal tersebut juga di salah satu media sosial juga. Namun, hal ini bukan berarti tidak mungkin. Penyakit 'Ain itu bukan fiktif, dan selama 'pintu' penyakit 'Ain ini terus dibuka, potensi terjadinya penyakit 'Ain itu akan terus ada, cepat atau lambat dan atas kehendak Allah.

Saya adalah orang yang sadar betul akan hadirnya penyakit ini di tengah masyarakat kita hari ini. Ditambah lagi kehadiran media sosial yang semakin mempermudah akses untuk memperluas wabah penyakit ini. Sejak awal, ketika saya melihat maraknya fenomena anak kecil selebgram ini, khawatir adalah hal pertama yang saya rasakan dan menolak adalah langkah pertama yang saya lakukan. I mean, I don't know what to say to convince people about these stuffs, but trust me it's just not good, that's what i thought. Tetapi, adalah suatu hal yang sulit ketika Anda harus meyakinkan suatu masyarakat yang sedang 'mabuk'. Anda akan diabaikan, bahkan dibalas dengan cacian atau dikucilkan oleh masyarakat tersebut. Padahal apakah Anda salah? Tidak, Anda benar, hanya saja masyarakatnya sedang 'mabuk'. Maka, langkah yang harus Anda lakukan adalah menunggu hingga sampai pada saat yang tepat, kemudian mereka akan sadar dengan sendirinya dan berkata "Ohiya ya, ternyata selama ini kami salah."

Salah satu alasan saya meninggalkan Instagram adalah karena khawatir terhadap mewabahnya penyakit 'Ain ini, entah saya yang menjadi korban atau bahkan orang lain menjadi korban karena pandangan saya. Namun, ada hal menarik beberapa saat sebelum saya pada akhirnya meyakinkan diri untuk menghapus akun official instagram saya: Saya sempat melihat Instastory dari Sekar Vania yang merupakan adik dari Mentor saya, Bang Alham Fikri Aji. Di story-nya tersebut, diperlihatkan punggung Bang Aji yang sedang menggendong anaknya, tapi wajahnya disensor dengan sticker. Kemudian saya comment dengan pertanyaan, "kenapa dikasih sticker wajahnya? Kan mau liat muka anaknya bang Aji". Lalu, Vania menjawab (kurang lebihnya), "ga tau, Bapaknya minta supaya wajah anaknya ga tersebar. Instagram berbahaya katanya wkwk". Setelah itu langsung terkagum-kagum dalam hati dan langsung teringat akan bahaya penyakit 'Ain ini. Saya menyimpulkan bahwa Bang Aji aware betul dengan bahayanya penyakit 'Ain.

Yang perlu kita sadari adalah bahwa fenomena anak kecil selebgram belakangan, menurut saya, membuat orang menjadi lupa diri dan juga lupa akan arti dari memiliki anak dalam rumah tangga. Saya sejujurnya agak sedih terhadap anak-anak kecil yang sejak bangun tidur hingga tidur lagi, aktivitasnya selalu direkam oleh kamera. I mean, is that okay? it totally bothers him, doesn't it? Kenapa direkam terus-terusan? Diajak jalan-jalan bikin vlog terus-terusan? Mbok ya diajarin Al Quran, mbok ya dididik juga. Anak memang investasi dunia dan akhirat, tapi jika kelucuannya terus menerus digunakan sebagai sarana untuk meraup keuntungan, bukankah itu dinamakan eksploitasi? 

The point is, mungkin memang para Ibu tidak ingin melewatkan satu momen pun bersama anaknya, sehingga setiap gerak-geriknya selalu direkam sebagai kenangan untuk masa yang akan datang kelak. Mungkin para Ibu sadar bahwa anak-anak mereka lucu dan cerdas, dan ia ingin menunjukkannya sebagai motivasi bagi orang lain. Tapi, perlu dipelajari betul sampai sejauh apa batasan-batasannya, apa dampaknya bagi anak, dan yang paling penting adalah apa yang tidak boleh terlewatkan dalam proses pendidikan bagi anak tersebut. Karena jangan sampai terlalu sibuk mengeksploitasi anak kita sendiri membuat kita lupa akan hak-haknya. Bukan hanya hak atas asi dan hak atas nafkah yang harus diterimanya, tapi juga hak pendidikan dan hak untuk hidup secara normal, hak untuk bermain dengan normal, danhak untuk berinteraksi dengan manusia normal.

Melalui tulisan saya ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa Islam bukanlah agama yang ribet, yang aturannya banyak, tidak ada manfaatnya, atau bahkan tidak sesuai dengan zaman ini. Sama sekali tidak. Itu salah. Justru Islam adalah agama yang mengatur segala sesuatu, bukan tidak memberikan manfaat, tapi justru ada banyak sekali manfaat dari perintah ataupun larangan yang Islam perintahkan, hanya saja terkadang kita terlalu 'mabuk' dalam menjalani kehidupan duniawi ini.

Saya juga berharap kepada Ibuk supaya Allah berkahi urusannya, senantiasa diberikan petunjuk, dan tetap menjadi inspirasi bagi semua orang, khususnya bagi para Ibu dan calon-calon Ibu yang lain.
Wallahu A'lam.

GoodNews Coffee & Dine,
Depok, 4 Juli 2017.

Senin, 08 Mei 2017

Realita Kehidupan dalam Sebuah Film

Belakangan ini ada beberapa film yang menarik perhatian saya. Film-film tersebut memiliki sebuah kesamaan, yaitu sama-sama berlatarkan realita kehidupan yang sesungguhnya (di balik apakah itu fiktif atau real). Yang membuat saya tertarik adalah di samping ceritanya yang berlatarkan kehidupan yang real, film-film ini tidak hanya mengangkat problematika-problematika kehidupan yang real, melainkan juga memberikan motivasi dan solusi dari problematika-problematika yang diangkat.

Yang pertama, saya ingin sekali berterima kasih kepada film Boyhood. Film ini sudah membuktikan kekerenannya dengan meraih berbagai penghargaan dari mulai Academy Awards hingga Golden Globe. Tapi, bukan itu alasan yang membuat saya ingin berterima kasih kepada film ini. Alasan saya berterima kasih adalah karena film ini menggambarkan dengan sangat detil tentang bagaimana orang-orang Amerika menjalani kehidupannya. Lebih tepatnya, tentang kehidupan dua orang anak kakak-beradik bernama Samantha & Mason dari mulai mereka masih kecil hingga mereka dewasa. Saya benar-benar mendapat banyak pengetahuan baru melalui film ini karena sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai proses pertumbuhan anak-anak Amerika dan sangat ingin mengetahuinya.

Yang kedua, saya juga ingin memberikan sanjungan kepada film Manchester By The Sea. Ini merupakan sebuah film yang sangat inspiratif dan saya sejujurnya bingung harus menggambarkannya seperti apa. Yang jelas, berbeda dengan film Boyhood yang berlatar di US, film Manchester By The Sea ini berlatar di Inggris, tepatnya di kota Manchester. Film ini bercerita tentang seorang handy man atau janitor yang memiliki kehidupan yang luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena dia ditinggal mati oleh anaknya, ditinggal cerai oleh istrinya, ditinggal mati oleh kakaknya yang paling sayang kepadanya, dan dia harus hidup dengan penuh keterbatasan sambil mengurus keponakannya yang menjadi tanggungannya. Film ini bukan tipe film yang "nyuapin", kita harus memperhatikan betul selama menonton dan banyak hal-hal yang baru diceritakan di tengah film ini, sehingga sesekali membuat penontonnya terkejut. Overall, ini adalah film yang luar biasa menurut saya.

Yang ketiga, ini adalah sebuah film jadul yang beberapa minggu lalu baru saya tonton. Film yang berjudul Good Will Hunting ini awalnya saya kira bermakna "good will hunting" sebagai sebuah kata kerja atau semacam "kebaikan akan mengejarmu". Tapi, kalau Anda menonton film ini, Anda akan mendapatkan makna yang berbeda dari judul filmnya dan saya tidak akan memberitahu di sini. Film ini bisa dibilang merupakan film paling "ga real" kalau dibandingkan dengan film-film lainnya, tapi merupakan film yang menjadi top list nomor 1 jika mau saya urutkan berdasarkan yang terbaik menurut saya. Film ini bercerita tentang kisah 4 orang anak muda yang bersahabat dimana salah satunya (si Matt Damon) merupakan orang yang jenius. Mereka berempat adalah orang-orang golongan kelas bawah (miskin) dan tidak ada yang sekolah. Gitu lah ya, panjang ceritanya. Intinya dari film ini Anda tidak hanya mendapat pelajaran tentang pentingnya belajar, tapi juga tentang bersyukur, tentang indahnya persahabatan, dan tentang memutuskan.

Yang keempat sekaligus yang terakhir, yaitu Spotlight. Saya ragu sebenarnya untuk memasukkan film ini ke tulisan saya karena walaupun sama-sama berlatarkan realita kehidupan yang normal, film ini bisa dibilang adalah film yang paling berbeda di antara yang lain. Jika film-film lainnya menggambarkan suatu problematika kehidupan, film ini lebih ke arah dokumentasi tentang keberhasilan sebuah tim dalam memecahkan suatu masalah which is problematika juga sih sebenarnya. Saya dalam memandang film ini selalu beranggapan bahwa: jika Marvel menggambarkan sosok pahlawan dengan berbagai kekuatan super yang bisa dibilang sangat mustahil, lalu Sherlock menjadi pahlawan dengan kecerdasannya yang gokil dan nyaris mustahil, maka Spotlight adalah sekumpulan pahlawan dengan kemampuan yang standard namun menjadi spesial dan berhasil dikarenakan kerja tim yang sangat baik. Jadi, maksud saya adalah bahwa di dunia ini ada banyak film super hero, tapi spotlight adalah film "super hero" yang real dalam kehidupan kita, bukan super hero khayalan yang hanya membuat kita larut dalam khayalan semu.

Lalu, sebenarnya apa tujuan saya menulis tulisan ini? Sejujurnya, saya ingin menggabungkan beberapa hikmah yang terdapat di film-film ini, sehingga bisa bermanfaat bagi kita semua.

1. I Just Thought There Would be More.
"This is the worst day of my life..
I knew this day was coming..
I didn't you're gonna be so happy to be leaving..
You know what I'm realizing? My life is just gonna go, like that.
This series of milestones..
Getting married. Having kids. Getting divorced.
The time that we thought you were dyslexic..
When I taught you how to ride a bike..
Getting divorced again. Getting my master's degree.
Finally getting the job I wanted.
Sending Samantha off to college. Sending you off to college.
You know what's next? Huh? It's my funeral!!
.....I just thought there would be more."


Ini adalah sebuah kutipan dari scene yang terletak di bagian akhir film Boyhood. Yang saya tulis di atas adalah ucapan ibunya ketika hendak berpisah dengan anak bungsunya yang juga akan merantau untuk melanjutkan kuliah. Jujur saja, ketika melihat scene tersebut saya langsung teringat akan ibu saya yang pastinya juga sama sedihnya ketika hendak melepas saya merantau. Tapi, fokus pada ucapan ibunya tersebut. Lihat betapa sedihnya ia, betapa ketakutannya ia, karena semuanya sudah ia lalui, karena apa yang orang katakan dengan kehidupan normal itu sudah ia lalui hingga sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga masuk kuliah. Tapi, menarik jika diperhatikan kalimat yang paling terakhir. Itu adalah kalimat yang, jujur saja, tidak saya duga akan terucap oleh ibu tersebut. I mean, at the end dia merasakan perasaan-perasaan seperti "oke.. jadi gini aja? Udah selesai?" dan dia menuangkannya dengan kalimat "I just thought there would be more". Itu lah kalimat yang membuat saya ingin berterima kasih pada film ini.

Look, di tulisan saya yang berjudul "Galau", saya pernah menyampaikan bahwa detik ini saya berada di titik dimana saya bebas untuk menjadi apapun yang saya mau. Tapi, bukan itu poin utamanya. Justru poinnya adalah, lantas jika saya bebas menjadi apa saja yang saya inginkan, apakah pekerjaan yang saya pilih nantinya hanya akan sebatas memenuhi gengsi agar tidak dipandang memalukan oleh orang lain? atau memenuhi hasrat saya saja? memenuhi nafkah keluarga saya saja? tidak adakah yang lebih? Jika hanya itu yang dituju, saya hanya khawatir kelak akan mengucapkan kalimat yang sama dengan kalimat ibunya Mason ini dan saya tidak ingin itu terjadi.

Maka, penting bagi kita untuk memilih sesuatu secara bijak dan penuh rasa tawakkal kepada Allah. Kenapa? Karena kalimat "I just thought there would be more" bukanlah ucapan orang-orang muslim. Karena kita suda diberitahu bahwa hidup ini tidak sebatas seperti apa yang diceritakan film Boyhood tersebut. Kita hidup untuk membekali diri kita di akhirat kelak. Kita tahu bahwa there would be something more in the end. Akan ada kematian dan akan ada kehidupan setelah kematian yang harus kita siapkan. Film ini menampar kita sekaligus mengingatkan bahwa kita punya tujuan yang lebih spesial dalam menjalani kehidupan ini. Jauh lebih luas. Jauh lebih indah ketimbang hanya lahir - sekolah - pacaran - nikah - punya anak - mati. Karena the truth is Islam lah yang justru membuat hidup kita lebih dari yang biasanya.

2. The Best Part of My Day

"Look, you're my best friend. so don't took this the wrong way..
But, in 20 years.. If you're still living here.. still working on construction..
I'll kill you. That's not a threat. That's a fact.. I'll kill you.
Look, you got something none of us have..
You don't owe it to yourself. You owe it to me..
Because tomorrow I'm gonna wake up and I'll be 50..
And I'll still be doing this shit.. And that's all right, that's fine..
You're sitting on a winning lottery ticket..
And you're too much of pussy to cash it in.. And that's bullshit..
'Cause I'd do anything to have what you got..
It'd be an insult to us if you're still here in 20 years..
Hanging around here is waste of your time..
Let me tell you what I do know..
Everyday I come by your house and pick you up..
And we go out and we have a few drinks and a few laughs..
And it's great..
You know what the best part of my day is?
For about ten seconds from when I pull up to the kerb and when I get to your door..
'Cause I think maybe I'll get up there and I'll knock on the door and you won't be there..
No good bye.. No see you later.. No nothing.. You just left..
I don't know much, but I know that."


Itu adalah kutipan dari ucapannya Ben Affleck kepada Matt Damon di film Good Will Hunting yang sangat menyentuh menurut saya. Tapi, kalau ditanya apakah saya punya teman yang rela berkorban hingga seperti itu, jawabannya tentu tidak. Justru scene ini sangatlah menyentuh saya ketika memposisikan percakapan ini menjadi antara orang tua dan anak. Yep, sangat menyentuh. I mean, saya tidak tahu apakah ini hanya problematika dalam hidup saya ataukah semua orang mengalaminya, tapi yang jelas diri kita sendiri memang terkadang tidak menuntut kita untuk mendapat cumlaude, atau mendapat pekerjaan yang layak, atau sekadar memutuskan untuk berkuliah. Ya, diri kita memang mungkin tidak menuntut kita melakukan itu semua. Orang tua kita lah yang sebenarnya menuntut kita untuk melakukan hal - hal tersebut, karena selain ini menjadi tanda terima kasih kita kepada mereka, ini juga menjadi bentuk perlindungan kita kepada mereka. Karena ketika besok kita sudah diterima kerja di perusahaan multinasional A atau memulai usaha sendiri, kedua orang tua kita juga sudah semakin tua dan tidak lagi dapat menghidupi atau membiayai kehidupan kita. Justru kita lah yang kelak harus mengurus mereka, menghidupi, dan membiayai kehidupan mereka.

Jumat, 05 Mei 2017

Gak Mau Belajar Islam?

saya berupaya untuk mencari tahu sebenarnya apa yang menjadi penyebab di balik ketidakmauan seseorang untuk mempelajari islam. saya belajar dari pengalaman saya, dari segala apa yang saya lihat, hingga saya merasa ada sesuatu yang mengganjal seseorang untuk mempelajari islam. Kadang, saya sebagai seorang part time penuntut ilmu (maksudnya masih belajar juga) melihat bahwa sebenarnya teguran atau permisalan yang diarahkan oleh para penuntut ilmu kepada mereka yang belum mau mempelajari islam itu tidak tepat. Misalnya: ketika seorang tidak mau mempelajari islam, lalu disemangati melalui kisah bagaimana para ulama terdahulu menuntut ilmu hingga berjalan beratus-ratus kilometer seperti imam syafi'i, apakah itu mampu menyemangati orang-orang yang belum mau mempelajari islam itu? Ya, tentu saja bisa menyemangati. Tapi, kisah tersebut tidak menyentuh ke akar permasalahan mereka.

Lantas, apa sebenarnya permasalahan utama dari orang-orang yang simply ga mau menutup auratnya, simply ga mau mempelajari islam, dan simply memandang islam sebagai sesuatu yang kampungan atau ga sesuai dengan apa yang terjadi di zaman sekarang? Apa ya? saya yakin sebenarnya di dalam benak mereka (atau salah satunya ada yang membaca tulisan ini) memendam alasan mereka masing-masing. sedangkan apa yang ingin saya tuliskan di sini hanya sebatas pemikiran dan renungan saya yang semoga sesuai dengan apa yang mereka rasakan.

1. Jangan Apatis dan Berpikir Terbuka
Ini poin pertama dan menurut saya inilah sebenarnya yang ada di benak orang-orang yang menolak untuk mempelajari islam. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal sesuatu jika kita selalu bersikap tertutup dan tidak mau membuka diri terhadapnya? Coba bayangkan jika Anda kuliah di Erasmus misalnya. Anda tinggal di Rotterdam seorang diri tanpa memiliki seorang teman pun. Lantas, apa yang akan Anda lakukan? Apakah akan hidup terus-menerus seorang diri? Menutup diri kepada semua orang tanpa memberikan ruang bagi siapapun, termasuk tetangga di sebelah apartemen Anda? Apa yang akan terjadi jika demikian? Bete ga sih? Hidup ga punya teman, ga bisa dapet info diskon dari teman, ga bisa dapet info liburan murah dari temen, hidup ga berwarna. Tapi, apakah jika di kehidupan nyata Anda akan berbuat demikian? Tentu saja tidak. Anda akan berupaya untuk membuka relasi sebanyak-banyaknya. Kenapa? Karena kuliah di luar negeri adalah pencapaian tertinggi bagi kebanyakan orang, itu adalah sebuah perwujudan mimpi, dan itu adalah kesempatan untuk memiliki banyak teman dari berbagai penjuru dunia. Tentu saja kita tidak akan menutup diri.

Nah, itu yang harus kita lakukan. Jangan apatis berarti bahwa kita harus membuka pikiran kita terhadap islam sebagaimana kita membuka pikiran kita terhadap ilmu-ilmu barat yang kita pelajari. Jika tidak mau berpihak pada ilmu islam, setidaknya berilah porsi yang seimbang, atau setidaknya berilah sedikit porsi dari kapasitas keilmuan kita untuk setidaknya mengenal islam. Jika masih susah untuk tidak apatis, maka cobalah beberapa cara seperti : (i) Menyadari bahwa Allah itu ada, sadari bahwa Allah melihat kita. sadari bahwa Allah yang ada pada zaman bumi ini direndam air (zaman Nabi Nuh) dulu hingga zaman sekarang adalah Allah yang sama. Tidak berbeda. Tidak berubah wujudnya. Tidak tidur. Tidak pergi ke mana-mana. Allah yang menciptakan kita sehingga kita terlahir dari rahim ibu kita dan hidup di tengah keluarga kita. Allah yang mempertemukan kita dengan teman-teman kita. Allah yang menggerakkan Anda untuk membaca tulisan ini sehingga Anda berpikir. Jika sudah sadar bahwa Allah itu ada, tahap selanjutnya adalah minta petunjuk kepada Allah. (ii) Minta petunjuk kepada Allah jika Anda bingung apakah islam itu benar ataukah salah. Minta petunjuk kepada Allah jika Anda kecewa kenapa menutup aurat itu diwajibkan. Minta petunjuk kepada Allah jika Anda benci kenapa hidup ini penuh dengan aturan. Minta petunjuk kepada Allah jika Anda bingung kenapa perbuatan nikmat yang Anda inginkan itu termasuk perbuatan dosa. Minta dengan sungguh-sungguh. Karena Allah pasti mengerti kondisi Anda dan pasti akan memberikan jawaban yang tepat. Jika sudah meminta petunjuk, (iii) berpikir positif lah kepada Allah. Berpikir positif dalam arti berhusnudzon dan yakin bahwa Allah itu akan menjawab doa Anda. Dan jangan manja. Jangan manja dalam arti jangan berharap bahwa Allah akan memberikan jawaban seperti menyuapkan McFlurry ke mulut Anda. Jawaban yang Allah berikan seringkali membuat Anda harus berpikir dan tidak jarang hadir di saat-saat yang tidak Anda duga.

2. Jangan Bergantung Pada Diri sendiri
Kebanyakan dari kita begitu sombong dan terlalu melebih-lebihkan diri kita sendiri, seperti : "Ah, ini baca Quran belajar sendiri aja. Bisa kok.", atau "Ah, ngapain sih dateng ke majelis ilmu, toh di Youtube juga ada. Atau baca-baca buku sendiri aja.". Ini adalah kesalahan fatal.

Banyak hal-hal yang mungkin kita pandang benar, padahal sebenarnya itu salah. Contohnya adalah perbuatan semacam ini, ketika kita memilih untuk mempelajari sesuatu seorang diri padahal Islam menyuruh dalam mempelajari agama itu dibantu oleh guru. Membaca buku atau mendengarkan kajian di Youtube adalah hal yang bagus, lebih bagus daripada mengisi waktu dengan kegiatan tidak berguna lainnya. Tapi, kita tidak boleh terus-menerus belajar dari buku atau belajar dari Youtube seorang diri. Kenapa? Karena itu membuka ruang bagi kesalahpahaman. Bayangkan ketika kita belajar ilmu kedokteran hanya seorang diri, tanpa interaksi berguru kepada dosen kita. Bisa jadi ketika kelak kita sudah menjadi dokter, ada kesalahpahaman yang berujung pada kesalahan ketika mengoperasi tubuh orang lain. Akibatnya fatal. Maka, dengan kita belajar bersama orang lain dan (akan lebih baik) bersama guru, kesalahpahaman tersebut akan diminimalisasi. setidaknya ada orang lain yang mengingatkan dan memberitahu kalau kita salah. Apa akibatnya jika orang-orang salah paham terhadap ilmu islam? Yap, fatal seperti hari ini. Bisa jadi yang haram dilabeli halal dan yang halal justru dilabeli tidak berguna.

Jangan bergantung pada diri kita sendiri karena justru orang-orang expert di dunia Islam seperti Abu Hurairah saja dulunya adalah manusia serba kekurangan seperti kita. Beliau selalu lupa terkait apa yang telah Rasulullah sampaikan kepadanya, lalu setelah Rasulullah doakan beliau, barulah beliau menjadi orang yang tidak pernah melupakan satu perkataan dari Rasulullah pun, hingga menjadi seorang yang paling banyak meriwayatkan hadits.

3. Putuskan! Jangan Ragu-Ragu
Ini adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh syeitan. syeitan lah yang mewariskan sikap ragu-ragu dalam diri kita. sedangkan sikap ini harus dihilangkan. Berpikir, merenung, menimbang-nimbang, itu diperbolehkan karena itu adalah bagian dari proses memilih. Tapi, ragu-ragu itu adalah perbuatan syeitan. saya tahu, memang ketika kita memilih untuk mempelajari islam, biaya peluang yang dikeluarkan akan besar dan efek multiplier-nya juga tinggi. Dan di sini lah tantangan selanjutnya dimana syeitan akan mempermainkan kita. Ketika kita hendak mempelajari islam, kita merenungi bahwa kelak kita akan mengetahui bahwa menutup aurat itu adalah sebuah kewajiban, menjaga pandangan adalah sebuah tuntutan, dan kita lantas akan memandang aneh kehidupan ini dengan segala hal yang ternyata dalam islam dilarang.

Itu lah ujiannya. Itu lah ujian dari Allah. Jika memang kita ingin masuk ke dalam surga-Nya yang indah dan penuh dengan kenikmatan itu, tidakkah kita akan diuji? Ini lah salah satu bentuk ujianNya. Memang, begitu sulit rasanya karena diri kita sudah sangat nyaman dengan kehidupan sehari-hari kita, musik, bangun siang, begadang untuk ngerjain tugas, sholat ngaret, dsb. Namun, ini lah tantangannya. Jangan pernah kita berharap, ketika Allah telah menjawab doa kita untuk menunjukkan kita jalan yang lurus, lantas Allah tidak menguji kita. Bayangkan ketika Anda hendak mendapatkan beasiswa dengan insentif mencapai 20 juta per bulan. Apakah Anda tidak akan diuji dan diberikan begitu saja? Mana mungkin! Jika ada beasiswa semacam itu, maka ribuan orang akan mengantri untuk mendaftarkan diri. Lalu, bagaimana caranya agar bisa mendapat kenikmatan 20 juta per bulan tersebut? Anda harus lolos ujian. simple!

Maka, jangan ragu-ragu di fase ini. Kuatkan diri. Jangan berpikir gimana kalo nanti males lagi sama yang beginian? Fine. Gapapa. Manusia itu ada sifat yang namanya futur, alias males. Kadang sifat itu hadir menguasai diri kita. Itu wajar, semua orang merasakannya termasuk ustadz yang Anda tonton di TV, termasuk ulama sekalipun. Putuskan saja! Jalani terus! Dan jika Anda terjatuh, bangunlah! Jika Anda terjatuh lagi, bangunlah! Jika Anda terjatuh lagi, bangunlah! Karena tugasnya syeitan lah yang membuat kita terus menerus dalam posisi jatuh dan menunda-nunda untuk bangun.

Minggu, 30 April 2017

Secangkir Kopi dan Sendok Teh

Secangkir kopi dan sendok teh
Yang menjagaku agar tetap hangat
Di kala hujan menerpa dahsyat
Dan aku hilang semangat

Secangkir kopi dan sendok teh
Berbeda tapi menentramkan
Berbeda tapi menghangatkan
Berbeda tapi saling melengkapi

Secangkir kopi dan sendok teh
Lantas mereka saling mendebat
Lantas mereka saling menghujat
Lantas mereka saling berbeda pendapat

Kenapa tak kau ubah saja sendoknya menjadi sendok kopi?
Kenapa tak kau tuangkan saja tehnya ke dalam cangkir?
Menjadi secangkir kopi dan sendok kopi
Atau secangkir teh dan sendok teh

Secangkir kopi dan sendok teh
Karena satu hal yang ku tahu,
Berbeda itu untuk saling melengkapi
Bukan untuk menang sendiri

oleh Adhita Prananda
Yogyakarta, April 2017

Senin, 17 April 2017

Menghapus Akun Sosial Media (Updated)

Sebelumnya, saya udah berpikir cukup panjang apakah benar-benar akan menuangkan alasan-alasan tersebut ke sebuah tulisan atau tidak. Karena pada dasarnya kita semua memiliki sikap dan tujuan yang berbeda-beda terhadap sosial media kita masing-masing. Ada yang mungkin benar-benar addicted seperti saya, ada pula yang mungkin "don't give a shit" terhadap apa yang dia lihat di feeds-nya. Ada pula yang memang tujuan akun instagramnya untuk sharing foto-foto keren, ada yang ingin keep in touch dengan teman-temannya, ada yang fokus mencari berbagai informasi, mencari jodoh, atau mungkin ada pula yang sengaja ingin memamerkan seluk beluk kehidupannya. Jadi, ya tergantung.

Saya memutuskan untuk menghapus akun saya sebenarnya sudah terpikirkan sejak lama. Ada beberapa faktor yang membuat saya pada akhirnya memutuskan pada sekitar 2 minggu yang lalu untuk benar-benar menghapus akun tersebut. Sebelumnya, percobaan untuk menghapus akun tersebut tidak hanya sekali saya lakukan. Pertama kali saya coba, saya menemukan kesulitan untuk menghapusnya karena satu dan lain hal hingga pada akhirnya saya menyerah dan terus mempertahankan akun instagram saya. Kedua kali saya mencoba, saya sudah sampai pada titik ketika saya bisa menghapus akun instagram tersebut dan hanya tinggal diklik saja. Namun, akhirnya saya masih ragu-ragu dan tetap mempertahankan akun instagram tersebut. Ketiga kali saya mencoba, saya kembali mengalami kesulitan dan tidak bisa menghapus akun tersebut. Hingga akhirnya saya hubungi salah seorang teman saya yang pernah menghapus akun instagramnya (terus bikin lagi kalo dia). Lantas, dia seketika mengulurkan pertolongan kepada saya agar sore itu biar dia saja yang menghapus akun saya tersebut. Yowes, saya berikan username dan password saya dan boom.... hilang seketika akun saya.

Satu hal yang perlu kalian ketahui adalah: bahwa menghapus sebuah akun sosial media dimana sebelumnya Anda sangat bergantung padanya, tempat Anda sharing kegiatan Anda, tempat Anda berkomunikasi dengan teman-teman Anda bahkan yang berada di luar negeri sekalipun, tempat Anda menghibur diri Anda sendiri sehari-harinya, tempat Anda curhat, dan lain-lain, itu tidaklah semudah yang Anda pikirkan. Di awal memang nampak seperti "okay, it's gone.", tapi kemudian akan mulai bermunculan perasaan-perasaan menyesal seperti "kenapa ga temporaily aja deletenya?", "kenapa begini....?", "kenapa begitu....?", dan lain-lain. Maka, butuh alasan yang sangat kuat jika memang Anda memutuskan untuk menghapus akun sosial media Anda dan butuh mental yang kuat pula karena setelah akun tersebut terhapus, yakinlah di pikiran Anda akan tergulir bisikan-bisikan yang membuat Anda merasa menyesali perbuatan tersebut.

Lantas, apa alasan saya menghapusnya? Btw, ini alasan saya murni lho ya. Saya ga akan memfilter alasan-alasan saya hanya demi kenyamanan pembaca, okay? And I don't give a shit about what people think of me~

1. Perasaan Takut
Sebenarnya perasaan yang saya maksud di sini sangatlah umum. Tapi, karena perasaan-perasaan yang umum tersebut cenderung membuat saya menjadi unhappy dan uncertainty, bikin labil lah pokoknya. Maka, perasaan-perasaan tersebut saya gabung jadi satu lewat satu kata, yaitu takut.

Saya adalah manusia yang hidup di abad ke-21 dan saat ini sedang berusia 21 tahun. I mean, ini adalah usia proses bagi kebanyakan orang. Kebanyakan teman-teman saya yang berada di usia ini, mereka masih berkuliah dan masih membangun cita-citanya. Ada yang sering sekali meng-update kegiatan sehari-harinya bersama teman-temannya, ada yang meng-update sedang belajar, sedang kuliah, sedang pergi ke suatu tempat, sedang berada di seminar ini dan itu, sedang foto bersama profesor ini dan itu atau artis ini dan itu, dan lain-lain. Satu kenyataan yang tidak terlihat dari fenomena ini adalah perasaan iri ataupun hasad yang muncul pada diri saya. Saya menyadari bahwa ini semua membuka ruang bagi setan untuk masuk ke dalam diri saya. Dan believe me, in the end, it could drives me crazy, even sometime i can simply against my own ambitions  and i can't recognize myself anymore. Seringkali karena ini semua, saya menjadi lupa siapa saya sebenarnya, saya sudah sampai di mana, apa yang ingin saya tuju, simply karena distraksi-distraksi yang ada di instagram tersebut. Distraksi-distraki tersebutlah yang membisikkan ke telinga saya pertanyaan-pertanyaan seperti: "Dhit, tuh lihat mereka...", "Dhit, masa lo hari gini cuma kayak gini....", "Dhit, payah banget sih....". And I can't help it.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Di awal sudah saya jelaskan bahwa ini tergantung pada diri kita masing-masing dalam menyikapi sosial media kita, termasuk konten-konten yang ada di dalamnya. Sedangkan saya, saya hanya ingin hidup terbebas dari perasaan takut ini semua. Perasaan takut yang muncul lewat bisikan-bisikan tersebut, yang membangkitkan rasa hasad dan rasa iri dalam diri saya. Ketika saya sedang belajar, saya ingin membuka instagram. Ketika saya hendak tidur, saya membuka instagram. Ketika saya bangun tidur, saya buka instagram. Ketika saya hendak bepergian ke suatu tempat, saya membuka instagram. Ketika saya mendapat kabar bahagia, saya membuka instagram. Ketika saya sedang merenungi sesuatu, saya membuka instagram. Lengkap sudah, Instagram ini benar-benar melilit diri saya. Perasaan-perasaan hasad dan iri tersebut seakan muncul sebagai stimulus atau perangsang bagi diri saya untuk bisa bertahan di Instagram dengan senantiasa mengupdate kegiatan-kegiatan saya. Tujuannya apa? Bukan lagi karena orang lain butuh informasinya, melainkan karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kehidupan kita sendiri tidak berbeda bahkan lebih berwarna daripada kehidupan mereka.

2. Biesta Adri Azizi
Ada yang kenal dengan nama di atas? Ya, dia adalah salah seorang adik kelas saya. Dulu, dia adalah adik kelas saya di SMAN 1 Depok, dan kini dia menjadi adik tingkat saya di Fakultas Kedokteran UGM.

Semuanya berawal dari suatu hari ketika saya sedang melihat video ceramahnya ustadz Budi Ashari di Youtube. Melihat video-video dakwah di Youtube adalah kebiasaan saya, apalagi video ustadz Budi Ashari dimana beliau sangat paham di bidang Sirah Nabawi (Sejarah Nabi), yang merupakan bidang favorit saya. Hingga saya sampai berpikir bahwa tidak ada lagi orang di antara teman-teman saya yang paham tentang Sirah Nabawi lebih dalam dibandingkan saya. Jujur. Karena saya suka sekali membaca buku Sirah Nabawi ataupun mendengarkan kajian-kajian ustadz Budi Ashari di Youtube yang selalu menyinggung-nyinggung tentang Sirah Nabawi atau kisah-kisah di saat Nabi Muhammad masih hidup bersama para sahabatnya.

Namun, ada hal lucu ketika saya melihat video tersebut. Ada satu pemandangan yang membuat saya merasa benar-benar tertampar. Bukan karen kajiannya, melainkan karena ketika kamera sedang mengarah ke audience, di situ saya melihat sosok teman saya, Biesta, sedang mengaji seorang diri dengan sangat serius. Saya sempat sangat shock di awal. Dan saya tertampar betul karena beberapa alasan: (i) Saya sering berdiskusi dengan Biesta, salah satunya tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Kami berdua bersama beberapa laki-laki SMAN 1 Depok saat ini punya program pertemuan untuk belajar bahasa arab tiap minggunya dan Biesta ditunjuk sebagai gurunya karena memang sangat capable. Saya, dalam berdiskusi dengan dia dan teman-teman saya lainnya, terang-terangan mengatakan bahwa saya sangat update dengan kajian-kajian Sirah Nabawi, dan cukup dekat dengan ustadz Budi Ashari baik dalam mengikuti kajian secara langsung dengannya ataupun hanya menonton di Youtube. Namun, saat itu apa yang terjadi? Dia yang selama ini diam dan ngangguk-ngangguk saja terhadap nasihat-nasihat saya yang berdasar pada Sirah Nabawi, ternyata selama ini berada jauh di depan saya. Saya yang hanya merupakan seseorang penuntut ilmu lewat Youtube, dihadapkan langsung dengan dia yang berada di tengah kajian tersebut. Saya juga ingat kajian itu adalah kajian yang berlangsung pada Ramadhan tahun lalu dan saya tidak hadir karena memilih untuk melakukan aktivitas lain, sedangkan dia hadir langsung ke kajiannya.

Poin yang saya maksud sebenarnya adalah tentang tamparan tersebut. Ibarat Anda misalnya sangat cinta pada drama-drama Korea dan selalu menceritakan progress drama tersebut kepada seorang teman Anda. Lalu, teman Anda hanya mengangguk-ngangguk menyimak progress yang Anda ceritakan. Hingga tiba-tiba Anda menonton sebuah episode dimana teman Anda tersebut berada di dalam drama korea yang sedang Anda tonton, menjadi lawan main dari artis yang Anda puja-puja dan selalu Anda ceritakan kepada teman Anda tersebut. Gimana rasanya? Tertampar, kah? 

(ii) Saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri: "Gimana bisa di dunia abad ke-21 ini masih hidup sosok orang-orang yang mengerjakan sesuatu tanpa perlu pamer kepada orang lain?". Bagaimana bisa ada seseorang yang hidup di zaman ini dan bisa fokus begitu saja menuntut ilmu tanpa perlu update atau mengupload kegiatannya tersebut ke sosial media? Bagaimana bisa ada orang-orang seperti itu? Setelah saya melihat langsung kejadian terebut, saya kembali membulatkan tekad bahwa saya bisa hidup dengan bebas tanpa instagram. Saya bisa fokus menuntut ilmu. Saya bisa lebih ikhlas dalam menjalani apapun tanpa harus khawatir bagaimana balasan dari teman-teman saya. Saya bisa lebih nyaman dalam menjalani aktivitas dan beribadah, tanpa perlu mengkhawatirkan persepsi orang lain terhadap diri saya.

3. Kisah-Kisah yang ada di Sirah Nabawi.
Saya dan Biesta adalah dua orang yang sepakat bahwa Sirah Nabawi adalah buku yang harus dibaca oleh setiap orang muslim, baik dia berilmu ataupun tidak. Kenapa? Karena di Sirah Nabawi lah kita tahu gambaran Rasulullah itu seperti apa, bagaimana Beliau menjalani kehidupan sehari-harinya, masalah apa saja yang ada, kondisi lingkungan internal dan eksternalnya seperti apa, seberapa jahiliyahnya zaman tersebut, sebijakasana apakah Rasulullah dalam berucap ataupun dalam menyelesaikan permasalahan. Semua ada di situ. Maka, orang muslim yang berilmu (dalam hal Muamalah atau Fiqh atau lainnya), jika ia tidak melengkapi dirinya dengan gambaran Sirah Nabawi (gambaran tentang bagaimana Rasulullah menjalani kehidupannya dulu), ia tidak akan bisa bijaksana dalam mengamalkan ilmunya, baik itu kepada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain. Sedangkan orang yang tidak berilmu, jika ia tidak mengetahui gambaran bagaimana exactly Rasulullah menjalani kehidupannya dulu, ia akan hanyut dalam kehidupan dunia ini dan tanpa sedikitpun merasa bersalah akan berucap: "Itu kan ajaran Islam jaman dulu, hari ini kondisi udah berubah".

(i) Lihat kisah bagaimana umat muslim di zaman Rasulullah hidup, ketika muslimin disiksa habis-habisan oleh masyarakat Quraisy dan di sisi lain mereka tidak boleh membalas siksaan-siksaan tersebut. Kenapa? Karena turun perintah dari Allah melalui Rasulullah, perintah yang mengatakan untuk "menahan tangan-tangan umat muslim". Maksudnya adalah agar umat muslim tidak membalas siksaan-siksaan dari mereka. Di kisah ini, orang yang tidak berilmu akan mengatakan "kenapa ga dibales itu coy! Bego banget sih itu kan lagi disiksa kok malah ga dibales!", tapi orang yang berilmu akan memilih untuk mengikuti ucapan Rasulullah. Orang berilmu akan berpikir "biarlah kami disiksa dan kami tidak akan membalasnya selama Rasulullah melarang kami membalasnya. Biarlah Allah ganti siksaan ini dengan Surga bagi kami, dan jikalau kami mati karena siksaan ini, kami akan syahid dengan ganjaran Surga.". Kalau kita baca Sirah Nabawi, kejadian ini memang aneh karena Rasul melarang umat muslim membalas siksaan yang dilakukan kaum Quraisy. Tapi, ada pesan yang hendak disampaikan melalui sikap ini: bahwa Rasulullah ingin menguji umat muslim apakah taat kepada pemimpinnya atau tidak. Apakah keislaman mereka benar-benar islam yang seutuhnya atau hanya di bibir saja, di sini mereka diuji. Lalu, lihat apa yang terjadi puluhan tahun kemudian. Mereka yang dulunya sangat menaati Rasulullah dan menaati aturan Islam, puluhan tahun kemudian tersebar menjadi pemimpin-pemimpin yang adil di berbagai penjuru dunia. Tidak hanya Mekkah, tapi di berbagai penjuru dunia. Mereka yang patuh kepada pemimpin sekalipun tersakiti, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin hebat yang adil bagi rakyat-rakyatnya. Itu pesannya.

(ii) Lihat juga kisah ketika muslimin yang hendak melakukan tawaf di Mekkah disindir-sindir oleh petinggi-petinggi Quraisy. Kenapa? Karena di Sirah Nabawi dijelaskan bahwa Madinah, tempat umat muslim berada, dulunya adalah tempat yang penuh dengan wabah penyakit. Wabah penyakit tersebut dinamakan dengan Demam Madinah. Orang-orang seperti Bilal bin Rabah dan Abu Bakr Ash Shiddiq pernah terkena wabah penyakit ini, hingga Rasulullah mendoakan kesembuhan bagi keduanya dan berdoa agar wabah penyakit tersebut dihilangkan dari Madinah. Lalu, ketika umat muslim tersebut hendak tawaf di Masjidil Haram dan disindir-sindir oleh petinggi Quraisy dengan sindiran-sindiran seperti: "Tuh lihat.. orang-orang penyakitan mau tawaf. Paling dua puteran juga ga kuat.". Lalu, lihat pula bagaimana Rasulullah menjawab sindiran-sindiran orang Quraisy tersebut. Rasulullah justru menyuruh umat muslim yang hendak melakukan tawaf tersebut untuk berlari di tiga putaran pertama. Ini yang kemudian menjadi salah satu sunnah dalam melakukan tawaf, yaitu sunnah Raml yang berarti berlari-lari kecil dari sudut Hajar Aswad hingga sudut Rukun Yamani. Belum selesa sampai di situ. Lantas, apa lagi yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah menyuruh umat muslim yang laki-laki agar menurunkan sedikit baju ihramnya yang sebelah kanan dan menunjukkan lengan kanannya. Apa tujuannya? Tujuannya agar orang-orang Quraisy melihat bahwa inilah umat muslim yang mereka sindir-sindir karena penyakitan, justru saat ini sedang berlari-lari mengelilingi ka'bah sambil memperlihatkan tangan kanannya yang berotot. (Kisah detilnya jauh lebih menarik namun sulit untuk saya tuliskan, akan lebih asik jika disampaikan langsung lewat ucapan)

(iii) Lihat pula kisah bagaimana orang kaya seperti Abdurrahman bin Auf menangis ketika hendak memakan sebuah roti yang enak. Ketika hendak memakan roti tersebut, Abdurrahman bin Auf sambil menangis berkata (kurang lebih): "dulu Rasulullah sampai wafatnya tidak pernah makan roti seenak ini, tapi hari ini aku dapat memakan ini dengan begitu nyamannya. Aku khawatir bahwa kebaikan-kebaikanku telah Allah balas dengan kenikmatan di dunia ini."

Tiga kisah tersebut saya masukkan ke tulisan ini sebagai tiga sudut pandang dari tiga hal yang saya temui di instagram. Apa saja ketiga hal itu: (i) suffering, (ii) cara mengatasi, dan (iii) pamer kenikmatan. Pertama, kita sebagai umat muslim jangan justru mengeluh di instagram. Mengeluh karena sedang kesusahan skripsi, mengeluh karena ban bocor, mengeluh karena sedang UTS, mengeluh karena banyak tugas sehingga baru bisa tidur jam 2 pagi, mengeluh karena sudah tiga bulan belum liburan ke pantai, dan sebagainya. Shut up! Inilah yang saya bilang ketika orang tidak berilmu akan terhanyut dalam dunia ini dan kebingungan tentang jati diri islam itu sendiri. Lihat di kisah pertama bagaimana suffering yang dialami umat muslim hari ini, disiksa dengan tindihan batu di terik siang hari hingga kulit melepuh. Ada yang sampai kulitnya mengelupas dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, siksaan apa yang kita terima hari ini? Kok bisa hanya karena belum ke pantai dalam kurun waktu dua bulan terakhir hingga membuat kita mengeluh dan menangis-nangis di Instagram? Dan orang-orang yang mengeluh pun bukan orang-orang bodoh, melainkan para mahasiswa dari jurusan terbaik dan universitas-universitas terbaik se-Indonesia. Cukuplah sudah. Kita sudah terlalu terhanyut ke segala hal yang dikemudikan oleh orang-orang barat hari ini. Dan izinkan saya untuk berpesan sedikit kepada Anda: bahwa tidak ada yang namanya terlambat. Kita bisa sama-sama mulai mempelajari Islam toh saya juga masih sama-sama belajar. Kita lihat lagi bagaimana dulu ketika dunia ini dikemudikan oleh pemimpin-pemimpin muslim. Kita lihat lagi bagaimana cara pandang yang benar terhadap kehidupan ini. Kenapa? Karena penyesalan itu sakit sekali. Bayangkan jika kita justru terbangun di alam kubur dan menyesal bahwa ternyata kehidupan yang benar adalah kehidupan yang berdasarkan aturan Islam. Jika demikian, itu adalah seburuk-buruknya penyesalan. Karena kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa menyesali apa yang sudah kita perbuat.

Lalu, terkait dengan mengatasinya. Lihat, melalui kisah kedua bagaimana Islam memberitahu kita cara menunjukkan jati diri kita di hadapan orang lain. Islam zaman dulu dan hari ini sama-sama selalu dikaitkan dengan "orang-orang lapar", penyakitan, tertindas, dan lain-lain. Lalu, Rasulullah justru menyuruh kita untuk menunjukkan kekuatan kita di hadapan mereka semua. Selama mereka melihat kita, tunjukkan bahwa kita adalah orang yang kuat dan hebat. Sampai-sampai orang lain berpikir "gile ini orang ga ada matinya". Tunjukkan kekuatan kalian dan jangan justru mengeluh dengan apa yang dihadapi. Semua orang menghadapi berbagai masalahnya masing-masing dan itu adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada kehidupan yang berjalan tanpa masalah. Maka, tunjukkan bahwa kita sebagai umat Islam itu kuat, tidak seperti apa yang mereka pikirkan terhadap kita. Sekalipun karena kekuatan itu, membuat kita ketika masuk ke dalam kamar kita masing-masing, langsung tepar karena kelelahan.

Terakhir, melalui kisah ketiga, kita belajar tentang pamer. Banyak kisah sebenarnya tentang harta dan kemewahan yang dihadapkan dengan umat Islam. Hanya saja, perlu diketahui melalui kisah tersebut bahwa orang sekaya Abdurrahman bin Auf pun menangis ketika ia terus menerus menjadi orang kaya dan tidak bisa miskin. Poin yang saya maksud adalah: it's okay kalau kita hari ini ataupun kelak adalah orang kaya sehingga membuat kita bisa dengan nyaman memakan makanan enak di tempat yang nyaman terus menerus. Tapi, perhatikan bagaimana pola pikir yang harus dimiliki oleh orang-orang kaya. Perhatikan pola pikirnya Abdurrahman bin Auf di kisah tersebut. Ia bukan justru berhusnudzon kepada dirinya sendiri bahwa kenikmatan-kenikmatan yang diterimanya hari itu adalah karena berbagai sedekah dan amal solehnya selama ini. Ia malah bersu'udzon kepada dirinya sendiri hingga berkata bahwa yang ia khawatirkan adalah kenikmatan ini adalah balasan yang telah Allah berikan di dunia sebagai ganti dari kebaikan-kebaikannya selama ini. Maksud ucapannya apa, sih? Ia hanya takut kalau segala kekayaannya, makanan-makanan enak, tempat-tempat nyaman yang dimilikinya adalah balasan dari Allah atas kebaikan-kebaikannya sebelumnya, sehingga nanti di akhirat yang tersisa adalah siksaan Allah semata.

Kesimpulan
Saya menghapus akun sosial media saya karena alasan yang saya miliki sendiri. Saya hanya ingin berpesan bahwa semakin kita dewasa, semakin penting bagi kita untuk mulai berpikir dan bersikap sesuai dengan apa yang benar. Saya tidak lantas memboikot instagram. Saya justru masih memiliki akun instagram rahasia yang isinya hanya untuk mengetahui informasi-informasi terkait dakwah ataupun terkait pemerintahan dan up to date apa yang sedang terjadi hari ini di berbagai penjuru dunia (boong deng, sekalian buat liat Kirana juga). Melalui instagram juga saya bisa melihat kualitas umat islam hari ini seperti apa, dan sampai detik ini saya melihat, sih, masih belum bisa bangkit. Masih terpecah belah karena politik, masih banyak yang pacaran (apalagi yang berjilbab), masih banyak yang selfie (apalagi selfie sambil kasih hadits-hadits motivasi sumpah itu alay banget), dan lain-lain. So, gunakan akun sosial mediamu untuk menjadi orang yang lebih baik saja. Jangan justru kita menyesal kelak karena melalui sosial media tersebut justru mengalir dosa-dosa kita yang tiada putusnya. Foto-foto perempuan misalnya yang suka selfie atau suka mengumbar aurat, toh selain kalian pamer demi menuai pujian, kalian juga menuai rentetan dosa-dosa yang terus menerus mengalir melalui pandangan orang-orang yang bukan muhrim. Be careful, be gentle, be smart, be responsible. Itu yang terpenting. Karena neraka panas coy. Kemarin saya kesiram air mendidih aja perihnya ampe sekarang nih.

Minggu, 16 April 2017

Memperbaiki Kebobrokan Saya 1: Gempa Bumi & Tsunami

Saya, bisa dikatakan, ketika kecil adalah seorang anak yang nakal. Saya rewel, sering bertengkar dengan kakak saya, sering berontak jika keinginan tertentu tidak terpenuhi, sering kabur dari rumah, sering berkelahi dengan teman sebaya, dan sebagainya. Saya masih menyadari itu sampai hari ini. Masih tersimpan di memori saya bahwa suatu ketika saya pernah menjadi seorang yang sangat nakal. Di kelas 2 SD, saya pernah bertengkar dengan salah seorang teman saya hingga memecahkan salah satu jendela kelas. Tentu saja, hal itu membuat ayah saya harus dipanggil ke kantor sekolah pagi itu dan membuat saya diharuskan pulang ke rumah, tidak boleh melanjutkan sekolah pada hari tersebut. Di kelas 3 SD, saya pernah menempeleng kepala salah satu teman saya yang perempuan. Ia pada saat itu adalah teman cukup dekat, tinggal di satu perumahan dengan saya, kemudian ketika sedang bercanda saya pun menempeleng kepalanya dengan cukup kencang hingga ia menangis. Teman saya tersebut pun pada akhirnya mengadukan kejadian tersebut ke guru dan ibunya, membuat saya benar-benar harus merasakan betapa tidak enaknya dampak dari perbuatan tersebut. Sejak peristiwa itu, saya benar-benar pertama kali melihat bagaimana seorang ibu-ibu marah hingga melotot kepada saya. Di samping itu, setelah peristiwa itu, saya harus duduk di kursi yang sudah ditentukan oleh guru saya alias tidak boleh memilih tempat duduknya sendiri. Hingga sesuatu terjadi di kelas 3 semester 2. Sesuatu yang mungkin kita sering menyebutnya dengan sebutan: Hidayah.

Pagi itu adalah hari ketiga saya di Jogja, tepatnya hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006. Libur 4 hari berturut-turut di tengah kesibukan dunia kantor dan sekolah, membuat saya yang berasal dari keluarga Pegawai Negeri Sipil tergoda untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Adalah momen yang sangat jarang memang, karena keluarga saya biasanya hanya pergi ke Jogja di setiap momen Lebaran saja. Tapi, kali ini, Jogja seakan berbisik di telinga keluarga kami, meminta kami untuk berkunjung ke sana. Sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di hari sabtu tersebut. Selama saya di Jogja, tidak pernah terbesit firasat akan hadirnya fenomena-fenomena yang pada akhirnya akan merubah jati diri saya tersebut. Saya juga bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga religius. Saat itu, saya masih berumur 9 atau 10 tahun dan saya sudah disunat setahun sebelumnya. Tapi, tetap saja saya tidak melaksanakan shalat fardhu secara full 5 waktu, puasa Ramadhan pun tentu saja masih bolong-bolong. Saya tidak pernah terpikirkan hal-hal lain, seperti apa makna hidup ini, kemana kehidupan ini akan berakhir, ada tidaknya hari akhir, dan sebagainya. Yang saya tahu pada saat itu hanyalah main, sekolah, beli tas baru, beli sepatu baru, berkumpul bersama saudara-saudara saya, dan lain-lain. Hingga hari itu akhirnya tiba, membuat pandangan saya terhadap dunia menjadi jauh berubah dan jauh berbeda.

Sekitar pukul 6 pagi, di pusat kota Jogja. Saat itu saya sedang dalam posisi tidur terlentang di depan tv, ngulet sambil berbincang-bincang dengan Ayah saya yang juga sedang tiduran di sebelah saya sambil menonton tv. Di sebelah tv ada sebuah pintu yang langsung terhubung dengan ruang tamu dan teras rumah. Di sana saya melihat kakak saya yang sedang tengkurap di atas sofa dan sesekali ikut berbincang dengan saya dan Ayah saya. Di belakang saya, terdengar suara ibu-ibu yang nampaknya sedang berbincang-bincang sambil memasak di dapur, saya asumsikan Ibu saya berada di sana bersama bulik-bulik saya. Semuanya berlangsung sangat normal seperti pagi hari biasanya, hingga getaran kecil mulai saya rasakan.

Saat itu, sekitar 20 detik awal, saya, Ayah saya, dan kakak saya nampaknya sama sekali belum khawatir tentang apa yang akan terjadi. Di awal ketika getaran kecil itu mulai terasa, Ayah saya bertanya kepada saya dan kakak saya: "Ini getaran apa ya?". Lalu, saya secara spontan langsung menjawab: "Ada truk lewat depan rumah kali", kakak saya yang nampaknya tidak melihat truk ataupun kendaraan bermuatan besar lewat di depan rumah pun lantas membalas: "Pesawat jatoh kali ya? Ngarah ke sekitar sini?". Saya sempat berpikir ketika kakak saya berkata seperti itu. Logis memang, karena rumah saya berada di jalur terbangnya pesawat yang hendak landing di Adisucipto. Namun, ada yang lucu. Kalau memang ada pesawat hendak jatuh ke sini? Kenapa di antara kami bertiga tidak ada yang berdiri untuk menyelamatkan diri? Atau setidaknya memastikan apakah benar ada pesawat yang jatuh atau tidak? Yang saya lihat, justru kami bertiga masih tetap tidur-tiduran di tempat kami masing-masing tanpa ada satupun yang tergerak untuk berdiri. Hingga getaran perlahan mulai mengencang, Ayah saya berdiri dengan cepat, berjalan ke luar rumah sambil bertanya dengan nada yang agak tinggi, "Ini merapi kenapa ya? Masa sih erupsi? Kayaknya statusnya masih siaga..". Saya masih mendengar ucapan Ayah saya tersebut, tapi belum sampai ucapannya selesai, sosok Ayah saya sudah tidak saya lihat karena terhalang tembok yang membatasi ruang tamu dan ruang nonton tv. Selepas ucapan Ayah tersebut, kondisi berubah menjadi hening untuk beberapa saat, tidak ada yang menjawab pertanyaan Ayah. Hingga... tiba-tiba Ayah saya berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak "Semuanya keluaar!!! Gempa!! Gempa!!". Saya lantas kaget, tapi masih tetap tiduran karena masih sangat ngantuk. Saya lihat kakak saya sudah bangun dan berdiri dengan wajah yang ketakutan sambil menghadap ke dalam rumah. Ayah saya tidak berhenti di ruang tv, ia langsung menuju dapur untuk menyuruh Ibu dan bulik-bulik saya segera keluar rumah. "Mama, kompor jangan lupa dimatiin!", ucapnya yang terdengar sangat keras. Semuanya lantas berlari ke luar rumah. Ibu saya dan bulik-bulik saya berlari terlebih dahulu. Ayah saya lalu ikut berjalan cepat sambil menyeret kaki saya hingga sampai di pintu ruang tamu. Saya lalu berdiri dan langsung berlari menuju jalan depan rumah.

"Andhika! Adhita! Sini nak!!!", sesampainya di luar rumah yang saya ingat adalah teriakan Ibu saya yang memanggil-manggil nama saya dan kakak saya. Saya ingat betul saat itu semua tetangga juga ikut memenuhi jalan dan saling berpegangan satu sama lain. Kondisi jalan sangat padat dan banyak sekali orang. Ada seorang bapak-bapak yang masih menggunakan sehelai handuk yang menutupi bagian lutut sampai pusarnya, ada ibu-ibu yang menggunakan mukena, ada anak-anak yang sudah berseragam dan siap untuk sekolah, dan lain-lain. Semua orang panik. Saya ingat ketika orang-orang sambil berpegangan tangan menunjuk ke arah genteng masjid yang satu per satu berjatuhan. Di detik itu juga, saya sama sekali tidak merasakan takut. Justru, yang saat itu ada di benak saya adalah perasaan-perasaan seperti 'keren bangeett! kapan lagi ngerasain kayak gini...' atau 'gile, anak depok mana lagi yang punya pengalaman keren ngerasain gempa kenceng banget kayak gini...'. Hingga akhirnya gempa pun berhenti dan, jujur saja, yang ada di benak saya pada saat itu adalah perasaan ingin merasakan gempa ini lagi. Satu hal yang masih saya ingat tepat setelah gempa itu berlangsung adalah ucapan Ibu saya yang membisiki saya dan kakak saya. Ia berbisik, "Mas, Enta, tadi udah pada sholat subuh belum?". Lalu saya menjawab dengan polos, "belum", tanpa tahu apa maksud pertanyaan Ibu saya. Saya lupa jawaban kakak saya apa. Lalu Ibu saya lanjut berbisik, "Tuh kan, Allah marah tuh gara-gara ngga sholat subuh. Besok-besok sholat subuh terus yaa.". Saya tidak menangguk pada saat itu. Saya juga tidak lantas masuk ke rumah untuk sholat subuh. Saya hanya berpikir dan mengazamkan diri dalam hati bahwa setelah ini saya tidak akan meninggalkan sholat subuh.

Sekitar pukul 8:30 pagi, di pusat kota Jogja. Gempa sudah berlalu, tapi kami masih berada di luar rumah karena khawatir akan terjadi gempa susulan. Dan benar saja, beberapa gempa susulan terjadi kurang lebih sampai 6 kali. Semua orang panik meskipun itu hanyalah gempa dengan kekuatan yang kecil. Ayah saya langsung menelfon salah seorang tetangga saya, Pak Imam, untuk memintanya mencaritahu info ter-update mengenai gempa saat itu. Kenapa meminta tolong ke Pak Imam untuk mencari tahu informasi? Karena setelah gempa tersebut, listrik di Jogja secara keseluruhan padam dan saat itu belum ada facebook, sehingga benar-benar tidak ada informasi yang masuk. Lalu, Ayah saya mengajak kakak saya pergi naik motor untuk melihat kondisi-kondisi kota dan merekamnya dengan menggunakan handycam, sedangkan saya dilarang untuk ikut. Kurang lebih sekitar 20 menit kemudian, Ayah dan Kakak saya pulang ke rumah dengan membawa segudang informasi, dari mulai memperlihatkan (lewat rekaman handycam) kondisi Jogja yang ternyata banyak sekali bangunan yang rubuh, cerita beberapa orang pengendara yang menyaksikan bahwa dataran di lapangan alun-alun terlihat bergelombang saat terjadi gempa, dan informasi gempa dari Pak Imam. Informasi dari Pak Imam tersebut mengatakan bahwa gempa yang terjadi barusan, berkekuatan 5,9 SR yang berasal dari Pantai Selatan Jogja.

Sekitar pukul 10 pagi, melihat kondisi yang nampaknya sudah mulai bersahabat, saya diajak oleh Ayah saya untuk ikut membeli gudeg langganan di pinggir jalan Solo, tidak jauh dari rumah. Saya digonceng di tengah, diapit oleh Ayah saya yang mengendarai motor dan kakak saya yang duduk di belakang saya. Saya berangkat dengan tidak membawa apa-apa, kecuali sebuah handycam yang saya genggam di tangan kanan saya. Sejak kecil memang ada dua ciri khas saya dan kakak saya. Saya dipercaya untuk memegang handycam jika bepergian ke mana-mana, sedangkan kakak saya dipercaya untuk memegang kamera canon jadul. Memang seakan sudah menjadi spesialis masing-masing, saya dalam hal rekam-merekam sedangkan kakak saya dalam hal foto-memfoto. Lalu, sesampainya di tempat gudeg pinggir jalan tersebut, saya lihat antrean cukup panjang. Nampaknya, memang banyak orang yang memilih memesan gudeg daripada memasak di rumah. Lalu, di tengah-tengah mengantre tersebutlah fenomena tak terlupakan selanjutnya terjadi. Apa itu? Yaitu isu Tsunami.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa jalan Solo yang saya maksud adalah Blok Jalan Solo yang dekat dengan rumah saya. Hari ini, jalan solo yang saya maksud tersebut adalah dari perempatan Empire XXI hingga (Demangan) hingga ke perempatan Galeria Mall. Jalan tersebut sangat lebar, ada 4 lajur dimana keempat lajur tersebut semuanya satu arah ke arah barat (arah Galeria Mall). Jika dilanjutkan ke arah barat, setelah perempatan Galeria Mall itu masih disebut dengan nama Jalan Solo hingga ke perempatan selanjutnya, yaitu perempatan Gramedia. Setelah itu baru nama jalannya berubah menjadi Jalan Jendral Sudirman dan juga sudah tidak satu arah lagi melainkan dua arah, walaupun total lajurnya tetap 4 (dua ke arah timur dan dua ke arah barat). Jadi, Jalan Solo yang saya maksud itu adalah jalan satu arah ke arah barat dari mulai perempatan demangan sampai ke perempatan Gramedia.

Apa yang terjadi di Jalan Solo tersebut? Kondisi saat itu, tidak sedikit kendaraan yang bergerak ke arah barat melalui jalan tersebut. Pandangan saya yang tadinya mengarah ke Mbah Penjual Gudeg tersebut, seketika beralih 180 derajat ke arah jalan raya. Saya beralih karena suara klakson kendaraan bermotor yang terus-terusan berbunyi dan tidak hanya berasal dari satu kendaraan saja, melainkan banyak kendaraan. Itulah pemandangan yang tidak pernah saya lupakan sampai saat ini, yaitu berbagai kendaraan berbondong-bondong bergerak dari arah barat ke arah timur (melawan arah) sambil mengklakson kendaraannya dan ada pula yang teriak-teriak mengatakan "TSUNAMIIIII!!!!! Airnya sudah sampai kali codee!!"

Panik memang. Saya juga panik. Lucunya, saya putar balik pandangan saya ke arah Mbah Penjual Gudeg tadi dan orang-orang yang mengantre, mereka semua sudah lari terbirit-birit hingga meninggalkan dagangan gudegnya tersebut. Lalu, di sebelah saya kakak saya berteriak-teriak kepada saya "Ayo Enta! Naik ke atas motor!", sambil memperlihatkan wajah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, wajah panik hingga menangis. Lalu, saya secara spontan menjawab "Ga mau! Enta maunya di sini aja!", sambil berpegang ke tiang listrik di sebelah saya. Saya menjawab demikian karena dua hal: (i) saya kaget dan bingung sekali apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan, (ii) saya ingin sekali merekam kejadian ini lewat handycam yang saya pegang sebagai kenang-kenangan dan untuk bisa dijual ke Metro tv sebagai liputan video amatir yang direkam oleh anak berusia 10 tahun. Jujur, itu yang pada saat itu saya pikirkan. Lalu, kakak saya mayakinkan saya untuk segera pergi dari sana, "Enta ini Tsunamii!!! Ini kayak di Aceh kemaren.....!!". Lalu kakak saya menangis sambil berkata ".....gabisa berenang lagi...".. Mendengar ucapan kakak saya bahwa ini adalah Tsunami seperti di Aceh, saya langsung membayangkan benar-benar fenomena Tsunami seperti di Aceh, membuat saya langsung panik dan ikut menangis. Ayah saya lalu menenangkan kami berdua dan langsung menggonceng kami menuju ke rumah. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah inilah, saya benar-benar merasa sangat bangga memiliki seorang ayah seperti Ayah saya. Ayah saya selain menggonceng dua anak kecil, yaitu saya dan kakak saya, ia juga berteriak-teriak menenangkan orang-orang yang menangis ketakutan, shock, dan benar-benar sudah hilang akal sehatnya karena benar-benar merasa dihadapkan langsung dengan musibah ini. Ia terus mengucapkan "Ga mungkin Tsunami!!! Tsunami itu dari selatan! Ga mungkin dari barat! Lagipula ini jaraknya jauh banget! Ga mungkin airnya sampai ke sini!!". Saya saat itu tidak mengerti dengan apa yang Ayah saya ucapkan, yang saya mengerti adalah selatan dan utara saja. Saya berada di jalan solo which is di sebelah utaranya rumah saya, dan bergerak menuju rumah saya yang berada di selatannya jalan solo. Tapi, selama perjalanan tidak ada air laut sama sekali. Saya juga benar-benar melihat betapa wajah ibu-ibu yang tadinya menangis karena panik bukan main sambil memeluk anaknya, berubah menjadi lebih tenang setelah Ayah saya menenangkannya dengan logika berpikir sederhana tersebut. Hingga, sesampainya di jalan depan rumah saya, saya lihat dari kejauhan Ibu saya, om saya, dan bulik-bulik saya sedang panik di depan rumah, tetapi untungnya tidak ikut berlari. Sedangkan di ujung jalan (langsung terlihat jalan raya), terlihat orang-orang berlarian di jalan raya menuju ke arah utara. Ayah saya dari kejauhan sudah berteriak untuk meminta mereka semua agar tetap tenang, termasuk untuk tetangga-tetangga saya. Menjelaskan bahwa tidak terjadi Tsunami dan kalaupun memang terjadi, tidak akan sampai ke tengah kota.

Itulah sebenarnya rangkaian musibah yang terjadi pada hari itu. Gempa 5,9 SR yang kemudian disusul dengan beberapa gempa susulan, hingga terakhir diakhiri dengan isu Tsunami yang menggegerkan seisi Jogjakarta. Secara musibah atau penderitaan fisik, sebenarnya isu Tsunami menjadi penutup hari itu. Tapi, secara mental, musibah ini belum berakhir. Semua warga Jogja hari itu diminta untuk tidak tidur di dalam rumah, alhasil semua orang kepala keluarga mengeluarkan karpet dan beberapa kasur ke luar rumah. Listrik juga padam hingga malam hari, sehingga warga hanya berpegang pada lampu baterai dan radio. Satu lagi yang sangat mengguncang mental adalah prediksi yang disampaikan salah seorang entah professor atau ahli gempa atau ilmuan, saya sendiri lupa, mengatakan bahwa malam ini sekitar jam 11 malam akan terjadi gempa dengan kekuatan sekitar 11 SR mengguncang Jogjakarta. Kabar tersebut disebar melalui radio dan didengar semua orang, termasuk saya yang mendengar langsung ucapan tersebut keluar pertama kali di radio. Siapa yang tidak shock mendengarnya? Pernyataan tersebutlah yang benar-benar sangat ditakuti seluruh warga di sisa hari tersebut. Bayangkan jika benar-benar terjadi gempa 11 SR? Bangunan-bangunan akan runtuh, bahkan Tsunami bisa benar-benar terjadi. Aceh saja yang Tsunaminya sebesar itu hanya gempa dengan kekuatan 9,2 SR, bagaimana jadinya bila 11 SR? Itulah yang benar-benar ditakuti oleh seluruh warga. Saya pada saat itu hanya dapat berhadap jika hal tersebut benar-benar tidak terjadi.

Hari semakin gelap, kedua orang tua saya sempat bilang bahwa kita akan pulang di malam hari ini, tapi masih ragu-ragu dengan ucapannya, saya tidak tahu kenapa. Hingga saya, sampai pada kesimpulan bahwa kami akan tetap pulang hari Ahad dan berusaha melewati apa yang akan terjadi malam ini bersama-sama. Pada sekitar pukul 10 malam, saya memutuskan untuk tidur, karena disamping saya memang sudah ngantuk, saya tidak ingin terus menerus dihantui rasa takut akan terjadinya gempa 11 SR itu. Lagipula jika memang benar-benar gempa, saya akan dibangunkan oleh orang-orang di sekitar saya. Kemudian saya terbangun dengan kondisi sedang tidur seorang diri di depan rumah saya. Di sebelah kiri saya terdapat sebuah lampu baterai yang sekaligus radio masih terus menyala. Di sebelah kanan saya gelap, di depan dna belakang saya terdapat orang-orang yang berjarak kurang lebih 20 meter dari tempat saya tidur. Jadi, ya saya benar-benar bisa dibilang tidur seorang diri. Setelah bangun, saya lantas masuk ke dalam rumah untuk menemui keluarga saya dan langsung disambut dengan kakak saya yang sedang memindahkan tas ke teras rumah. Lalu, saya bertanya, "Jam berapa sekarang?". Kakak saya menjawab, "jam 12" sambil berjalan mengambil tas lainnya di dalam kamar. Hati saya nampak seperti 'plong' mendengar ucapan tersebut. Saya lanjut mengekor kakak saya sambil terus bertanya, "Tadi ga ada gempa??". "Ga ada", jawab kakak saya. "Kita pulang malam ini.". Perasaan saya, lantas, benar-benar lega setelah mendengar bahwa info gempa tersebut ternyata hanyalah hoax dan tidak terjadi. Ditambah lagi malam ini kami akan menerobos kegelapan kota Jogja dan DIY untuk pulang ke Depok. Saya jadi semakin excited.

Segala perjalanan hidup yang saya alami hari itu pun diakhiri dengan perjalanan pulang ke Depok yang paling memorable dalam hidup saya. Karena saat itu kami mbenar-benar merasa seperti kejar-kejaran dengan gempa. Kami menjauh dari pusat gempa dan bergerak  di tengah kegelapan. Kali itu juga pertama kali saya merasa naik mobil di tengah sebuah kota yang mati, karena benar-benar kota tersebut gelap sekali dari Jogja hingga keluar DIY. Di samping itu, itu juga menjadi rekor perjalanan tercepat kami sekeluarga, karena berhasil sampai Bandung pada pukul 6:30 pagi. Keren, kan? Berangkat jam 12:30 dan sampai di Bandung jam 6:30 pagi. Hanya 6 jam Jogja - Bandung. Sesampainya di Bandung, kami lantas stay di rumah saudara saya dan sore harinya barulah melanjutkan perjalanan kami ke Depok.

Itu adalah kisah yang pertama kali saya alami dan benar-benar merubah diri saya. Saya merasakannya betul. Sejak saat itu, saya seperti melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh anak-anak seumuran dengan saya. Saya seperti memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh anak-anak seumuran saya. Saya ingat ketika teman-teman saya bercerita tentang pulang kampung, bermain dengan teman-temannya, atau berlibur bersama keluarga, saya justru bercerita tentang musibah yang tidak terlupakan ini, tentang orang tua yang wafat, tentang bangunan yang rubuh, dan sebagainya. Saya benar-benar menjadi lebih dewasa sejak saat itu. Saya menjadi lebih dekat dengan keluarga saya sendiri, lebih bangga dengan keluarga saya sendiri, lebih patuh kepada kedua orang tua, lebih menghormati kakak saya, berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain, dan berusaha untuk terus sholat dan mendekatkan diri kepada Allah. Sejak saat itu saya benar-benar mengerti bahwa hidup ini tidak hanya berisikan manusia-manusia saja, melainkan ada Dzat yang mengatur. Ada Dzat yang dapat menciptakan sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh manusia.

Maka, hari ini saya terus berpikir dan bersyukur. Ketika saya melihat salah seorang sepupu saya yang duduk di kelas 6 SD dan bandelnya bukan main, saya ingat tentang diri saya ketika masih kelas 2 SD dan sebelumnya. Lalu, ketika saya berpikir bagaimana cara untuk merubah mereka dan sudah saya coba terus menerus, hasilnya selalu gagal. Kalaupun mereka berubah dan benar-benar menjadi lebih baik, seperti melakukan sholat, sopan pada kedua orang tua, membantu pekerjaan orang tua, dan lain-lain, itu hanya berlaku mungkin satu dua hari saja. Setelah itu mereka kembali ke sifat normalnya. Kembali meresahkan orang tuanya. Saya lantas berkata dalam hati, "memang hidayah itu hanya kehendak Allah semata". Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan cenderung bergerak di "jalur orang-orang religius" dan lebih cenderung mem-branding diri saya sebagai seorang yang religius, padahal saya bukan berasal dari keluarga yang religius, padahal saya boleh saja melakukan kemaksiatan-kemaksiatan standard, seperti pacaran, tos-tosan sama perempuan, atau mungkin merokok. Saya hari ini baru menyadari bahwa saya sendiri bahkan tidak mengerti kenapa saya cenderung menyukai hal-hal seperti ini. Hingga pada akhirnya saya menyadari, mungkin inilah yang memang Allah kehendaki bagi saya. Mungkin di balik ini semua ada kedua orang tua saya yang senantiasa mendoakan saya, sehingga saya senantiasa berada di jalan ini dan senantiasa dekat dengan orang-orang yang baik. Mungkin di balik ini semua ada orang-orang yang dulu pernah diperlakukan baik oleh kedua orang tua saya, lalu mendoakan kebaikan bagi kedua orang tua saya. Karena saya yakin, faktor-faktor semacam itulah yang mungkin membuat saya hari ini dapat mengenal agama dengan cukup baik, dapat berpikir jernih dalam menghadapi hidup, dewasa, dan yang lebih penting adalah jangka panjang. Tidak hanya memikirkan dunia, melainkan juga memikirkan kehidupan akhirat.

Satu hal yang saya ingin sekali wujudkan adalah, saya ingin sekali membahagiakan kedua orang tua saya di akhirat kelak. Membuat kedua orang tua saya tidak mengalami sedikitpun siksa kubur nantinya di alam barzah. Membuat kami sekeluarga dapat berkumpul bersama di surga. Tapi, nyatanya tidak mudah. Keluarga saya masih terlilit dengan dunia riba, saya masih harus terlibat dengan dunia pengetahuan barat dan masih harus lulus dari ini semua, dan lain-lain. Sulit untuk menyadarkan orang lain bahwa kehidupan akhirat nanti hanya ada dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Sulit menyadarkan orang lain bahwa masuk surga itu tidak semudah yang kita pikirkan dan tidak cukup dengan amalan-amalan kita yang hanya sekadar puasa, shalat fardhu di masjid, dan semacamnya. Kita masih suka bergosip, masih suka su'udzon, masih suka berkata kasar, melihat hal-hal yang buruk, mendengarkan musik, dan lain-lain. Saya, di balik ini semua, hanya ingin membayar segala pengetahuan yang saya punya ini dengan surga. Saya hanya ingin membayar doa-doa ibu saya yang berujung pada kebaikan yang ada pada diri saya ini dengan surga untuknya, Saya hanya ingin membayar ini semua dengan kebaikan yang sesungguhnya, dengan kenikmatan yang sesungguhnya. Bukan kenikmatan yang sementara di sini, bukan dengan kebaikan-kebaikan yang sementara di sini. Karena saya sangat takut, ketika kebaikan dan kenikmatan yang terus menerus diberikan di dunia ini, ternyata adalah kebaikan dan kenikmatan yang memang sengaja Allah berikan di dunia, hingga di akhirat kelak tidak ada yang tersisa bagi kita, kecuali sisaan dariNya.

Semoga Allah menjaga saya dan keluarga saya. Memberikan hidayah kepada yang membaca tulisan saya ini. Memudahkan segala urusannya di dunia ini. Dan menjadikannya orang-orang yang sadar untuk mulai belajar ilmu agama islam.

Ditulis oleh Adhita Prananda
di Smart Lounge,
Lippo Plaza, Yohyakarta.

Rabu, 12 April 2017

Unik Cara Allah Memperlihatkan Kebenaran

Kalau kalian baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Positioning Umat Islam", kalian akan menemukan saya sebagai seseorang yang berada di #TeamPro atau berada di pihak yang beranggapan bahwa ke depan Islam akan terus bangkit dan membaik. Kalau kalian pernah menonton film 2012 dan tau sosok orang "gila" yang tinggal di dalam sebuah mobil van dimana kerjaannya adalah menggenggam erat ramalan dan menyampaikannya lewat saluran radio bahwa kiamat itu benar-benar sudah dekat sesuai dengan apa yang ia yakini. You know what, saya merasa bahwa diri saya kurang lebih mirip dengan sosok tersebut. Maksud saya, tidak keseluruhannya sama melainkan hanya di beberapa bagian saja, seperti bagaimana sosok laki-laki tersebut sangat percaya akan penelitian / ramalan yang digenggamnya, hingga hal tersebut membuat dirinya seakan gila jika dibandingkan dengan pemikiran orang normal lainnya meskipun pada akhirnya ia benar. Saya memang tidak seharusnya menjadi orang "gila" semacam itu. Tapi, ya memang seperti inilah kondisi saya. Seseorang yang masih belajar tentang Islam itu sendiri, tapi di sisi lain saya sangat percaya bahwa ini adalah sebenar-benarnya petunjuk tentang apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Di tulisan saya kali ini, saya ingin menuangkan apa yang selama ini saya pikirkan berkaitan dengan fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini, diantaranya:

1. Kebangkitan Islam
Well, kalimatnya memang terkesan terlalu optimis dan terlalu mirip dengan gerakan-gerakan Islam yang rasanya ingin membangun negeri Islam sendiri saja. Tenang. Maksud saya bukan itu. Kalau kita perhatikan bagaimana Indonesia di 10 tahun terakhir misalnya, sejak saya SD hingga akhir-akhir ini, tidakkah Anda melihat ada yang aneh? Kalau saya, saya merasa ada yang aneh. Dulu, saya tidak melihat Islam yang sebegitu munculnya di masyarakat. Maksud saya, apa yang Anda tau tentang islam di 10 tahun yang lalu? Kiamat Sudah Dekat? Para Pencari Tuhan? Islam KTP? Snada? Gradasi? Pengajian ibu-ibu di TPI atau Indosiar? dan lain-lain. Itu adalah islam yang saya kenal sekitar 5-10 tahun yang lalu. Ya, Islam masih dalam level packaging komedi di televisi, nyanyi-nyanyian, dan nilai-nilai yang disampaikan pun masih sebatas melarang mencuri, mengajak untuk sholat, tidak boleh mencaci orang lain, dan semacamnya.

Hari ini, Islam sangat berbeda. Islam di televisi sudah tidak lagi sebatas tentang nyanyian ataupun komedi melainkan mulai diisi dengan nilai-nilai yang menyeru untuk shalat berjama'ah di masjid, mendalami kisah para sahabat yang mulia (bagaimana mereka memperjuangkan islam, berperang demi islam, disiksa bahkan mati demi islam), larangan dan hukuman bagi orang yang mengumbar aurat, larangan dan hukuman bergosip, RIBA, dan lain-lain. Islam sudah jauh lebih berkembang dan jauh lebih mendalam kajiannya. Banyak sekali artis dan orang-orang yang kini mulai berhijab dan kita sama-sama doakan semoga semakin hari orang-orang tersebut semakin syar'i dalam mengenakan hijab mereka. Kajian-kajian sunnah yang 5-10 tahun yang lalu tidak pernah saya dengar sedikitpun, kini dapat saya temui dengan mudah di berbagai tempat dan tidak hanya di masjid-masjid kampung atau masjid-masjid perumahan saja, bahkan di dalam Mall pun ada.

Kita lihat bagaimana cara Allah mengangkat dan menyatukan umat Islam hari ini. Bagaimana dengan satu ucapan dari lisan seorang non muslim yang qodarullah terpeleset, mengakibatkan seluruh umat muslim di Indonesia ini muncul ke permukaan. Mereka yang merupakan muslim sejati marah dan menuntutnya, mereka yang masih tidak terlalu paham mulai bertanya-tanya, dan mereka yang sebelumnya sama sekali tidak tahu akhirnya mulai mendengar dan mencari tahu. Lantas, apakah ini pertanda Islam sudah membaik? Ya, jelas jawabannya ya. Tapi, apakah ini sudah cukup? Jawabannya belum, masih sangat belum. Ini hanyalah awal dan kualitas umat islam hari ini pun masih jauh dari apa yang seharusnya diterapkan berdasarkan Al Quran dan hadits. (termasuk saya sendiri masih belajar)

2. Terlihat mana yang kokoh dan mana yang rapuh
Saya memilih kata "terlihat" dibandingkan kata "terungkap", karena menurut saya ini masih di awal dan kita semua baru sampai tahap melihat mana yang sebenarnya kokoh dan mana yang sebenarnya rapuh. Jika kita mulai terus "menggali" dan belajar, saya yakin sekali kelak akan terugkap kebenaran dan kebusukan sebenarnya.

Apa yang saya maksud kokoh dan rapuh? Kehadiran Zakir Naik ke Indonesia adalah pembuktian bahwa selama ini bukan Islam lah agama yang rapuh, melainkan agama selain Islam. Kita lihat bagaimana 5-10 tahun yang lalu Islam seringkali dipecah-belah oleh kasus-kasus klasik seperti doa qunut dalam i'tidal, aliran-aliran sesat, dan semacamnya. Hari ini, saya merasa kasus-kasus klasik seperti ini mulai ditinggalkan oleh umat Islam dan mulai beralih ke hal yang lebih mendasar dan lebih worth it, seperti tauhid, menutup aurat, shalat berjamaah di masjid, larangan ishbal, menjaga pandangan, serta hal yang sangat struktural seperti mengangkat pemimpin non muslim, dan hukum riba. Hari ini apakah masih terpecah belah? Saya mungkin akan mengangguk dan menjawab Ya. Tapi, hari ini kita sudah semakin sadar dan cukup pintar untuk mengambil hikmah serta mengetahui siapa yang benar-benar mengerti Islam dan siapa yang "dibayar" untuk seakan membela, padahal berniat menghancurkan Islam dari dalam.

Kasus Zakir Naik menunjukkan kepada kita bahwa Islam ini kokoh, di tulisan saya yang berjudul "Being a Good Muslim" sudah saya jelaskan bahwa Allah sendiri lah yang akan menjaga Islam itu sendiri. Buktinya, hari ini betapa banyak orang yang sudah hafal Al Quran. Sedangkan di umat Kristen itu sendiri, bahkan mereka tidak tahu bahwa ada ayat yang melarang mereka untuk memakan babi dan minum bir. Lantas, kalian masih menganggap bahwa Islam itu rapuh? Think again, dude.

3. Justru mereka lah yang memasarkan Islam
Islam tidak pernah kemana-mana melainkan tetap eksis di muka bumi ini, justru kualitas umatnya lah yang mempengaruhi Islam apakah dipandang baik atau buruk. Sama seperti sebuah keluarga. Pada dasarnya, kedua orang tua kita selalu mengajarkan kita pada hal-hal yang baik, tapi pengaruh yang kita dapat di luar rumah seringkali merubah perilaku kita menjadi buruk. Hal tersebutlah yang berakibat tidak hanya bagi diri kita sendiri yang akan dinilai buruk, melainkan orang tua kita juga akan dinilai buruk karena dianggap telah mendidik kita secara salah. Bukankah kasus Islam juga seperti ini? Apakah islam mengajarkan keburukan? Apa? Pukul anak jika tidak sholat di umur 10 tahun? Believe me guys, that's one of very bright ways to build a wonderful generation. Lah, kan anak zaman sekarang lebih milih main tablet daripada bantuin orang tua, kan? Apalagi disuruh sholat, makin gamau doi. Solusinya? Cobain caranya Rasulullah. Percaya kan sama Rasulullah?

Islam belakangan ini namanya mulai terangkat naik, bukan? Pertanyaannya adalah: kenapa? Kok bisa? Kalau kita tarik ke belakang, saya melihat ada hal yang sangat unik tentang bagaimana Allah mengangkat Islam itu sendiri, khususnya di Indonesia. Islam mulai marak diperbincangkan dimana-mana, semakin terasa keberadaannya, salah satunya karena ucapan terpelintir dari seorang non islam yang membuat semua orang membuka surat Al Maidah ayat 51. Tapi, tidak hanya karena ucapan terpelintir dari satu tokoh non islam tersebut saja. Tokoh lain yang merupakan seorang komedian juga sempat menuduh Zakir Naik yang hendak ke Indonesia dengan tuduhan sebagai orang yang mendanai ISIS walaupun akhirnya resmi meminta maaf. Termasuk salah satu orang (saya ga tau dia artis atau siapa sebenernya) yang saya temui di Instagram, ia juga ditemui telah meminta maaf karena telah mencela ulama, dan banyak tokoh-tokoh lainnya yang secara terang-terangan mencela Islam ataupun ulama di media sosial, kemudian berakhir dengan permohonan maaf. Simak baik-baik peristiwa ini. Bukankah justru orang-orang semakin aware dengan Islam setelah mendengar cacian dari tokoh-tokoh tersebut? Bukankah justru orang-orang semakin aware dengan kehadiran Zakir Naik karena tuduhan-tuduhan tersebut? Bahkan ini membuat sektor "pasar" yang tadinya sama sekali tidak pay attention pada hal-hal semacam ini berubah menjadi lebih memperhatikan dan mencari tahu. Unik sekali, bukan?

Peran dari tokoh-tokoh non muslim tersebut lah yang, qodarullah, berkat tuduhan dan ejekan mereka, tetes keimanan yang masih ada di dalam dada para muslimin hari ini tersentuh dan tergerak untuk bangkit. Ini persis ibarat sebuah kompor yang sebenarnya sudah keluar gasnya, hanya saja kurang sedikit pantikan agar dapat menyala dan mengeluarkan apinya. Ejekan-ejekan dari mereka lah yang justru ibarat korek api yang memantik kompor tersebut sehingga hari ini apinya sudah menyala besar.

Di samping itu, kita lihat hari ini mulai bermunculan pemimpin-pemimpin yang inspiratif dan senantiasa mengajak kita untuk memperbaiki diri. Melalui mereka, kita diajak kembali untuk shalat subuh berjama'ah di masjid, untuk berani berbuat jujur, dan berani melaporkan kejahatan yang ada di sekeliling kita. Di saat kita semua resah dengan kepemimpinan hari ini, pemimpin-pemimpin muslim yang inspiratif tersebut justru hadir melawan arus dan membuat terobosan-terobosan yang membuat orang berbisik "kok bisa? selama ini kemana aja?", seperti Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini.

Islam mulai bangkit dan ke depannya akan terus berkembang, teman-teman. Percaya atau tidak, jika kalian membaca sejarah Nabi Muhammad di Sirah Nabawi-nya, kalian akan menemukan bahwa zaman ini tidak jauh berbeda dengan zaman Jahiliyyah 1400 tahun yang lalu yang bahkan disebutkan di Al Quran. Kebenaran yang hadir itu ibarat sesuatu yang tidak pernah disangka akan hadir di tengah-tengah mereka. Ibarat intervensi yang sangat mengganggu mereka yang sedang nyaman di comfort zone-nya dan mereka yang secara tidak sadar sedang terjebak di routinity trap. Di tulisan saya yang berjudul "Being a Good Muslim", sudah saya tuliskan beberapa hal yang tidak berubah, seperti menyembah patung, berzina, pemikiran, dan lain-lain.

Jika kalian temui Islam hari ini masih ada jeleknya, saya sarankan agar kalian tidak mengejek-ejeknya atau menertawakannya. Karena yang kalian ejek dan tertawakan itu adalah kebenaran yang langsung berasal dari Dzat yang menciptakan kehidupan ini semua, Dzat yang menciptakan Anda, Dzat yang menakdirkan Anda membaca tulisan ini saat ini, dan Dzat yang kelak akan meminta pertanggungjawaban atas diri Anda sendiri di hari akhir. Dan jika setelah semua ini kalian malah kebingungan dalam menjalani hidup ini, ibarat orang yang berjalan di tengah kegelapan yang sangat gelap hingga tidak terlihat sesuatu apapun. Pelajarilah Islam, karena itu adalah kebenaran yang nyata dan itu adalah cahaya bagi kalian untuk menerangi kegelapan yang sedang kalian tempuh.

You know how to walk in the dark?
Just take the light, light it up and hold it. Because, it would shows you which one is the right way and which one is wrong.

Ditulis oleh Adhita Prananda
di Smart Lounge
Lippo Plaza, Yogyakarta.